Minggu, 1 Februari 2015

Penyebab Manusia Kerdil dan Reptil Besar di Flores

Selasa, 10 Juli 2012 22:45 WITA

Penyebab Manusia Kerdil dan Reptil Besar di Flores
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Victor Dau, warga Kampung Rampasasa, Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (22/10), di situs Liang Bua, lokasi penemuan fosil manusia purba. Sebagian warga Kampung Rampasasa bertubuh kerdil dengan tinggi 130-145 sentimeter.

Tak hanya pengerdilan, ada juga kasus fauna yang justru meraksasa. Mengapa kadal raksasa Varanus komodoensis ditemukan di Flores dan pulau-pulau di sekitarnya dan bahkan hingga kini masih lestari? Tak hanya biawak, tikus Papagomys sp pun di Flores menjadi raksasa.

Fachroel Azis, ahli paleontologi yang pernah memimpin ekskavasi di cekungan Soa, memaparkan pendapatnya soal teori umum biogeografi pulau. Katanya, jika mamalia tinggal di pulau terisolasi, dia akan mengecil. Jika reptil, dia akan membesar.

”Di pulau terisolasi, sumber makanan terbatas. Jadi, kalau dia besar, kan, cepat habis makanannya,” kata Azis. Karena itu, stegodon yang ditemukan di pulau-pulau terisolasi akan lebih kecil dibandingkan dengan stegodon yang ditemukan di Jawa.

Reptil seperti komodo justru jadi besar di pulau karena hampir tak ada predator tandingan. Bahkan, di Flores, gajah purba stegodon adalah mangsa dari komodo.

Di Flores ada stegodon yang kecil (Stegodon sondaari) ada juga yang besar (Stegodon florensis). Namun, jika yang besar itu dibandingkan dengan yang di Jawa (Stegodon trigonocephalus), jelas masih lebih kecil.

Stegodon florensis yang di Liang Bua, sama-sama satu spesies di Flores pun, lebih kecil dari yang di cekungan Soa. ”Itu karena terisolasi lebih lama karena itu diberi nama Stegodon florensis insularis,” tutur Azis.

Geolog dan paleontolog yang mendalami stegodon dari Universitas Wollongong Australia, Gert D van den Bergh, yang saat ini sedang aktif meneliti di cekungan Soa, mengungkapkan, gajah di Flores dulu kerdil sebagai adaptasi kondisi pulau. Di Pulau kecil tak perlu badan besar karena tak ada pemangsa seperti harimau.

Halaman12
Editor: Ridwan Putra
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas