Senin, 24 November 2014
Tribun Timur

Air Sungai Jadi Sumber Listrik Warga Mangkutana

Selasa, 12 Juni 2012 16:31 WITA

Air Sungai Jadi Sumber Listrik Warga Mangkutana
Kompas.com
Dengan memanfaatkan air sungai kecil yang mengalir di samping rumahnya, Abu (55), warga Desa Kasintuwu, menciptakan energi listrik berkapasitas 1000 watt, yang digunakan untuk menerangi rumah.
MANGKUTANA, TRIBUN-TIMUR.COM--Tinggal di daerah terpencil di Desa Kasintuwu, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang berada di dataran tinggi pegunungan Kasintuwu, tanpa penerangan listrik PLN, membuat beberapa warga terdorong untuk menciptakan listrik sendiri.

Mereka memanfaatkan arus air yang mengalir dari lereng bukit. Dengan memanfaatkan air sungai kecil yang mengalir di samping rumahnya,  Abu (55), warga Desa Kasintuwu, menciptakan energi listrik berkapasitas 1000 watt, yang digunakan untuk menerangi rumah.

Ide pembuatan listrik tenaga air ini, muncul pada tahun 2004 silam, karena kampung tersebut tidaklah terjangkau aliran listrik PLN. Saat itu, Abu berinisiatif merakit sebuah mesin listrik, dengan modal Rp 7 juta.

Abu dibantu putranya kemudian membeli trafo, pipa, tali kincir dan membangun sebuah kolam penampung air di sungai dekat rumah. Air sungai yang tertampung di bak, dialirkan ke mesin melalui pipa. Hasilnya, uji coba mesin pembangkit listrik yang diciptakannya saat itu langsung berfungsi, dan dipakai hingga kini.

“Cara membuat mesin pembangkit listrik dengan memanfaatkan tenaga air ini, saya dapatkan di perusahaan tambang tempat saya dulu bekerja. Dengan cara mengamati teman sesama karyawan yang mengerjakan mesin pembangkit listrik milik perusahaan tambang nikel,” ungkap Abu, saat ditemui di rumahnya, Selasa (12/6/2012).

Selain Abu, salah seorang warga lainnya, Bandaso, juga membangun pembangkit listrik sendiri untuk menerangi rumahnya.  “Saya terpaksa meminta bantuan Pak Abu, untuk membuatkan mesin pembangit listrik, karena rumah saya yang juga berfungsi sebagai usaha warung makan, tidak ada penerangan listrik,” ungkap Bandaso.

“Dulunya kami menggunakan lampu petromak, dengan bahan bakar minyak tanah, dan itupun harus mengeluarkan biaya cukup besar. Namun setelah memiliki mesin pembangkit listrik sendiri sejak tahun 2007 lalu, bisa menghemat pengeluaran,” tambah Bandaso, yang juga memiliki mesin pembangkit listrik tenaga mikro hidro, dengan daya 300 watt.

Menariknya, Abu dan Bandaso, mengakui jika mesin listrik buatannya itu, tidak pernah mengalami masalah, Perawatanya pun tergolong sangat murah, cukup dengan hanya menyiapkan gemuk untuk pelicin tali kincir, serta menyiapkan balon untuk mengantisipasi jika tiba-tiba balon putus.

Di Kabupaten Luwu Timur, sebagian desa di Kecamatan Mangkutana, Malili, Towuti, Nuha, dan Tomoni, belum dijangkau jaringan listrik PLN. Hal ini karena wilayah tersebut berada di daerah terpencil dan pegunungan.

Sementara itu, sembilan unit mesin pembangkit listrik tenaga mikro hidro “PLTMH” yang tersebar di beberapa desa, menggunakan alokasi anggaran APBD dan APBN yang nilainya berkisar Rp 19 miliar. Proyek itu dibangun sejak tahun 2010 lalu dan tidak dapat dinikmati warga. Pasalnya, mesin-mesin itu tidak berfungsi normal. Bahkan sebagian besar mengalami kerusakan parah dan tidak dapat dioperasikan.
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas