Minggu, 23 November 2014
Tribun Timur

Kisah Kesaksian Korban Pembantaian di Suriah

Selasa, 29 Mei 2012 08:38 WITA

Kisah Kesaksian Korban Pembantaian di Suriah
perang sipil di Suriah
HOULA, KOMPAS.com - Sejumlah korban selamat dalam pembantaian di kawasan Houla Suriah menceritakan peristiwa penyerangan dan pembunuhan anggota keluarga mereka yang dilakukan pasukan pemerintah akhir pekan lalu.

Beberapa saksi mata mengatakan mereka bersembunyi atau berpura-pura tewas agar selamat dari penyerangan.

Kebanyakan menyatakan militer dan milisi shabiha yang melakukan kekejaman tersebut, meski rezim Assad bersikeras serangan dilakukan ''teroris bersenjata''.

Pengamat PBB yang mengunjungi desa Taldou tempat dimana pembantaian berlangsung mengatakan mereka menemukan bukti serangan dari pasukan pemerintah.

Mereka juga mengkonfirmasi sekitar 108 korban, kebanyakan anak-anak, tewas akibat tembakan jarak dekat atau serangan pisau.

Sejumlah saksi mata yang berbicara kepada BBC mengatakan mereka meyakini bahwa militer dan anggota milisi shabiha yang bertanggung jawab.

"Kami berada di dalam rumah, mereka masuk, shabiha dan pasukan keamanan, mereka masuk dengan senjata Kalashnikov dan senapan mesin,'' kata Rasha Abdul Razaq yang selamat dari serangan.

"Mereka membawa kami ke sebuah ruangan dan memukul ayah saya di kepala dengan senjata dan menembaknya tepat di dagu.''

Dari 20 anggota keluarga dan teman di dalam rumah, dia mengatakan hanya empat yang selamat.

Seorang warga lainnya, yang meminta dirahasiakan namanya mengatakan dia bersembunyi di loteng saat lelaki bersenjata menarik anggota keluarganya dan menembaki mereka.

"Saya buka pintu, dan saya banyak melihat jenazah, saya tidak bisa mengenali anak-anak saudara lelaki saya. Tidak bisa digambarkan. Saya punya tiga anak, saya kehilangan tiga anak,'' katanya.

Saksi mata lainnya menceritakan bagaimana mereka ketakutan jika pasukan rezim kembali ke kawasan tersebut.

Jumlah korban tewas tidak diketahui secara pasti, tetapi wartawan BBC di Lebanon mengatakan jumlah kemungkinan bertambah dari keterangan saksi dan laporan dari pemerhati HAM di lapangan.

'Kebodohan pembunuhan'


Sejumlah pemimpin Barat mengungkapkan kecaman atas pembunuhan tersebut, dan Inggris, Perancis serta AS kini mulai meningkatkan kebijakan diplomatik untuk menekan pemerintahan Assad.  Menteri Luar Negeri Inggris William Hague terbang ke Moskwa untuk mendapatkan dukungan Rusia untuk mendukung kebijakan yang lebih keras terhadap rezim.

Rusia, dua kali memblokir resolusi Dewan Keamanan PBB yang dikeluarkan untuk mendukung aksi terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad, tetappi pada hari Senin menyatakan kedua belah pihak bertanggung jawab dalam insiden pembantaian Jumat lalu.

Sementara Perancis menggelar pertemuan yang disebut 'Teman untuk Suriah', dimana Rusia tidak ikut ambil bagian.

"Kebodohan pembunuhan yang dilakukan rezim Damaskus merupakan sebuah ancaman bagi keamanan kawasan dan para pemimpinnya harus menjawab semua tindakan mereka,'' demikian isi pernyataan Presiden Francois Hollande.

Sementara itu utusan khusus PBB-Liga Arab Kofi Annan telah tiba di Damaskus untuk membicarakan rencana perdamaian dengan Assad, Selasa (29/05).

Dia mengatakan ini adalah waktu yang kritis, dan dia akan menjalani diskusi yang ''serius dan jujur'' dengan Assad, mencoba mendorong dia untuk mengambil ''langkah tegas'' untuk membuktikan bahwa dia serius tentang perdamaian.

Dalam rencana perdamaian Annan, kedua belah pihak sebenarnya bersepakat untuk menghentikan pertempuran pada tanggal 12 April lalu menjelang pengerahan pengawas dan pemerintah harus menarik tank dan pasukan dari kawasan sipil.

Tetapi kekerasan masih berlanjut, dan Senin kemarin pemerhati HAM melaporkan pertempuran dan kematian berlangsung setidaknya di tujuh kawasan berbeda.

Setidaknya 10.000 orang tewas sejak aksi menolak rezim Assad pecah Maret 2011.(*)
Editor: Ina Maharani
Sumber: Kompas.com

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas