Orang Pendek di Pegunungan, Rekayasa atau Misteri?

bisa jadi, sosok orang pendek itu dari dulu sengaja diciptakan untuk melindungi kekayaan hutan

Orang Pendek di Pegunungan, Rekayasa atau Misteri?
marco polo, menyebut orang pendek di pegunungan hanyalah rekayasa

Itulah sosok ”orang pendek” yang kerap digambarkan sejumlah penduduk di sekitar kawasan hutan Danau Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci yang masuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi. ”Ayah saya dulu pawang Gunung Tujuh, ia pernah cerita ketemu ’orang pendek’. Banyak orang lain yang juga ketemu,” kata Ali Akbar (70), warga Air Jernih, Gunung Tujuh.

Tak semua penduduk lokal percaya dengan cerita ini. Sebagian menganggapnya hanya sekadar dongeng. Warga di sekitar Kerinci terbelah antara percaya dan tidak terhadap keberadaan makhluk ini. Mereka juga berdebat apakah makhluk itu sebenarnya binatang sejenis monyet atau manusia.

”Kalau saya belum pernah melihatnya sehingga susah percaya,” kata Usansudin, Kepala Desa Pesisir Bukit, Kecamatan Gunung Tujuh. ”Tapi banyak yang mengaku pernah melihat. Salah satunya Pak Dharma Ilen di Desa Siulak Deras.”

Menurut Usansudin, cerita-cerita pertemuan itu biasanya terjadi tanpa disengaja. ”Biasanya waktu kesasar di hutan saat berburu. Kalau Pak Dharma ini ceritanya ketemu waktu survei mau bikin jalan. Orang pendek ini sedang berada di gua,” tuturnya.

Selama ratusan tahun, sosok ”orang pendek” telah membuat penasaran penjelajah, ilmuwan, maupun peneliti. Berbagai ekspedisi dilakukan untuk melacak sosok misterius ini.

Tak hanya di sekitar Kerinci, kisah tentang ”orang pendek” sebenarnya dikenal di berbagai tempat lain di Sumatera, dengan berbagai variasi nama. Antropolog Gregory Forth dalam bukunya, Images of the Wildman in Southeast Asia (2008) menyebutkan, di pesisir selatan Sumatera, orang pendek dikenal sebagai sedapa atau sedapak. Di Rokan (Riau) disebut sebagai leco. Di Bengkulu dikenal sebagai gugu, segugu, atau senggugu. Di Rawas (Sumatera Selatan) disebut sebagai atu rimbu atau atu rimbo, sedangkan di perbatasan Bengkulu dan Sumatera Barat disebut sebaba.

Walaupun cerita tentang orang pendek ini dikenal nyaris di seluruh Sumatera, namun perburuan modern tentang sosok ini banyak difokuskan di Jambi, terutama sekitar Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh.

Beberapa peneliti asing mengklaim telah bertemu dengan sosok misterius di dua gunung ini. Mereka mengklaim menemukan jejak kaki, rambut, atau bekas makanan ”orang pendek”. Namun, sampai saat ini tidak ada yang bisa menunjukkan wujud makhluk ini, kerangkanya, atau foto sekalipun.

Tanpa hasil

Kisah perburuan orang pendek Sumatera sebenarnya sudah berlangsung sangat lama. Salah satu referensi awal mengenai keberadaan ”orang pendek” berasal dari tulisan William Marsden di buku The History of Sumatera yang terbit pertama pada 1783. Marsden, pegawai asal Inggris di East India Company yang berbasis di Bengkulu pada 1770-an, menyebut soal orang gugu yang dideskripsikannya dengan tubuh yang ditutupi bulu. Namun, Marsden tidak mendeskripsikan tinggi orang gugu ini.

Kisah berikutnya disampaikan orang Belanda yang tinggal di Sumatera Selatan, Van Heerwarden. Dia melaporkan, melihat orang pendek di atas pohon di hutan di sebelah utara Palembang pada 23 Oktober 1923. Menurut dia, bulu di bagian depan tubuh lebih terang dibanding di bagian belakang dengan tinggi badan sekitar 150 sentimeter. Menurut dia, makhluk itu lari dari hadapannya dengan menggunakan kedua kakinya.

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Ridwan Putra
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help