A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Trik Menghadapi Ramadan - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 Juli 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Trik Menghadapi Ramadan

Jumat, 20 Juli 2012 22:08 WITA
Trik Menghadapi Ramadan
Marhaban Ya Ramadhan yang berarti “selamat datang Ramadhan”. Inilah kalimat yang sering ditebarkan saat memasuki bulan Ramadan baik melalui lisan, tulisan surat, maupun melalui SMS, Short Message Service saat ini.
Kalimat tersebut searti dengan “Ahlan wa Sahlan … ” yang dalam bahasa Arab berarti “Selamat datang …” walaupun keduanya berarti selamat datang, tetapi penggunannya berbeda. Umat Islam tidak menggunakan Ahlan wa Sahlan untuk menyambut datangnya Ramadan, melainkan Marhaban Ya- Ramadan, sebab marhaban adalah kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu yang akan datang searti dengan kata ahlan. Arti dasar ahlan adalah keluarga sedangkan marhaban berarti luas atau lapang.
Karena Ramadan adalah bulan, bukan keluarga, maka penggunaan kata ahlan tidak tepat digunakan menyambut Ramadan. Yang tepat adalah marhaban karena diharapkan seseorang lebih leluasa dan lapang dalam menjalankan puasa dan ibadah-ibadah lainnya sehingga ia meraih takwa sebagai yang disebutkan dalam QS. al-Baqarah/2: 183.
Term Ramadan dalam bahasa Arab berasal dari akar kata ramadha, yang berarti panas menyengat, membakar dan menghanguskan. Pengertian ini mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan di bulan Ramadan karena berpuasa (menahan makan dan minum pada siang hari). Pendapat lain mengatakan bahwa term Ramadan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah. Pakar Bahasa Arab memahami arti ‘panas’nya Ramadan secara maja-zi (kiasan) karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas dan kehausan, atau diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadhan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadhan orang yang berpuasa tidak lagi berdosa. Dengan begitu maka Ramadhan adalah bulan penghapus dosa sehingga disebut sebagai bulan suci, bulan berberkah, penuh rahmat dan magfirah.
Nabi saw dan para sahabat dalam menyambut bulan selalu berdoa, Allahumma Bariklana fi Sya’ban wa ballagana Ramadhan (Ya Allah, berkahilah kami di Sya'ban ini, dan pertemukanlah kami dengan Ramadhan).
Selain doa tersebut, beberapa tips amalan sebagai persiapan menanti kedatangan Ramadan: (1) I'da-d Ruhi Imaniyah, yakni persiapan ruh keimanan. Dilakukan seawal mungkin sebelum Ramadhan, yakni tazkiyatun nafs (membersihkan diri) dari berbagai maksiat dan kedzhaliman. (2) I'dad Jasadiyah, yakni persiapan fisik yang lebih prima, sebab jika fisik lemah, bisajadi kemuliaan Ramadhan tidak dapat diraih secara optimal. (3) I’dad Fikriyah, yakni persiapan ilmu, jadi sebelum Ramadhan sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan tentang puasa, niat, syarat dan rukun puasa, yang membatalkan puasa, dan selainnya. (4) I'dad Maliyah, yakni persiapan dana, untuk keperluan berinfaq, memberi ifthar (buka puasa), bersedekah karena nilai pahalanya dilipatgandakan saat memasuki bulan Ramadan.

I'da-d Ruhi Imaniyah
Implementasi Marhaban ya- Ramadha-n adalah bertaqarrub ilaLLAH (mendekatkan diri kepada Allah) dengan cara memperbanyak amal shaleh sebab saat Ramadhan tiba, umat Islam rajin ke mesjid shalat berjama'ah terutama tarawih, banyak mendengarkan tausiyah keagamaan melalui ceramah, di luar
Ramadan tidak demikian halnya. Dengan begitu maka amalan yang hendaknya dilakukan nantinya adalah: (1) seoptimal mungkin berzikir dan mengucapkan kalimat pujian sebanyak-banyaknya, menahan lidah dari kata-kata yang buruk, menghindari dusta, caci maki, mengumpat, menggunjing, dan semacamnya. (2) makan sahur lebih baik karena mengandung beberapa aspek pendidikan, yakni melatih kita untuk bangun dipertiga malam terakhir sebagai waktu yang paling utama shalat malam dan dan berdoa kepada Allah swt. Makan sahur terdapat berkah, setidaknya tambahan cadangan energi dengan kondisi badan tidak lemah sehingga aktivitas keseharian tetap berjalan. (3) segera berbuka, yakni berbuka tepat waktu, jangan telat apalagi mengulur-ulur waktu sebagai latihan kedisiplinan. Rasulullah dalam sebuah hadis qudsi bersabda bahwa Allah swt berfirman, Hambaku yang lebih Aku sukai ialah yang lebih cepat berbuka. (4) banyak tadarrus, membaca Al-Qur’an, yakni khatam Al-Qur’an atau menammatkan bacaan Al-Qur’an 30 juz di bulan Ramadan.

Kesalehan Spiritual

Impelementasi amal saleh sebagai manifestasi Marhaban ya- Ramadha-n yang disebutkan itu, menjadikan seorang mukmin setelah keluar dari Ramadan terhimpun nilai-nilai religius pada dirinya sehingga terbentuknya empat kesalehan utama, yaitu : (1) kesalehan spiritual imaniyah; (2) kesalehan ritual ubudiyah; (3) kesalehan sosial mu’amalah, dan yang ke (4) kesalehan moral akhlakiyah.
Kesalehan spiritual-imaniyah tercermin pada sikap konsisten akan nilai-nilai tauhid yaitu pengakuan akan KemahaEsaan Allah dalam semua aspek-Nya, tidak menggantungkan harapan, dambaan dan sembahan kecuali kepada Allah semata, tegar, penuh optimisme dan tidak mudah goyah, tidak gampang cemas, apalagi stress, menghadapi gelombang kehidupan karena yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah senantiasa menyertai orang-orang Mukmin. Adapun kesalehan ritual ubudiyah tercermin pada ketaatan seorang muslim dalam melakukan aktifitas ibadah sebagai pilar dari bangunan keislaman seseorang sekaligus sebagai jantung dan gerak nadi kehidupannya sebab ibadah merupakan wadah komunikasi yang efektif bagi hamba dengan Tuhannya. Kesalehan sosial-mu’amalah adalah aspek ketiga dari totalitas keutuhan dan kesempurnaan religiositas seorang Muslim. Keimanan dan keislaman seseorang belumlah memadai bila hanya terfokus pada aspek ritual semata, sebab aspek ritual adalah hubungan pribadi seseorang dengan Tuhannya, sementara aspek sosial merupakan interaksi manusia dengan sesamanya yang dilandasi pada asas kebersamaan, kemanusiaan, saling memberi dan menerima, saling menolong dan menghormati hak dan kewajiban. Bahwa orang yang rajin menunaikan shalat tetapi melupakan kewajiban sosial terhadap fakir miskin dan tak berdaya, sungguh-sungguh termasuk orang yang mengalami kesialan dan kecelakaan di akhirat. Komponen terakhir dari totalitas keberagaman seorang Muslim adalah terciptanya kesalehan moral-akhlakiyah pada dirinya yang tercermin pada sikap perilaku, ucapan, tindakan, dan bahkan pikiran dan hatinya. Nilai-nilai moral-akhlakiah merupakan buah yang nyata dari keberislaman seseorang. Bahkan nilai-nilai dari ajaran agama justeru terlihat pada dimensi ini sehingga seluruh ibadah dalam Islam bermuara pada pembentukan moral. Di sinilah makna yang mendasar dari salah satu sabda Nabi saw yang artinya Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak - budi pekerti yang mulia. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.(*)

Oleh;
Mahmud Suyuti
Pengasuh Pondok Pesantren NU Bahrul Ulum Gowa
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas