Kader Hanura: Hoist Urus Saja Partainya
Menurutnya, menang atau kalah dalam sebuah event politik tidak lantas membolehkan seseorang berhak "membunuh karakter" orang lain.
Tayang:
Editor:
Muh. Taufik
Makassar, Tribun-timur.com -- Kader Partai Hanura di Sulsel menyayangkan komentar
salah seorang elite Golkar Sulsel, Hoist Bachtiar yang meremehkan Ketua
Umum Partai Hanura, Wiranto. Kader Hanura meminta Hoist untuk tidak
mengurusi "dapur" partai lain.
Ketua DPC Hanura Kota Makassar, Jalaluddin Akbar mengatakan statemen yang dilontarkan oleh seorang Hoist Bahctiar sama sekali tidak etis dan tidak fair sebagai seorang politisi.
"Tidak seharusnya seorang legislator provinsi berucap seperti itu, tidak etis. Tidak perlu cara-cara seperti untuk menarik simpati atau untuk menjatuhkan lawan politik," kata Jalaluddin, Kamis (17/5/2012).
Menurutnya, menang atau kalah dalam sebuah event politik tidak lantas membolehkan seseorang berhak "membunuh karakter" orang lain. Bagi kader Hanura, Wiranto tetap menjadi tokoh kunci.
Terpisah, anggota DPRD Sulsel dari Partai Hanura, Mukhtar Tompo meminta Hoist untuk tidak sibuk mengurusi urusan internal partai Hanura. Ia enggan untuk mempolemikkan masalah ini.
Menurutnya, Wiranto adalah tokoh nasional dan tidak cukup waktu untuk memperbincangkan karya dan pengabdiannya kepada negeri ini.
Sebagai sesama kader partai politik, Muhtar berharap tidak perlu ada saling menyindir dan menganggap remeh hal-hal yang di luar kapasitas untuk dikomentari.
"Tidak usahlah saya komentari, kita fokus masing-masing pada partai kita. Lebih baik pikirkan ranah kita masing-masing," kata Muhtar.
"Kedigdayaan partai-partai tertentu selama ini bukan tidak mungkin akan terbalik keadaannya pada pemilu 2014 nanti," lanjut Muchtar.
Sebelumnya, Hoist menilai ketokohan mantan calon presiden RI Partai Golkar, Wiranto di Sulsel tidak terlalu berpengaruh. Terbukti beberapa kali pencalonannya tidak pernah menang sekalipun.
"Apa mi kodong itu Wiranto. Berapa kali-mi maju selalu kalah," kata Hoist, kemarin
Ketua DPC Hanura Kota Makassar, Jalaluddin Akbar mengatakan statemen yang dilontarkan oleh seorang Hoist Bahctiar sama sekali tidak etis dan tidak fair sebagai seorang politisi.
"Tidak seharusnya seorang legislator provinsi berucap seperti itu, tidak etis. Tidak perlu cara-cara seperti untuk menarik simpati atau untuk menjatuhkan lawan politik," kata Jalaluddin, Kamis (17/5/2012).
Menurutnya, menang atau kalah dalam sebuah event politik tidak lantas membolehkan seseorang berhak "membunuh karakter" orang lain. Bagi kader Hanura, Wiranto tetap menjadi tokoh kunci.
Terpisah, anggota DPRD Sulsel dari Partai Hanura, Mukhtar Tompo meminta Hoist untuk tidak sibuk mengurusi urusan internal partai Hanura. Ia enggan untuk mempolemikkan masalah ini.
Menurutnya, Wiranto adalah tokoh nasional dan tidak cukup waktu untuk memperbincangkan karya dan pengabdiannya kepada negeri ini.
Sebagai sesama kader partai politik, Muhtar berharap tidak perlu ada saling menyindir dan menganggap remeh hal-hal yang di luar kapasitas untuk dikomentari.
"Tidak usahlah saya komentari, kita fokus masing-masing pada partai kita. Lebih baik pikirkan ranah kita masing-masing," kata Muhtar.
"Kedigdayaan partai-partai tertentu selama ini bukan tidak mungkin akan terbalik keadaannya pada pemilu 2014 nanti," lanjut Muchtar.
Sebelumnya, Hoist menilai ketokohan mantan calon presiden RI Partai Golkar, Wiranto di Sulsel tidak terlalu berpengaruh. Terbukti beberapa kali pencalonannya tidak pernah menang sekalipun.
"Apa mi kodong itu Wiranto. Berapa kali-mi maju selalu kalah," kata Hoist, kemarin