Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Proletariat Gaya Baru

ABAD 17 di Eropa adalah babak baru umat manusia dalam menapaki sejarah, terhadap sistem ekonomi dan politik yang mengejutkan dan signifikan.

Tayang:
ABAD 17 di Eropa adalah babak baru umat manusia dalam menapaki sejarah, terhadap sistem ekonomi dan politik yang mengejutkan dan signifikan. Betapa tidak, dunia dikejutkan oleh temuan James Watt berupa mesin mekanis yakni mesin uap.
    Kemajuan dibidang fisika adalah merupakan buah dari era abad pencerahan, yang mencetak manusia dengan terobosan berpikir yang revolusioner.Pada era itu, akal menjadi pendulum dalam menuntun kehidupan manusia. Pada era itu pula, berakhirnya cara berpikir dogmatik, dan menutup zaman abad kegelapan.
    Dengan penemuan mesin uap, sistem industri menjadi lebih efisien dan praktis.Sistem kerja industri, yang sebelumnya dikelola secara manual atau tangan manusia, merubahsistem kerja yang signifikan. Pengurangan tenaga kerja (Baca : buruh), menjadi dampak dari industri demi alasan efisiensi.
    Dampak terparah yang terjadi adalah, tingginya tingkat pengangguran hampir seluruh di daratan Eropa.Tak terkecuali juga terjadi di Amerika, sebagai negara baru pada saat itu.Kondisi tersebut, merembes mempengaruhi pola sistem ekonomi politik.Era kemajuan teknologi fisika, membuka babak baru yakni "Revolusi Industri".
Kapitalisme Klasik
    Salah satu ciri dan watak kapitalisme klasik adalah, persaingan tanpa batas.Dengan ciri dan watak tersebut, melahirkan sistem monopoli sektor seluas-luasnya.Berubahnya cara kerja manual, dengan bertumpu pada kerja mesin, membuat penghasilan para pemilik modal, menjadi berlipat ganda.
    Para kompetitor yang tidak dapat bersaing, akan tergilas oleh derasnya watak persaingan. Derasnya persaingan dan lemahnya kontrol negara, membuat jurang yang dalam, antara para pemilik modal dan rakyat pekerja.
    Para pemilik modal, dengan kekuatan modalnya, justru semakin mengintervensi negara dalam pembuatan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada mereka. Di sisi lain, memunculkan ketidakpuasan pada segmen masyarakat jelata. Sehingga, lahirlah sebuah pergolakan sosial, pada saat itu yakni perang klas.
    Perang klas, bukanlah suatu perang antara miskin dengan kaya, tapi pada ketimpangan kepemilikan alat-alat dan media produksi.Alat-alat dan media produksi, seperti pabrik, mesin-mesin pengolahan, tanah dan sumber- daya alam, serta sektor keuangan seperti bank, semuanya dikuasai oleh kelas para pemodal.  
    Satu sisi, rakyat jelata, dalam kondisi sebagai klas kaum yang terpinggirkan, tidak dapat mengakses sektor-sektor tersebut,  Sementara itu, negara semakin kehilangan relevansinya sebagai media kontrak sosial. Sehingga era itu, sistem hidup berekonomi, bertumpu pada perdagangan, dengan basis  budaya masyarakat pasar. Sistem masyarakat pasar, didasarkan pada geliat hukum pasar, yakni hukum supply and demand.
    Doktrin bebas-biarkan pasar bekerja dengan takdir invisible hand-nya, tanpa intervensi pemerintah, sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran ekonomi pasar bebas. "Dengan membiarkan mekanisme pasar bekerja tanpa kontrol moral, akan terjadimonopoli dan menciptakan ketak-kesetimbangan perdagangan"(Adam Smith, The Morals of Sentiment, 1776)
    Ketika perebutan sumberdaya dalam negeri,  yang diperebutkan makin berkurang, maka ekspansi ke negara-negara tetangga, bahkan negara yang jauhpun menjadi incaran untuk pengejaran akumukasi modal. Sejarah mencatat, terjadi krisis produksi dan moneter yang menyebabkan Perang Dunia pertama.Dan pada tahun 1930-an, dilanjutkan krisis besar (Great depression) dan berujung Perang Dunia kedua pada tahun 1945.

Euforia Sosialisme
    Derasnya geliat kapitalisme, dengan spirit akumulasi dan pengejaran nilai lebih, menimbulkan dampak  terburuk, yakni tingginya tingkat pengangguran. Karena asumsi efisiensi, maka pengurangan tenaga kerja manusia dikurangi.Yang terlihat kemudian, semakin banyak orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja secara sepihak.Kalaupun masih ada tenaga kerja yang dipekerjakan, tentu dengan jumlah jam kerja yang sangat panjang.
    Ditambah lagi kurangnya tanggung jawab negara, dalam pemenuhan penyediaan lapangan kerja.Terakumulasinya pengangguran yang tinggi, sehingga menimbulkan dampak sosial, seperti kelaparan dan kriminal.Dengan kondisi tersebut, tersadar dari tidur panjang, kaum pekerja, menyadari bahwa, saatnya melakukan upaya-upaya perbaikan hidup yang adil dan manusiawi.
    Lahirnya tokoh-tokoh ideologis membuat kaum pekerja semakin mendapatkan kekuatan barunya.Pada saat itu, hampir seantero daratan Eropa, dilanda demam perubahan.Pencarian dan telaah teori perubahan sosial, mencapai puncaknya ketika memasuki abad ke 19.
    Sebagai akumulasinya adalah pecahnya perlawanan kaum pekerja, dengan semangat ideologisnya. Hanya beberapa tahun saja, perubahan ekonomi politik yang paling mendasar terjadi di Eropa. Lalu terus merembes ke negara-negara dunia ketiga.
    "Dengan teralienasinya kaum pekerja dari hasil kerjanya, maka yang terjadi adalah penghisapan yang tak berujung. Karena kaum pekerja tidak menyadari, akan kekuatannya sebagai kaum produktif, dan membiarkan dirinya larut dalam ketidaktahuan" (Karl Marx, Kemiskinan Filsafat, 1878)
    Efek psikologis dari krisis global ini, melahirkan efek moral bagi para pemodal global.Sejarah kapitalisme pada setiap krisis, sering bermanuver lebih terbuka dan lebih ramah.Ini upaya untuk mengangkat sektor riil agar lebih produktif. Padahal kenyataannya, dengan memberikan sedikit bantuan pada sektor riil, dari para pemodal, semata-mata hanya untuk mempertahankan  singgasana moneternya.
    Karena hanya dengan meningkatnya produksi untuk komoditas, atau produksi,akanmenopang keuangan. Sehingga,uang dapat berputar dan menemukan nilainya.Adalah, Kapitalisme Moral-nya Adam Smith, Kapitalisme Humanis-nya F. Engels, Kapitalisme Kreatif-nya Bill Gates, sebagai injektor di masa krisis.

Anak Zaman
    Kesadaran para pekerja atau buruh dari tahun ke tahun meningkat pesat. Bersatu, berorganisasi dan berserikat merupakan bukti bahwa pekerja sudah sadar  akan kekuatannya. Terpenting adalah, defenisi buruh bukan lagi defenisi buruh gaya abad ke 17 di Eropa. Yang hanya sektor industri pabrikan dan buruh transportasi saja.
    Tapi, defenisi buruh lebih modern dan sifatnya meluas. Para petani dan nelayan pada sektor produksi.Para karyawan sektor jasa, seperti guru, dosen, dokter, pengacara, jurnalis dan khusus mahasiswa (paling tidak calon buruh).
    Tidak terkecuali masyarakat miskin kota dan kaum urban, semuanya masuk dalam defenisi baru dalam perspektif klas buruh. Inilah yang dimaksud dengan proletar gaya baru.
Perjuangan dan tuntutan pragmatik, akan kehidupan yang lebih baik, adalah kenaikan upah kerja layak, penghapusan out-sourching. Keselamatan kerja yang memadai, penghapusan PHK sepihak, penghentikan union basting, perlakuan manusiawi terhadap buruh perempuan.Jika tidak, maka terjadi gerakan sosial atau people power, yang daya rusaknya sangat dahsyat.
    Kapitalisme dan sosialisme atau jurus apapun namanya, semuanya  bertujuan untuk kesejahteraan bagi umat manusia. Pilihannya kemudian  adalah, kekuatan dan moralitas serta kecerdasan berpolitiklah yang keluar sebagai pemenangnya. Bagi penulis, ini bukan soal kapitalisme ataupun marxime, tapi yang terpenting adalah pikiran jangan dibodohi..!

Oleh: M Taufik Kasaming

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved