• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Menyoal Lady Gaga yang Gagal Tampil

Sabtu, 19 Mei 2012 00:46 WITA
Menyoal Lady Gaga yang Gagal Tampil
Yang salah jika para aktivis agama menafikkan kemajemukan dan pluralisme agama di negeri ini. Sehingga memaksakan kehendak pada satu ajaran, sampai berujung aksi anarkisme. Islam tidak pernah mengajarkan anarkisme, karena Islam adalah rahmatan lil alamin.

Little Monsters (sebutan penggemar Lady Gaga) akhirnya harus menelan ludah kecewa. Pasalnya demi mempertimbangkan masalah keamanan, Mabes Polri tidak  mengeluarkan izin konser bagi Mother Monsters mereka. Konser bertajuk The Born This Way Ball tersebut rencananya akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, pada 3 Juni 2012 mendatang. Yang menarik, beberapa bulan sebelum konser, sekitar lima ratus ribu tiket sudah habis terjual.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan polisi tidak memberikan rekomendasi konser Lady Gaga karena beberapa pihak seperti MUI, FPI, Fraksi PPP dan Fraksi PKS di DPR, serta Lembaga Adat Besar Republik Indonesia menolak kehadiran Lady Gaga di Tanah Air.
Event Organizer selaku pihak penyelenggara bahkan sudah diminta untuk mengurus pengembalian tiket konser, tentu dengan kawalan Polda Metro Jaya.
Di tengah kontroversi yang melanda, Presiden Direktur PT Java Prima Kreasi, Michael Rusli yang lebih dikenal sebagai Big Daddy Concert selaku promotor konser Lady Gaga mengaku tetap akan menjalankan konser seperti semula.
Menanggapi hal tersebut Kepolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Untung S Rajab, mengatakan jika promotor bersikukuh menggelar konser, maka polisi akan membubarkan secara paksa.

Kontroversi  Gaga
Mother Monsters lahir dengan nama Stefani Joanne Angelina lebih dikenal Lady Gaga adalah seorang penyanyi pop Amerika Serikat yang fenomenal penuh kontroversi  yang sensasional
Ia seolah tak pernah kehabisan ide untuk melakukan sensasi yang memicu kontroversi. Di mulai dari aksi panggung yang erotis, style busana yang terlalu vulgar dengan bahan pakaian dari daging sapi sampai dituding sebagai pemuja setan.
Perempuan ini juga pernah mengaku menyukai sesama jenis sekaligus menyukai lawan jenis (Biseksual). Pandangannya mengenai biseksual ini terlihat jelas dalam lirik lagu hit Poker Face dan Born This Way. Dalam nyanyiannya, ia menyatakan dukungannya pada kaum lesbian dan gay.
Tak puas dengan kehebohan lagu dan video klip Alejandro yang dianggap menghujat agama tertentu, Lady Gaga meluncurkan lagu Judas Song. Lewat liriknya, Gaga menyatakan cintanya kepada Yudas, rasul yang mengkhianati Yesus atau Isa Almasih.
Di tengah hiruk-pikuk berita tragedi jatuhnya pesawat canggih Sukhoi Super Jet 100, kita kembali dibuat gagap oleh konser Lady Gaga yang gagal.
Fenomena Lady Gaga adalah sebuah fenomena alamiah, tentu ada yang pro, kontra bahkan skeptis. Adalah wajar terjadi di negara yang belajar berdemokrasi, terbawa arus liberalisme sehingga semua bebas berpendapat.
Rencana konser Lady Gaga coba ditanggapi positif beberapa kalangan. Mereka beranggapan, apa yang di tampilkan Gaga adalah sebuah seni hasil kebebasan berekspresi yang harus dipandang sebagai karya seni. Disini penulis katakan ini bukan persoalan dipandang tidaknya sabagai seni tapi apakah aksi seperti itu layak disebut seni?
Kemudian menurut mereka dengan datangnya Gaga biasa menjadi pembelajaran bagi artis kita dalam kariernya. Ironis, seorang Gaga akan dijadikan guru yang nota bene perilaku dan aksinya sangat bertentangan dengan budaya Keindonesiaan. Sangat naif rasanya jika kita mengharuskan orang abai terhadap penampian Gaga yang tidak beretika.
Tapi kita juga tidak bisa menafikan isu ini hanya karena antipati terhadap sebuah ormas militan lalu menganggap Lady Gaga tanpa masalah. Apalagi harus mempersalahakan Polda yang menggagalkan konser dengan tuduhan-tuduhan yang miring. Dari awal Polda telah menegaskan jika putusan itu atas pertimbangan masukan dari semua pihak. Jadi bukan atas desakan ormas tertentu.

Mengapa Ditolak?
Kita harus cerdas melihat fenomena ini, agar kita tidak disesatkan opini. Berbekal fakta kontroversial diatas, di kolom ini penulis mencoba menegaskan kembali beberapa dalih yang menjadi landasan pikir dalam menyikipi fenomena Gaga tersebut;
Pertama, dalam konstitusi tepatnya pada Pasal 29 UU No. 44 Tahun 2008 secara tegas melarang pornoaksi dan pornografi dalam bentuk apa pun. Aksi panggung Lady Gaga terlalu vulgar, busananya terlalu sexi dan mengumbar aurat, implikasinya tidak mendidik. Ini tentu melawan undang-undang tersebut.
Lady Gaga dan erotisme, adalah dua sisi yang tidak terpisahkan. Atraksi panggungnya tidak pantas ditonton banyak orang.  Sekalipun kebebasan berekspresi dijamin dalam undang-undang, tapi efek moral yang akan di timbulkan dari konser tersebut terlalu mahal untuk kita bayar.
Kedua, tafsir agama dalam konteks ini adalah Islam, sangat jelas melarang untuk melihat dan memperlihatkan aurat kepada yang bukan muhrim/mahram.
Yang salah jika para aktivis agama menafikkan kemajemukan dan pluralisme agama di negeri ini. Sehingga memaksakan kehendak pada satu ajaran, sampai berujung aksi anarkisme. Islam tidak pernah mengajarkan anarkisme, karena Islam adalah rahmatan lil alamin.
Yang lebih keliru, kita seakan digiring untuk memojokkan satu ormas. Tanpa  pernah mencoba berpikir simetris, berpikir sebab bukan akibat saja. Karena tidak menutup kemungkinan aksi ormas anarkis, ditunggangi penumpang gelap.
Kemudian yang terakhir, semua aksi, style dan yang berkaitan dengan Gaga sangat bertentangan dengan Budaya Ketimuran. Perilaku Gaga adalah sebuah kebebasan tampa batas dalam berekspresi, konsep yang dicerca adab Timur yang mengutamakan unsur nilai, moralaitas, kultur dan agama tentunya.
Jangan sampai kita menjadi Bangsa yang gamang, tidak punya  peradaban, terombang-abing tampa prinsip. Ini tentu sebuah paradoks dengan apa yang dicita-citakan oleh Founding Father kita Bung Karno, untuk menjadi bangsa yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, berkepribadian di bidang budaya.
Terlalu radikal rasanya jika harus menyebut kedatangan Lady Gaga dalam rangka perang idiologis, mencabik budaya kita. Tapi melirik kembali track record  perjalanan karier dan aksi panggungnya, tidak salah jika menyebutnya demikian.
Menolak Lady Gaga dengan cara intimidasi ancaman kekerasan adalah suatu hal yang naif. Masih banyak cara yang lebih baik dan beretika yang dapat kita tempuh. Salah satunya dengan duduk bersama bermusyawarah untuk mufakat ala intelek.
Perbedaan pendapat harus disampaikan dengan cara yang baik. Memperjuangkan kebenaran sesuai aturan yang ada. Mereka yag menyebut dirinya Silent mayority harus membuka diri kalau masih ada yang lebih mayoritas menolak, dari pada mereka.
Sekalipun kita berbeda dalam menyikapi fenomena Gaga kita tetap harus berpandang paham, tidak saling mencela, karena kita adalah masyarakat timur yang pahan etika keadaban.
Satu yang menjadi catatan penting dari semua ini bahwa Lady Gaga dianggap keliru jika merasa bisa diterima di mana saja di seluruh dunia dengan segala sensasi dan kontroversi yang dia buat.***

Oleh;
Ismail Alimuddin
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas
Penulis: Aldy
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas