Kamu Karyawan? Coba Cek yang Mana Tipemu
Kamu Karyawan? Coba Cek yang Mana Tipemu
Terdapat empat tipe perilaku karyawan di kantor. Masing-masing tipe ternyata menentukan prestasi, mengapa? Karena perilaku sangat berkaitan dengan produktivitas dan hasil kerja, termasuk dengan hubungan dengan sekitar Anda. Perilaku ini juga berpengaruh terhadap penilaian atasan kepada Anda. Termasuk tipe pekerja yang manakah Anda?
Job Lover: “Tugas baru, tantangan baru. Pekerjaan yang menarik!”
Cirinya?
Tahu seluk beluk sejarah perkembangan perusahaan dengan baik, tidak
sungkan melewatkan makan siang atau waktu rehat dengan asik bekerja,
punya banyak teman seprofesi di perusahaan lain, serta rela memanfaatkan
waktu luang untuk belajar dan menambah keahlian di bidangnya. Karyawan
dengan tipe seperti ini sangat mencintai pekerjaannya, selalu
menempatkan pekerjaan sebagai tantangan yang mengasyikan walaupun itu
menyita banyak waktu.
Hebatnya, karyawan seperti ini jarang
sekali mengeluh tentang pekerjaannya. Mereka cenderung perfeksionis
karena belum merasa puas kalau pekerjaan mereka belum sempurna, dan akan
terus berusaha hingga mereka anggap itu sempurna. Mereka juga tidak
sungkan untuk menawarkan diri membantu karyawan yang lain. Namun
hati-hati ya, work hard tanpa play hard tidak baik. Jika tingkat stres semakin meninggi, bisa jadi tubuh ikut merugi.
Job Doer: “Baik, akan saya kerjakan tugasnya”
Cirinya?
Bertanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan, suka atau tidak.
Mengerjakan pekerjaan sampai tuntas dan selesai karena merasa itulah
tugasnya sebagai karyawan. Namun, jika pekerjaan mereka telah selesai,
mereka lebih memilih untuk bersenang-senang dibandingkan berurusan
dengan pekerjaan, sampai diberi tugas selanjutnya. Karyawan dengan tipe
seperti ini juga jarang terlihat mengeluh karena menurut mereka itu
bukan porsinya. Bagi mereka, intinya jika tugas sudah diberikan,
dikerjakan dengan baik, dan harus selesai dengan baik pula.
Baiknya karena mereka bisa menyeimbangkan antara waktu bekerja dengan waktu untuk bersenang-senang. Namun sayangnya karyawan dengan tipe seperti ini kurang mempunyai inisiatif untuk bertanya apakah mereka bisa mengerjakan sesuatu yang lain, karena mereka menganggap semua karyawan sudah diberikan pekerjaan sesuai dengan porsi atau bagiannya masing-masing. Tapi bukan berarti ketika dimintai bantuan mereka tidak mau menolong, justru mereka selalu siap dan bisa diandalkan.
Job Hater: “Duh, kenapa tugas saya banyak sekali sih?”
Cirinya?
Diberi tugas A, mengeluh. Diberi tugas B, mengeluh. Sepertinya diberi
tugas apapun akan dikerjakan dengan diwarnai keluhan ini dan itu. Rajin
dalam urusan komplain dan mengkritik perusahaan atau tugasnya. Walapun
mungkin mereka tidak menunjukkan secara langsung di depan atasan. Karena
terkadang yang menjadi sasarannya adalah rekan kerja di samping kanan
dan kirinya, serta si keyboard komputer. Hal ini bisa disebabkan karena
pada dasarnya mereka kurang menyukai bidang pekerjaan mereka. Walapun
pada akhirnya mereka menyelesaikan tugas yang diberikan hingga selesai.
Sikap
profesional sangatlah penting. Sebagai karyawan, sudah menjadi
kewajiban untuk mengerjaan tugas yang diberikan dengan baik dan
semaksimal mungkin. Mencintai pekerjaan sangat perlu, namun bila tidak
kunjung cinta terhadap pekerjaan, mengapa tidak mencari yang lebih baik
dan sesuai minat dan bakat? Pekerjaan akan terasa lebih ringan bila
dikerjakan dengan hati senang. Daripada menularkan energi negatif, lebih
baik pancarkan energi positif.
Job What? “Saya tidak tahu harus bagaimana caranya menyelesaikan tugas ini!”
Cirinya?
Ketika diberikan pekerjaan, yang terlintas di pikiran adalah “Apa yang
harus saya lakukan?”. Jangankan untuk mengeluh, menentukan dari mana
harus memulai pekerjaan saja bingung. Jangankan untuk mengerjakan hingga
tuntas, pekerjaan yang diberikan mungkin tidak pernah mereka kenal
sebelumnya.
Kok bisa ya? Perasaan terjebak atau tidak sengaja terjerumus dalam sebuah bidang pekerjaan bisa disebabkan karena mereka terpaksa menerima pekerjaan karena ketika itu hanya bidang pekerjaan ini yang memberikan kesempatan. Tidak ada salahnya untuk mengambil kesempatan, asalkan giat untuk mencari tahu dan belajar dari nol. Mereka dapat belajar dari kesalahan dan pengalaman orang lain, walau membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Orang sukses dan hebat justru harus memulai dari nol, bukan dengan cara yang instan, kan?