A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Eksodus Timor Timur Garap Arang di Malili - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 16 April 2014
Tribun Timur

Eksodus Timor Timur Garap Arang di Malili

Sabtu, 9 Juni 2012 11:40 WITA
Eksodus Timor Timur Garap Arang di Malili
KOMPAS.COM/ UCENG HUSAIN
Suasana penyortiran arang di pemukiman transmigran eksodus Timor Timur di Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU TIMUR - Aktivitas sehari-hari masyarakat eksodus Timor Timur yang tinggal di daerah transmigrasi di Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan terbilang dinamis.

Tinggal di pemukiman transmigrasi yang letaknya berada di wilayah bebukitan dan daerahnya masih tergolong hutan yang banyak ditumbuhi pohon berukuran besar, justru memiliki keuntungan tersendiri bagi 280 kepala keluarga eksodus Timor Timur itu.

Sebagian dari mereka menggerakkan ekonomi keluarga dengan membuat arang kayu. Setiap harinya mereka membuat arang dari bahan baku kayu yang proses pengolahanya menggunakan tungku pemanas.

Sebagian dari mereka bertugas mengambil kayu di hutan, sementara lainya bertugas mengangkut kayu dari lokasi penebangan hingga ke tempat pengolahan. Kemudian, kayu-kayu tersebut kemudian dimasukan ke dalam tungku pemanas.

Setelah dua hari diproses jadi arang di dalam tungku pemanas, dilakukan proses sortir. Arang kualitas bagus dimasukkan kedalam kemasan dus karton yang telah berlabel untuk diekspor ke Singapura, Jepang, China, dan Korea. Sementara arang kualitas sedang dijual ke pasaran lokal yaitu ke kota Makassar dan Pulau Jawa.

Cara menyortir arang dilakukan dengan memisahkan antara arang yang berukuran besar dengan arang yang berukuran kecil. Arang berukuran besar masuk dalam kualitas bagus, sementara yang berukuran kecil masuk dalam golongan nomor dua atau kualitas rendah dengan harga jual murah.

Untuk satu kali proses pengolahan dalam jangka waktu dua hari, warga dapat memproduksi 300 kilogram arang, dengan harga jual Rp 10.000 per kilogram untuk arang kualitas expor. Untuk harga pasaran lokal, dijual Rp 80.000 per satu karung.

"Awalnya kami mendapat ide pembuatan arang ini dari teman yang mendapat info cara pembuatan arang di internet. Setelah itu kami coba membuat dan hasilnya lumayan bagus," ungkap Hasim, warga eksodus yang bertugas sebagai pengawas di tempat pembuatan arang.

Usaha pembuatan arang yang telah berjalan normal sejak satu tahun terakhir itu terus dikembangkan dengan membuat tungku pemanas yang ukuranya lebih besar sebanyak lima ruang.

"Kami menambah tungku pemanas berhubung semakin banyak pesanan lokal maupun luar. Bahkan kami juga sudah melakukan kerja sama dengan investor singapura untuk pemasaran di negara luar," tambah Hasim saat ditemui dilokasi pembuatan arang pada Jumat (8/6/2012).

Bukan Illegal Logging

Walaupun melakukan penebangan kayu dengan skala besar di wilayah hutan, namun mereka tidak melakukan praktik illegal logging, pasalnya, pohon yang mereka tebang, sudah masuk dalam area tambang biji besi milik salah satu perusahaan tambang yang ada di wilayah tersebut. Pihak perusahaan telah memberikan keleluasaan masyarakat mengambil kayu di lokasi yang akan ditambang nantinya.

Kayu jenis angin-angin yang digunakan jadi arang adalah kayu kualitas rendah dan tidak layak untuk diolah jadi balok dan papan.

"Sebelum ada usaha pembuatan arang, kami tergolong susah mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena hasil dari bercocok tanam sangatlah sedikit dan hasil panen sayur-sayuran tergolong murah. Namun Dengan adanya usaha pembuatan arang ini, kami merasa terbantu. Untuk setiap bulannya kami mendapat gaji minimal Rp 300.000 per orang," ungkap Maryam, yang bertugas menyortir arang.

Maryam adalah salah satu dari seratus lebih warga transsmigrasi eksodus Timor Timur yang menggantungkan hidupnya sebagai pekerja arang di Desa Harapan, Kecamatan Malili.

Walaupun tidak masuk dalam skala proritas target pencapaian Agro Industri 2015, yang dicanangkan Pemkab Luwu Timur, namun usaha arang yang ditekuni warga eksodus Timor Timur itu mendapat perhatian serius Dinas Perindustrian Luwu Timur. (*)

Editor: Ridwan Putra
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
91903 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas