A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Celebes Mencari Pemimpin - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Celebes Mencari Pemimpin

Jumat, 27 Juli 2012 00:28 WITA
Celebes Mencari Pemimpin
Tak banyak yang mengetahui, ternyata pasangan Joko Widodo  (Jokowi) – Widodo Tjahja Purnama (Ahok), bukanlah peraih suara terbanyak di Pemilukada DKI Jakarta, baru-baru ini. Pasangan ini memang secara meyakinkan unggul  1.847.157 suara dan menyisihkan pasangan incumbent Fauzi Bowo (Foke) – Nachrowi Ramli (Nara) yang meraup 1.476.648 suara.

Namun, suara Jokowi – Ahok itu ternyata bukanlah yang terbesar. Suara mereka masih terkalahkan oleh suara Golongan Putih (Goput) atau yang tak datang ke TPS dengan  2.555.207 orang. (Tribun Timur - Jumat, 20 Juli 2012).

Jadilah Golput menjadi pemenang di Pemilukada DKI Jakarta putaran pertama ini. Sebenarnya, kemenangan Golput di sebuah pemilihan kepala daerah bukanlah hal yang baru. Jauh sebelumnya, di Pemilukada Sulsel tahun 2007 silam, Golput juga memperlihatkan keperkasaannya.

Berdasarkan rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 14 November 2007, menunjukkan pasangan nomor urut satu, Amin Syam-Mansyur Ramly (Asmara) memperoleh 1.404.910 suara (38,76 %), pasangan nomor urut dua Aziz Qahhar Mudzakkar - Mubyl Handaling memperoleh 786.792 suara (21,71%) dan pasangan nomor tiga, Syahrul Yasin Limpo - Agus Arifin Nu`mang unggul dengan perolehan 1.432.572 suara (39,53%). Pasangan Sayang unggul 27.662 suara atau 0,77% dari pasangan Asmara.

Sementara suara yang tidak sah sebanyak 86.032 suara atau sekitar 2,32 persen. Total suara yang masuk sebanyak 3.701.306. Bila dibandingkan dengan DPT terakhir yang mencapai 5.307.131, maka warga masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya di Sulawesi Selatan alias Golput mencapai 1.596.825 atau lebih besar dari perolehan suara yang unggul saat itu, pasangan Syahrul Yasin Limpo - Agus Arifin Nu`mang dengan perolehan 1.432.572 suara.

Jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam banyak Pemilukada di Indonesia berdasarkan catatan memang relatif terus meningkat. Dari hasil Pilkada Provinsi Sumatera Barat 2005 misalnya, dari jumlah pemilih sebanyak 2.927.904 jiwa yang tidak memilih sebesar 35,70% (KPU Sumatera Barat, 2005); di Provinsi Bangka Belitung 2006, dari jumlah pemilih sebanyak 731.709 jiwa yang tidak memilih sebesar 39,98% (KPU Bangka Belitung, 2006).

Secara teknis, kemenangan Golput itu sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelum pemilihan digelar. Bahkan, KPU sebagai operator pemilihan sudah bisa mengantisipasinya jauh-jauh hari karena Golput ini bukanlah wilayah abu-abu yang sulit diprediksi. Namun semua strategi sosialisasi pemilihan yang digenjot KPU kemudian hari biasa menjadi lumpuh di lapangan karena sikap masyarakat yang memang sudah tak percaya dengan sstem demokrasi dan juga figur yang ditawarkan.

Rentetan kemenangan Golput itu seharusnya segera dihentikan. Pasalnya, jika kondisi itu terus menguasai Pemilukada, maka bisa mempengaruhi legitimasi dari pemenang itu sendiri. Boleh-boleh saja mereka tampil sebagai pemenang, tapi karena sebagian besar masyarakat daerah itu tak datang ke TPS maka tingkat kepercayaan warga kepada sang pemenang juga berkurang.

Lalu, siapa yang paling bertanggungjawab atas hasil memiriskan itu. Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentu saja akan mendapat tempat pertama untuk disalahkan. Memang, berdasarkan regulasi dan perundang-undangan tentang Pemilu, salah tugas utama dari lembaga ini adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu. Namun perlu disadari KPU tak bisa berjalan sendiri dalam mengatasi persoalan ini. Peran serta masyarakat terutama pelaku politik dan partai politik juga mendapat tugas sama dan sejajar dengan KPU dalam hal peningkatan partisipasi masyarakat dalam Pemilu ini.

Ada banyak alasan mengapa orang tak datang ke TPS. Alasan teknis misalnya, seperti adanya pemilih yang tak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) atau tercatat dalam daftar pemilih tetapi tak mendapat kartu pemilih atau surat undangan, bisa sangat berpengaruh. Namun KPU bisa mengantisipasi hal ini dengan berbagai terobosan.

Seperti misalnya, adanya regulasi untuk perbaikan daftar pemilih dan adanya masa sanggahan jika masih tetap tak terdaftar. Untuk yang tak mendapatkan kartu pemilih atau undangan memilih, KPU biasanya memberikan kebijakan dengan membolehkan mereka tetap datang ke TPS dengan hanya menunjukkan KTP asalkan terdaftar dalam DPT. KPU juga mengintensifkan sosialisasi massif untuk mengatasi masalah ini.

Jika alasan teknis seperti di atas yang membuat pemilih tak bisa datang ke TPS relatif bisa ditangani, maka hal berbeda ketika alasannya adalah  politis, logis, dan apatis. KPU relatif sulit untuk menjangkau jika pemilih itu memilih tak menggunakan haknya karena alasan seperti di atas. Alasan politis misalnya, para pemilih rela melepaskan hak politiknya karena tak percaya lagi dengan penyelenggara negara yang korup.

Untuk mengatasi alasan politis seperti ini, maka tak ada jalan lain kecuali membersihkan semua bagian penyelenggara negara dari unnsur koruptif.  Peran negara dan penegak hukum dalam posisi ini sangat besar untuk menghilangkan kemungkinan pemilih tak datang ke TPS karena alasan politis. Tampilnya kandidat yang selama ini punya track record yang bersih dari korupsi bisa membangkitkan kepercayaan pemilih dan menarik mereka untuk datang memberikan suaranya.

Ketakpercayaan pemilih karena tak se-agama dengan kandidat atau rendahnya  kepercayaan mereka akan kandidat yang mampu melakukan perubahan, juga bisa membuat mereka memilih tetap tinggal di rumah daripada ke TPS. Peran kandidat dalam mengatasi pemilih seperti ini adalah yang utama. Mereka harus mencari strategi kampanye yang logis pula untuk menarik pemilih-pemilih berpikiran logis seperti ini.

Tema kampanye yang menjanjikan pluralisme serta sikap berdiri dan melindungi semua golongan dan agama bisa menggoda pemilih seperti ini ke TPS. Konsep-konsep kampanye yang pas dan meyakinkan sesungguhnya akan sangat membantu kerja-kerja penyelenggara pemilu dalam menggiring lebih banyak lagi pemilih memberikan suaranya.

Pemilih yang paling sulit untuk diajak ke TPS adalah pemilih yang apatis. Mereka sama sekali tak punya lagi kepercayaan kepada sistem pemilihan di negeri ini. Selain tak percaya pada sistem pemilihan, mereka juga sangat tidak percaya pada independensi penyelenggara Pemilu. Untuk pemilih seperti ini, diperlukan terapi jangka panjang untuk menyadarkan mereka bahwa sistem pemilihan seperti sekarang adalah sistem terbaik bagi demokrasi negeri ini.  

Kepercayaan mereka terhadap penyelenggara juga harus dibangun. Para penyelenggara yang tak independen harus diberi tindakan tegas untuk meningkatkan kepercayaan pemilih apatis ini.

Pada intinya, tugas dan tanggungjawab untuk mendatangkan lebih banyak lagi warga ke TPS sekali lagi bukanlah tanggungjawab KPU sebagai penyelenggara semata. Peran terbesar mestinya ditanggung oleh kandidat dan partai yang mengusungnya. Sebab hanya dengan cara seperti itu tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya bisa ditingkatkan.

Kepercayaan kepada pemimpinnya yang besar bisa mendorong tingkat kesejahteraan daerah setempat karena pemimpinnya sangt terlegitimasi. Kita berharap dalam Pemilukada Provinsi Sulsel pada 22 Januari 2013 mendatang, Golput tak lagi menjadi pemenangnya dan kita akan mendapatkan pemimpin yang menang dengan mayoritas warga Sulsel yang datang ke TPS. (*)

Oleh:
Nurmal Idrus
Komisoner di KPU Makassar
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas