Jumat, 28 November 2014
Tribun Timur
Home » News » Politik

Akademisi: Kahar Bukan Pemberontak

Sabtu, 9 Juni 2012 22:32 WITA

MAKASSAR,TRIBUN-TIMUR.COM--Apapun interpretasinya, kata Pemberontak ternyata menjadi kata sensitif di kalangan masyarakat Sulsel di era kekinian. Hal yang tidak bisa di pungkiri Sulsel pernah diwarnai aksi pemberontakan yang dialamatkan kepada ketua Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Kahar Muzakkar tahun 1950an.

Buktinya, pasca bakal calon gubernur incumbent Sulsel Syahrul Yasin Limpo menggaungkan ajakan melawan pemberontak, timbul reaksi kecaman dari berbagai kalangan, baik tentunya dari kalangan keluarga Kahar, simpatisan Kahar, pejuang Kahar, aktivis mahasiswa, ormas, wija to Luwu, akademisi dan sebagainya.

Ajakan Syahrul yang Syahrul ketua pengurus daerah (PD) Forum Komunikasi Keluarga Putra Putri Purnawirawan ABRI (FKPPI) Sulsel ini saat membuka rapat pimpinan daerah (rapimda) FKPPI XIX di baruga Sangiaseri, rumah jabatan gubernur, Jl Sungai Tangka, Makassar, kemarin.

Munculnya kecaman bukan tidak mungkin lantaran kuatnya kepercayaan mayoritas masyarakat Sulsel bahwa sosok Kahar bukanlah pemberontak.

Alasan itu dibenarkan dosen Sejarah Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Dr Latif. Bagaimana dosen sejarah senior Unhas ini, berikut paparannya kepada Tribun Timur, Makassar, Sabtu (9/6)

Kahar Muzakkar bukanlah pemberontak, Kahar Muzakkar tidak pernah punya keinginan keluar dari Indonesia, makanya semua gerakannya disebut negara islam Indonesia ada kata Indonesianya.

Kahar tetap setia kepada Indonesia dan sila pancasila karena ia memperjuangkan islam. Makanya kemudian melalui wadah DI/TII semua menggunakan kata Indonesia, itulah cara Kahar memperjuangkan gagasannya dan itu mendapat simpati rakyat Sulsel, Sulbar, dan Sulawesi Tenggara.

Itu tadi, Kahar tidak pernah mau keluar dari Indonesia. Dulu dibentuk tentara teritorium tujuh, panglimanya adalah Alex Kawilarang, Panglima Kawilarang ini kemudian tidak disetujui masyarakat Sulsel. Rakyat  Sulsel terus melakukan penolakan terhadap Alex yang juga orang Manado itu.

Karena orang Sulsel tidak setuju Kawilarang selaku panglima, maka kemudian Kawilarang meminta Kahar datang ke Sulsel membujuk mereka. Kahar dipercayakan Kawilarang karena Kahar lah selaku militer senior di Bugi-Makassar saat itu. Kahar Muzakkar lah neneknya militer di Sulsel. Andi Sose, Andi Selle dan sebagainya adalah didikan Kahar di era militer kesatuan (sebelum DI/TII dibentuk)

Kahar diminta mengarahkan rakyat Sulsel agar patuh panglima Kawilarang. Kahar saat itu diberi  pangkat Letnan Kolonel. Ketika Kahar datang ke Sulsel menemui hampir semua pimpinan pejuang di Sulsel, Kahar menerima aspirasi rakyat Sulsel agar diberi posisi di dunia kemiliteran di samping itu ada juga ada yang mau jadi pengusaha,

Akan tetapi aspirai masyarakat Sulsel yang dijinjing Kahar tersebut ditolak Kawilarang saat menghadap. Kawilarang tidak mau menerima kemauan orang Sulsel. Kahar selaku perwakilan Sulsel saat itu berjuang meminta kapada Kawilarang agar menerima keinginan se kampungnya itu, tapi lagi-lagi ditolak Kawilarang.

Lantaran Kawilarang ngotot menolak aspirasi masyarakat Sulsel, maka kemudian Kahar meninggalkan Kawilarang, Kahar memilih pulang kampung halamannya bersama rakyat Sulsel, Kahar masuk hutan untuk memperjuangkan rakyat Sulsel.
Kahar memimpin langsung pejuang di hutan dengan membentuk kesatuan militer belum DI/TII. Saat Kahar membentuk kesatuan militer, masyarakat Sulsel ramai-ramai bergabung seperti Andi Sose (pemilik Universitas 45 Makassar) Andi Selle, Makatang Dg Sibali dan masih banyak lagi.

Tetapi pada tahun 1952 sejumlah anggota basis Kahar seperti Andi Sose, Dg Makatan dan sebagainya berminat masuk TNI, nah dari situ Kahar menerima kemauan rekannya.

Kemudian Kahar mengubah formasi kesatuan militernya. Intinya tahun 1952, lapis pertama pertahanan Kahar banyak yang masuk TNI, jadi Kahar merubah kesatuan militernya menjadi Darul Islam Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Terbentuknya formasi perjuangan baru Kahar bernama DI/TII ini semakin banyak yang bergabung, banyak ulama yang bergabung, banyak tokoh agama yang bergabung, tiga provinsi justru ikut bergabung di sini.

Hal yang perlu digaris bawahi waktu Kahar membentuk DI/TII, tidak ada fakta bahwa Kahar mendiskreditkan agama lain, justru, hadirnya  DI/TII ini juga melindungi agama non islam bahkan mereka banyak yang bergabung baik dari Sulsel sendiri bahkan dari luar negeri, fakta ditemukan banyak akademisi, dosen dari sejumlah negara Eropa, ada dari Jerman yang jadi tenaga pengajar pejuang Kahar di perguruan tinggi yang didirikan Kahar di hutan.

Saya mau katakan, ideologi Kahar itu adalah bagian dari pancasila, jelas kalau ideologi islam bagian dari pancasila.

Jadi kalau ada sebutan pemberontak, itu bukan jamannya, situasi sekarang berbeda. Kalau kemudian Aziz dikaitkan dengan karakter bapaknya maka itu tidak relevan.

Aziz memang anak biologis Kahar namun belum tentu Aziz adalah anak ideologis Kahar. Untuk mengukur idelogi Aziz kita lihat latar belakang organisasinya, Aziz kan kader HMI.

Demikian  pak Syahrul sebagai anak Yasin Limpo, tentu tidak bisa seperti bapaknya di jaman dulu.
Penulis: Ilham
Editor: Imam Wahyudi

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas