• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 17 September 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Kampanye Hitam Pilgub Sulsel

Selasa, 24 Juli 2012 14:21 WITA
Kampanye Hitam Pilgub Sulsel
dok. tribun
Dosen Sosiologi Unhas
Untuk menghindari capaian-capaian yang diinginkan dari kampanye hitam tersebut, maka antar kandidat harus bisa saling kerja sama dan punya komitmen yang kuat serta menyatakan kepada masyarakat bahwa mereka semua (para kandidat) akan berlaku adil, jujur, bertanggung jawab dan memegang prinsip dan nilai-nilai budaya masyarakat Sulsel dalam bersaing.


    Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum menetapkan bakal calon Gubernur Sulsel periode 2013-2018, namun genderang persaingan kandidat makin kencang saja ditabuh. Berbagai jurus kampanye mulai dilakonkan. Yang menghebohkan akhir-akhir ini karena mulai ada yang main curang dengan cara melakukan kampanye hitam (black campaign).
Harian Tribun Timur dalam terbitan Selasa (17/7) membuat head line yang cukup mengejutkan “ Keluarga SYL Marah “. Kemarahan keluarga Syahrul Yasin Limpo (SYL) menurut Tribun dipicu oleh beredarnya selebaran The Tabloid dengan cover (sampul kulit) gambar SYL bertuliskan  Gubernur Narkoba. Ironisnya, selebaran gelap tersebut beredar subuh hari di masjid dan rupanya juga sudah beredar di Sidrap, Pinrang, Enrekang dan Luwu. Menurut Tribun, serangan ke SYL dalam bulan ini sudah dua kali berlangsung – awal Juli dalam bentuk foto SYL dengan seorang penyanyi jebolan KDI dan sekarang ini dalam bentuk  The Tabloid.  
        Jika dilihat dari modusnya, mungkin saja penyebaran The Tabloid dilakukan secara rapih dan sistematis serta jauh dari kesan karena iseng atau kebetulan saja. Ini tentu dilakukan lewat perencanaan yang baik (by design) karena disebarkan sampai ke empat kabupaten dan tentu memiliki maksud dan motif tertentu serta target yang ingin dicapai.
Masalahnya kemudian, sesadis itukah kita berpolitik? Padahal Pilgub Sulsel adalah ajang pertarungan di antara kita (sesama orang Sulsel) yang tidak perlu sampai menyebar pesan negatif yang justru dialamatkan pada person (pribadi) tertentu dan bukan pada program. Cara ini jelas bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 49 tahun 2008 yang dengan tegas menyatakan bahwa kampanye adalah kegiatan dalam rangka meyakinkan para pemilih
dengan menawarkan visi, misi, dan program pasangan calon.
    Didalam politik, kampanye hitam memang dianggap sebagai senjata yang ampuh untuk memusnahkan lawan. Dan biasanya kampanye hitam dilakukan melalui perantaraan media massa, karena kampanye dengan cara konvensional seperti pengarahan massa di lapangan dianggap sudah tidak efektif karena jumlah audiensinya yang terbatas.
Dalam konteks politik Sulsel, adanya  The Tabloid  sebagai bentuk kampanye hitam, ini merupakan sejarah baru dalam perpolitikan di Sulsel yang sangat  tidak mendidik. Karena dalam pemilihan Gubernur Sulsel sejak dulu sampai sekarang ini, kita belum pernah disuguhi adanya permainan politik yang ‘kotor’ dengan cara membuat selebaran yang menyerang  pribadi kandidat.
Karena itu, kita semua harus mewaspadai cara-cara seperti ini. Sebab dampaknya tidak hanya pada persaingan politik – tetapi justru akan membuat masyarakat resah dan pada akhirnya tidak percaya pada proses politik. Kalau masyarakat sudah bersikap seperti itu, maka yang terjadi adalah jumlah golput (golongan putih) alias yang tidak mau menggunakan hak pilihnya makin besar.
       Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa kampanye hitam atau kampanye negatif selalunya merusak proses demokrasi. Menurut Victor Kamber, penulis buku Poison Politics, kampanye hitam itu seperti racun politik yang tidak sehat bagi rakyat.  Kampanye hitam telah berkontribusi terhadap sikap anti-politik dan meningkatnya jumlah golongan putih (Golput). Kampanye negatif telah meracuni demokrasi, karena selalu berupaya untuk menelanjangi kekurangan dan kebobrokan para kandidat dan pemimpin politik.

Cara Mendiskreditkan
    Memang banyak asumsi yang bisa berkembang dengan adanya penyebaran The Tabloid. Pertama, dimaksudkan untuk menyerang pribadi tertentu dengan cara mendiskreditkan. Biasanya cara ini digunakan karena dianggap pribadi tertentu itu terlalu kuat untuk dilawan dengan cara-cara yang normal, maka dibuatlah kampanye hitam untuk menyerang.
Kedua, dimaksudkan untuk membangun rasa permusuhan dan saling curiga antar kandidat. Sehingga masing-masing kandidat berusaha saling menghancurkan. Ketiga, dimaksudkan untuk menciptakan keresahan dalam masyarakat.
          Untuk menghindari capaian-capaian yang diinginkan dari kampanye hitam tersebut, maka antar kandidat harus bisa saling kerja sama dan punya komitmen yang kuat serta menyatakan kepada masyarakat bahwa mereka semua (para kandidat) akan berlaku adil, jujur, bertanggung jawab dan memegang prinsip dan nilai-nilai budaya masyarakat Sulsel dalam bersaing.
Kemudian para kandidat harus mampu mengontrol (mengawasi) semua tim kampanye yang dibentuk agar tidak melakukan kegiatan yang merusak demokrasi dan nilai-nilai budaya masyarakat. Yang paling penting lagi adalah kalau motifnya sudah mengarah kepada upaya meresahkan masyarakat, maka sudah sepantasnyalah aparat hukum sebagai penjaga ketertiban dan keamanan masyarakat bertindak.

Pendidikan Politik
    Tetapi terlepas dari semua itu, seharusnya kita semua sadar bahwa Pilgub Sulsel bukanlah segala-galanya sehingga harus berjuang mati-matian bahkan menghalalkan segala cara untuk menjadi Gubernur Sulsel. Yang harus dipahami oleh semua kandidat bahwa Pilgub ini adalah bagian dari pendidikan politik masyarakat khususnya generasi muda. Jadi perlihatkanlah cara berpolitik yang santun, beretika, dan saling menghargai.
Karena proses Pilgub yang  kita lakukan saat ini, bisa jadi akan menjadi contoh bagi generasi muda Sulsel di masa datang. Kalau kita gontok-gontokan, sikut-sikutan, saling menyerang, saling fitnah – maka jangan bermimpi untuk mendapatkan proses pemilihan gubenur yang bermartabat di masa datang. Karena yang kita lakukan hari ini, akan menjadi referensi bagi generasi yang akan datang.  
    Dalam proses Pilgub, semua kandidat wajib berdebat dan adu argumentasi –  dalam konteks visi, misi dan program untuk menghantar masyarakat Sulsel yang lebih sejahtera. Gunakan semua media atau sarana untuk mengkomunikasikan gagasan, ide, visi, misi dan program mau diperjuangkan lima tahun ke depan. Yang tabu dilakukan adalah menyerang pribadi (personality) masing-masing kandidat.
Karena kalau cara itu juga digunakan, maka dampaknya adalah akan timbul dendam yang berkepanjangan yang bisa merusak hubungan sosial dan kekerabatan kita satu sama lain. Padahal salah satu kekuatan dan keunggulan orang Sulsel yang diakui oleh suku-suku lain adalah pola kekeluargaan dan kekerabatan yang cukup kuat.
Pertanyaannya kemudian, apakah kita mau dan tega merusak hubungan kekeluargan dan kekerabatan kita, hanya karena Pilgub Sulsel ? Keyakinan yang paling mendalam adalah kita masih mengutamakan rasa kekeluargan dan kekerabatan dibanding perebutan jabatan atau pun kekuasaan politik. Nilai-nilai sipakatau, sipakainga dan sipakalebbi,  harus menjadi prinsip utama yang dipegang oleh masing-masing kandidat dalam proses Pilgub Sulsel Januari 2013 mendatang.
Karena dengan prinsip itulah, kita akan terhindar dari keretakan, kerusakan dan kehancuran sebagai keluarga besar Sulawesi Selatan. Jadi, berhentilah melakukan kampanye hitam karena sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip budaya Sulsel.***

Oleh:
Muh Iqbal Latief
Dosen Sosiologi Unhas
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
96333 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas