Evakuasi Korban Pesawat Sukhoi
Warga Berbondong-bondong ke Desa Cipelang
untuk menyaksikan proses evakuasi korban jatuhnya pesawat buatan Rusia, Sukhoi Superjet100 di Gunung Salak
Bukan hanya warga sekitar, dari kejauhan pun datang untuk menyaksikan proses evakuasi korban jatuhnya pesawat buatan Rusia, Sukhoi Superjet100 di Gunung Salak, Rabu lalu.
Keramaian ini terjadi sejak Jumat kemarin. Ribuan orang menonton dua helikopter, jenis Super PUMA milik TNI Angkatan Udara, dan heli jenis Folco milik Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas).
Helikopter Super PUMA akan digunakan mengevakuasi korban. Untuk angkutan sipil, heli ini mampu mengangkut 12 orang dewasa. Sedangkan versi militer, sering digunakan mengangkut satu regu pasukan, yang berjumlah 16-18 orang. Sedangkan Falco, ukurannya lebih kecil, daya angkut, 4-5 orang, termasuk pilot.
Daleh, warga Leuwiliang, Bogor, mengaku sengaja datang jauh menuju Cipelang, dekat perbatasan Kabupaten Bogor dengan Sukabumi. Dia menempuh perjalanan seorang diri mengendarai sepeda motor.
"Waktu tempuh ke sini, kurang lebih dua jam perjalanan dari Leuwiliang. Selain jauh, juga karena macet, makanya lama," ujar Daleh.
Maksud kedatangan ke Cipelang, kata Daleh, ingin menonton saja, penasaran melihat korbannya. "Kalau ngelihat sendiri puas, tidak hanya mendengar cerita orang," ujar Daleh sambil asyik memotret helikopter Puma milik TNI AU menggunakan kamera telepon selulernya.
Bukan Daleh sendiri yang berpendapat begitu. Ada ribuan orang yang berdatangan ke lokasi untuk mengatasi rasa keingintahuannya.
Kemarin, warga berjejer di pinggir lapangan, bahrkan masuk ke lapangan mendekati helikopter. Sebagian bahkan menaiki bukit di sisi barat dan utara lapangan.
Tapi pagi ini, saat proses evakuasi korban Sukhoi akan dilakukan, lapangan itu dijaga ketat anggota TNI dari Lanud Atang Sendjaya, Bogor. Plastik garis polisi pun dibentangkan dari sisi timur dan selatan, arah datangnya warga.
"Ini kan kejadian yang jarang terjadi. Ini mengundang penasaran, itulah yang mengundang saya ke sini. Dan kebetulan ramai di sini," ujar Dadung, warga Cipelang.
Dadung mengatakan jatuhnya pesawat ini suatu keanehan. "Sekalipun canggih teknologi musibah ini sekaligus menunjukkan, Tuhan punya kehendak luarbiasa. Biarpun teknologi Sukhoi hebat, canggih, dan bisa mendeteksi apa-apa, tetapi ternyata tetap saja ada kecelakaan. Jadi ini ada hikmahnya buat kita manusia, ini kodratnya Tuhan," kata Dadung, kakek dengan suara bariton.(*)