Sabtu, 29 Agustus 2015
Home » Opini

Celebes Mencari Pemimpin

Jumat, 27 Juli 2012 00:28

Celebes Mencari Pemimpin

Namun, suara Jokowi – Ahok itu ternyata bukanlah yang terbesar. Suara mereka masih terkalahkan oleh suara Golongan Putih (Goput) atau yang tak datang ke TPS dengan  2.555.207 orang. (Tribun Timur - Jumat, 20 Juli 2012).

Jadilah Golput menjadi pemenang di Pemilukada DKI Jakarta putaran pertama ini. Sebenarnya, kemenangan Golput di sebuah pemilihan kepala daerah bukanlah hal yang baru. Jauh sebelumnya, di Pemilukada Sulsel tahun 2007 silam, Golput juga memperlihatkan keperkasaannya.

Berdasarkan rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 14 November 2007, menunjukkan pasangan nomor urut satu, Amin Syam-Mansyur Ramly (Asmara) memperoleh 1.404.910 suara (38,76 %), pasangan nomor urut dua Aziz Qahhar Mudzakkar - Mubyl Handaling memperoleh 786.792 suara (21,71%) dan pasangan nomor tiga, Syahrul Yasin Limpo - Agus Arifin Nu`mang unggul dengan perolehan 1.432.572 suara (39,53%). Pasangan Sayang unggul 27.662 suara atau 0,77% dari pasangan Asmara.

Sementara suara yang tidak sah sebanyak 86.032 suara atau sekitar 2,32 persen. Total suara yang masuk sebanyak 3.701.306. Bila dibandingkan dengan DPT terakhir yang mencapai 5.307.131, maka warga masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya di Sulawesi Selatan alias Golput mencapai 1.596.825 atau lebih besar dari perolehan suara yang unggul saat itu, pasangan Syahrul Yasin Limpo - Agus Arifin Nu`mang dengan perolehan 1.432.572 suara.

Jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam banyak Pemilukada di Indonesia berdasarkan catatan memang relatif terus meningkat. Dari hasil Pilkada Provinsi Sumatera Barat 2005 misalnya, dari jumlah pemilih sebanyak 2.927.904 jiwa yang tidak memilih sebesar 35,70% (KPU Sumatera Barat, 2005); di Provinsi Bangka Belitung 2006, dari jumlah pemilih sebanyak 731.709 jiwa yang tidak memilih sebesar 39,98% (KPU Bangka Belitung, 2006).

Secara teknis, kemenangan Golput itu sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelum pemilihan digelar. Bahkan, KPU sebagai operator pemilihan sudah bisa mengantisipasinya jauh-jauh hari karena Golput ini bukanlah wilayah abu-abu yang sulit diprediksi. Namun semua strategi sosialisasi pemilihan yang digenjot KPU kemudian hari biasa menjadi lumpuh di lapangan karena sikap masyarakat yang memang sudah tak percaya dengan sstem demokrasi dan juga figur yang ditawarkan.

Rentetan kemenangan Golput itu seharusnya segera dihentikan. Pasalnya, jika kondisi itu terus menguasai Pemilukada, maka bisa mempengaruhi legitimasi dari pemenang itu sendiri. Boleh-boleh saja mereka tampil sebagai pemenang, tapi karena sebagian besar masyarakat daerah itu tak datang ke TPS maka tingkat kepercayaan warga kepada sang pemenang juga berkurang.

Halaman123
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas