CITIZEN REPORTER
Kunjungan Mahasiswa KKN Unhas di Tapal Batas
Desa Aji Kuning namanya, terletak dalam daerah administratif Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur
Penulis: Suryana Anas | Editor: Ridwan Putra
Atrasina Adlina, mahasiswa Ilmu Kelautan Unhas (kru PK Kampus identitas Unhas)
melaporkan dari Sebatik
MAHASISWA Universitas Hasanuddin melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
di Pulau Sebatik. Sebanyak 20 mahasiswa hasil seleksi akan melaksanakan
KKN selama satu bulan. Dalam melaksanakan KKN, kami menyempatkan diri
untuk mengunjungi Tapal Perbatasan Indonesia–Malaysia, Senin (10/7/2012).
Desa Aji Kuning namanya, terletak dalam daerah administratif Kecamatan
Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur. Desa Aji
Kuning adalah sebuah tempat yang memiliki keunikan, karena ada beberapa
rumah yang beranda depan berada di wilayah Indonesia, sedangkan dapurnya
berada di wilayah Malaysia.
Keunikan inilah yang membuat banyak pejabat, menteri, bahkan presiden
yang datang ke Aji Kuning. Namun tidak ada yang bisa merubah taraf
kehidupan masyarakat disini. Tidak ada perubahan yang berarti dengan
datangnya para pejabat teras disana. Diakui oleh salah seorang warga,
Rohana, warga Aji Kuning sudah biasa didatangi oleh pejabat, namun tak
banyak perubahan.
"Saya sudah disini lebih dari 30 tahun, keadaan di Aji Kuning sama
seperti yang dulu, tak banyak berubah," ujarnya. Ia berasal dari Bone,
Sulawesi Selatan. Sekitar 90 persen penduduk di Aji Kuning adalah orang
Bugis. Mereka datang lebih dari 30 tahun yang lalu.
Tinggal di daerah tapal batas membuat warga disini terbiasa dengan kegiatan perekonomian yang bersumber dari Tawau, Malaysia.
Jangan heran jika bahan-bahan pokok yang beredar di Sebatik Tengah
adalah barang-barang pasokan dari Tawau. Karena harganya lebih murah
jika dibandingkan dengan harga bahan-bahan pokok dari Indonesia.
Harga bensin dari Petronas hanya Rp 6.000, dibandingkan dengan bensin dari Pertamina dihargai Rp. 8.000 per liter.
Selain itu, masyarakat Sebatik sudah terbiasa dengan penggunaan dua mata
uang. Rupiah dan Ringgit sama-sama dihargai di warung-warung lokal.
Jadi jangan kaget, jika anda membeli sesuatu dengan rupiah, dan
dikembalikan dengan uang ringgit.
Tak puas berjalan-jalan di Patok 3, kami pun berjalan-jalan hingga ke
Tugu Perbatasan. Selain itu kami pun mengunjungi Pos Pasukan Pengaman
Perbatasan (Paspamtas). Berbicang mengenai menjaga kedaulatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).(*)