
- Perusahaan Korea Tertarik Berinvestasi di Enrekang
- Ketua BEM Dipecat, Mahasiswa Tehnik Umpar Unjuk Rasa
- Pak Polisi, Ini Pelajaran, 10 Polisi Dipecat
- Briptu Ishak Mendekam di Sel Mako Brimob Polda Sulsel
- Briptu Ishak Dapat Diancam Dipecat
- Kapolres Lutim Diminta Pecat Polisi Berzina
- Waspada! Penderita Kanker Payudara Meningkat
- Kalau Bisa Bunuh Duta Besar Ini, Hadiah Rp 1,5 M Menanti
- Wow, Aco Digelari Bapak Pembangunan
- Kanker Payudara Bisa Serang Pria
Merasa telah diperlakukan sewenang-wenang, Lauren ditemani oleh kuasa hukumnya, Gloria Allred, mengadukan nasibnya kepada Komisi Equal Employment Opportunity, Amerika Serikat (AS), Senin (21/5/2012), waktu setempat.
Dalam jumpa pers, yang diadakan setelah penyerahan laporan, Lauren menceritakan, dirinya merupakan seorang staf data entry diperusahaan pakaian dalam berbasis di Manhattan tersebut.
Ia diterima bekerja di perusahaan itu sekitar bulan April kemarin, namun dipecat satu pekan kemudian, melalui telepon.
Selama
sepekan bekerja disana, Lauren mengaku kerap diperlakukan diskriminatif
oleh manajernya, yang merupakan seorang Amerika keturunan Yahudi.
Bosnya
itu meminta Lauren mengenakan kemben, untuk membuat payudaranya
terlihat lebih kecil dari yang seharusnya. Ia juga diminta mengenakan
pakaian berukuran besar, juga dengan maksud yang sama.
"Saya mengerti ada pria Yahudi Ortodoks yang mungkin memiliki pandangan tentang bagaimana seorang wanita harus berpakaian dan betapa ia harus ditutupi, "kata Lauren, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (22/5/2012).
"Saya juga seorang Yahudi, tetapi saya nilai majikan saya tidak berhak memaksakan keyakinan agama mereka pada saya," tuturnya.(*)
