Sabtu, 29 November 2014
Tribun Timur

Saksi Kasus Geng Motor Akui Dianiaya Polisi saat Diperiksa

Rabu, 20 Juni 2012 20:58 WITA


MAKASSAR, TRIBUN – TW (11) yang merupakan saksi dalam lanjutan sidang kasus kebrutalan geng motor yang menewaskan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) Syamsari Ibrahim (22) membeberkan keborokan penyidik Polrestabes Makassar di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Rabu (20/6/2012) usai peristiwa pembunuhan tersebut terjadi April lalu.

Dalam pengakuannya saat dihadirkan sebagai saksi oleh jaksa penuntut umum (JPU) Grefik dan Adnan Hamzah, di hadapan persidangan yang diketuai majelis hakim Johny Simanjuntak, TW yang masih duduk dibangku kelas XI di salah satu SMP di Makassar, mengaku, dirinya disiksa bahkan dianiaya penyidik polisi untuk mengakui jika pelaku pembunuhan mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNM itu adalah Rizal Jaya (26) dan Adnan (20) yang kini menjadi terdakwa.

“Saya dipukul dan ditendang pada bagian perut oleh penyidik, agar mengakui dan menunjuk Rizal Jaya yang merupakan kakak kandungnya sebagai pelaku pembunuhan utama bersama dengan Adnan,” terang TW dihadapan ketua majelis hakim Johnyu Simanjuntak,siang tadi.   

Dalam keterangannya, TW yang menjadi satu-satunya saksi yang bisa dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) menceritakan terkait peristiwa itu, kalau dirinya bersama sejumlah temannya awalnya berkumpul di depan showroom Kawasaki di Jalan AP Pettarania dan selanjutnya melakukan konvoi menuju Jalan Sungai Saddang.

Takdir menyebutkan di Jalan Sungai Saddang tersebutlah dia bersama rombongannya ketemu dengan korban dan selanjutnya timbul perkelahian.

"Persoalannya karena ketersinggungan. Awalnya ketiaka rombongan korban melintas didepan rombongan kami, teman meminta kepada korban dan rekannya untuk menepi. Namun karena korban bersama rekannya malah merespon permintaan kami dengan kata-kata kasar dan kotor,” kata TW saat bersaksi untuk kedua terdakwa pembunuhan.

Selain itu saksi juga membenarkan sebagian keterangan yang tertuang dalam berita acara pemeriksaan yang dibacakan oleh JPU. TW juga mengakui adanya teman terdakwa atas nama S (terdakwa yang dimasukkan kategori bawah umur) melepaskan busur ke korban.

Disamping itu, TW mengakui kalau terdapat dua rekan lainnya atas nama Nanang dan Onat melakukan penusukan terhadap korban bahkan menginjak-injak korban Ibrahim yang merupakan aktivis pemuda pancasila (PP) Sulsel.(*)
Editor: Ina Maharani

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas