Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Menakar Takwa Menuju Ramadhan

Pakaian yang baik adalah menutup aurat, karena menutup aurat adalah bagian dari ketakwaan.

Tayang:
Editor: Aldy
Pakaian yang baik adalah menutup aurat, karena menutup aurat adalah bagian dari ketakwaan. Pakaian indah adalah perhiasan, namun perhiasan terindah yang mengarahkan pada ketakwaan.

Takwa menjadi kata yang amat populer di bulan Ramadan (1433) yang tak lama lagi bakal kita temui (insya Allah). Umumya, nyaris jika tidak semua, para dai menjadikan ayat 183 dari surah Al Baqarah; ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”, sebagai dasar diwajibkannya berpuasa dengan tujuan utama agar yang menjalani puasa itu mencapai derajat takwa.
Ayat tersebut masih terus tertuang dalam ceramah-ceramah sepanjang bulan baik di selang waktu salat Isya dan salat Sunnah Tarawih, kultum pasca salat Shubuh, ataupun siraman rohani dari media tulis, radio, hingga televisi. Maka sangat wajar jika seluruh pemikiran, energi, dan aktifitas selama bulan termulia yang telah meninggalkan kita itu seyogyanya diarahkan menggapai nilai terbaik bagi seorang manusia.
Kata takwa sendiri bukanlah hal baru dalam perjalanan pendidikan seorang Muslim di Indonesia. Sejak jenjang pendidikan pra sekolah ia telah diperkenalkan hingga tingkat kuliah. Defenisinya pun amat dihafal dari anak-anak hingga dewasa dengan konsederan yang sama, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.
Bagaimanakah takwa itu sendiri sesungguhnya menurut yang memerintahkannya? Penulis mencoba mengurai berdasarkan arahan ayat-ayat Al quran.
Pertama. Takwa adalah tujuan penciptaan manusia. Awal dan akhir keberadaan makhluk paling sempurna ini di dunia. Hal ini didisposisikan Allah Sang Maha Pencipta dalam surah Al Baqarah ayat 21; ”Wahai sekalian manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Sangat jelas dan vulgar, kehadiran manusia di muka bumi (seharusnya) untuk patuh dan taat pada yang menghadirkannya, mendesainnya, dan menjadikannya dalam keadaan apa adanya saat lahir hingga kematiannya.
Kata sembahlah Tuhanmu menjadi teks jelas dari makna ketundukan dan kepatuhan -tentu saja sesuai yang disyari’atkan-Nya- untuk dikontekskan dalam proses kehidupan. Ayat tersebut saling menguatkan dengan ayat populer lainnya di surah Al Dzariyat ayat 56; ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
Kedua. Takwa adalah tujuan diutusnya para nabi/rasul. Sebagaimana penegasan Allah Swt dalam surah Al A’raf ayat 35; ”Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
Demikian halnya kitab-kitab yang diturunkan melalui pada para rasul, seluruhnya bertujuan agar manusia bertakwa. Sangat jelas dalam surah An Nisa ayat 131; ”Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji”.
               
Mahluk Fluktuatif
Secara tersirat Allah mendeskripsikan bahwa manusia adalah makhluk fluktuatif, termasuk dari segi iman kepada-Nya. Karena itu dalam satuan waktu tertentu Allah Azza wa Jalla mengutus orang-orang pilihan-Nya untuk mengingatkan manusia agar tetap dalam rel Penciptanya, memaksimalkan diri tetap mengarahkan keimanan dan kehidupan pada zat Yang Maha Tinggi, dan itulah yang dimaksud takwa.
Ketiga. Seluruh kebutuhan manusia yang diberikan Ilahi dimaksudkan kiranya dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan menuju takwa. Beberapa peringatan perihal ini digariskan Allah Swt dalam beberapa ayat, di antaranya dalam surah Al Araf: 26; ”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.
Pakaian yang baik adalah menutup aurat, karena menutup aurat adalah bagian dari ketakwaan. Pakaian indah adalah perhiasan, namun perhiasan terindah yang mengarahkan pada ketakwaan. Pakaian dan perhiasan yang mengandung kesombongan, pamer, kezaliman, dari sumber yang tidak halal, sudah pasti jauh dan menjauhkan dari nilai-nilai takwa. Pakaian dan perhiasan adalah contoh kebutuhan manusia yang oleh Allah Swt pun dititahkan untuk diarahkan pada takwa.
Bahkan seluruh aktifitas manusia baik oleh dirinya sendiri maupun karena secara teks merupakan perintah langsung Allah Swt juga untuk mencapai takwa. Simaklah tujuan perintah puasa dalam surah Al Baqarah:183. Memaafkan orang lain, Qs Al Baqarah: 237; ”... dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa”. Berbuat adil, Qs Al Maidah: 8; ”Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”. Larangan makar, Qs Al Mujadilah: 9; ”Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan”.
              
Bekal Kehidupan
Begitu pentingnya takwa, Allah Swt memerintahkan kepada manusia agar menjadikannya bekal utama dalam kehidupan. Sebagaimana ditulis-Nya dalam surah Al Baqarah ayat 197; ”... Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” . Setiap manusia yang akan bepergian menyiapkan bekal secukupnya. Semakin jauh tempat yang dituju makin besar pula bekal yang disiapkan. Lalu mengapa manusia tidak membekali dirinya untuk sesuatu yang sudah pasti, kematian? Maka Allah Swt meledek orang yang tidak punya rencana akhirat tersebut dengan orang-orang yang tidak menggunakan akal berpikirnya secara benar. Inilah yang dikonotasikan-Nya dalam ayat di atas.
Takwa adalah syarat kemuliaan kehidupan. Tak ada kemuliaan sesungguhnya kecuali hanya karena takwa. Penegasan Allah ini digarisbawahi dalam kalam-Nya di surah Al Hujurat ayat 13; ”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu”. Ingatlah orang-orang sekitar kita, baik yang telah mendahului menghadap Sang Khalik ataupun masih hidup. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Amat banyak contoh yang kita dapati, seorang yang dahulunya kaya, memiliki jabatan, menyandang gelar, sehingga amat dihormati dan dihargai orang, dimuliakan orang karena itu, ketika tidak lagi memilikinya orang-orang pun meninggalkannya.
Menakar nilai takwa menuju Ramadan menjadi sangat penting, sebagai bentuk konkrit introspeksi diri, sebelum perang sesungguhnya dalam menata diri itu, kita arungi. Jika dalam sebulan kita belum sanggup memaksa diri shalat fardhu penuh dan berjamaah di masjid, siapkah kita di Ramadan nanti? Jika dalam sebulan kita belum sanggup berlama-lama tadarus Al quran, bertekadkah kita di Ramadan nanti? Jika sebulan penuh kita selalu lupa mohon ampunan Allah, maukah kita serius di Ramadan nanti? Fastabiqul Khaerat.***

oleh;
Fakhruddin Ahmad
Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved