Peranan Linguistik dalam Ibadah Salat
Bacaan-bacaan seperti ini hanya sebatas parol yang kehilangan langue di dalamnya.
Penulis: Aldy | Editor: Aldy
Bahasa bukan hanya alat untuk berinteraksi sosial antara sesama manusia atau alat untuk adaptasi lingkungan bagi seseorang, tapi dengan bahasa manusia dapat pula memenuhi kebutuhan spiritualnya untuk menghadap keharibaan Allah Subnahu Wataala, Tuhan Maha Kuasa, dalam beribadah. Berdoa dengan mengharapkan ketenangan batin dan keselamatan dunia dan akhirat.
Karena itu tidaklah mengherankan jika manusia pertama, Adam, diajar lansung oleh Tuhan tentang bagaimana berbahasa (al-asmaa, nama-nama), agar dapat mengerti dan menamai segala sesuatu yang ada di alam sekelilingnya. Juga dari pengajaran itu ia pula mengenal nama-nama Allah dan cara bertauhid dan cara bersembahyang kepada-Nya.
Setelah lancar berbahasa dan mengetahui berbagai nama di alam sekelilingnya dan cara pemanfaatannya, ia diuji kebolehannya di hadapan para makhluk lain. Ternyata kecerdasannya mengagumkan.
Akhirnya, Adam menjadi makhluk terhormat karena memiliki pengetahuan yang dapat menuntunnya untuk mampu beribadah dan hidup berbudaya bersama keturunannya, dan mengharuskan para malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah (Q.S. 2: 31-35). Itulah sebabnya, Bloomfield, seorang linguist Amerika berkata Langauge plays a great part of our life. Perhaps because of its familiarity, we rarely observe it, taking it for granted, as we do breathing or walking.
Pada dasarnya hakikat bahasa adalah kumpulan makna yang tertabung dalam memori manusia yang dapat menghubungkannya dengan wilayah empiris (alam syahadah, dunia nyata) dan juga dapat menghubungkannya dengan wilayah metafisik (alam gaib). Pada alam nyata bahasa berupa kata-kata atau kalimat sebagian dapat disaksikan lansung materi rujukannya (reference).
Meskipun sebagian yang lainnya, rujukannya hanya dapat dipahami oleh akal pikiran atau dirasakan oleh hati manusia, seperti kata keadilan, cinta, bahagia, dan lainnya.Tapi dalam wilayah metafisik benar-benar pengertianlah melalui alam kesadaran, dan alam keyakinan yang menjadi referencenya, karena tak seorangpun dapat menyaksikan secara kasat mata tentang masalah gaib, khususnya berhubungan zat Allah swt.
Perdinan de Saussure menyebut kumpulan makna di dalam memori manusia sebagai langue dan ujaran atau bunyi suara seseorang yang keluar ketika berbicara disebut dengan parol. Antara langue dan parol tak dapat dipisahkan, bagaikan dua sisi mata uang.
Barthes (2007) menyatakan bahwa konsep dikotomis bahasa, langue dan parole adalah multiforma dan heteroklit (berkombinasi). Sebuah realitas yang tidak bisa dipisah-pisahkan, sebuah keutuhan unit, sebab realitas ini termasuk dan sekaligus dalam segala yang fisik (le physique), segala yang fisiologis (le physiologieque), dan segala yang psikologis (le physchologique), termasuk juga dalam segala yang individual (individuel) dan segala yang sosial (le social).
Konsep Langue
Meskipun konsep langue bersifat abstrak, tapi dapat digambarkan sebagai sebuah institusi sosial yang menampung nilai-nilai (valeur).
Pada hakikatnya langue menjadi suatu kontrak kolektif dalam sebuah komunitas. Siapapun yang ingin menggunakannya untuk berkomunikasi harus tunduk sepenuhya pada aturan-aturan, norma-norma yang ada di dalamnya.
Aspek langue inilah yang memungkinkan terjadinya komunikasi simbolik antar manusia karena ia dimiliki bersama (fenomena milik kolektif). Langue merupakan sebuah sistem, sebuah fakta sosial yang bersifat alamiah tanpa disadari. Berbeda halnya dengan parole, sebagai wujud atau aktualisasi dari langue dalam lisan maupun tulisan.
Suara Simbolik
Parole atau tuturan adalah apa yang kita wujudkan ketika kita menggunakan suatu bahasa dalam percakapan atau menyampaikan pesan tertentu lewat suara-suara simbolik dari mulut kita.
Parol dan langue memerlukan harmonisasi.
Maksudanya apa yang dituturkan telah dipahami maknanya, begitu pula apa yang dipahami dapat dituturkan atau dirasakan dalam jiwa akan maknanya. Inilah proses signifikasi, atau hubungan timbal balik antara bunyi ujaran dengan maknanya.
Bila suatu kata atau kalimat yang diucapkan tapi tidak tersimpan makna atau pengertiannya di dalam pikiran, maka tidak terjadi proses signifikasi. Artinya dalam pikiran seseorang tidak ada langue atas ujaran yang diucapkannya.
Maka tidaklah sempurna ucapan sebagai sebuah bahasa jika tidak menimbulkan proses pemaknaan dalam akal pikiran. Makanya ketika seseorang shalat tapi bacaan-bacaan dalam shalatnya tidak diketahui maknanya maka tidak dapat memberi pengaruh baik terhadap dirinya.
Bacaan-bacaan seperti ini hanya sebatas parol yang kehilangan langue di dalamnya. Salat seperti ini susah mendatangkan hakikat khusyu yang sebenarnya. Jiwa susah terlibat secara maksimal di dalamnya, karena tidak memahami apa yang dibaca. Dari segi pahala dan keabsahan salat itu adalah hak Allah, selama telah dipenuhi syarat-syaratnya.
Tapi permasalahannya kemudian adalah salat yang dilakukan sangat kecil peranannya dalam kehidupan rokhaniah, karena sang hamba kehilangan kesempatan untuk bercengkerama dengan zat yang Maha Kuasa, karena ia tidak mengerti apa yang dibacanya. Padahal salat di samping bernilai ukhrawi, dapat pula mencegah menusia dari perbuatan mesum dan kezaliman.
Salat adalah obat penyakit rokhniah, obat penyakit mental, juga dapat menyebuhkan berbagai macam penyakit fisik, asalkan salat dilaksanakan sesuai tuntunannya, sempurna tumaninahnya dan dimengerti apa yang dibaca di dalamnya. Itulah perwujudan kekhusyuan di dalamnya.
Derajat Ihsan dalam ibadah adalah seseorang menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya, bila tidak melihat-Nya niscaya Dia dapat melihat hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya. Seolah-olah melihat Allah dalam salat adalah peringkat yang paling tinggi dalam Ihsan, tentunya derajat ini pula berproses dari terbukanya hijab yang satu ke hijab lainnya dalam pertemuan dengan Maha Pencipta. Pertemuan di sini adalah berfungsinya penglihatan mata batin dalam rasa cinta, dalam pengharapan, dan dalam rasa ketakutan kepada-Nya melalui zikir, doa dan bacaan-bacaan yang ada dalam salat.
Oleh sebab itu, janganlah seseorang puas dengan cara salat yang dilakukan selama ini. Marilah kita belajar sekali lagi bagaimana salat menjadi tempat bercengkerama dengan zat yang Maha Kuasa melalui pemahaman akan makna dan kandungan apa yang dibaca dalam salat.
Kalau perlu juga mengetahui fadilah-fadilahnya doa-doa dan bacaan salat, sehingga semakin menambah keseriusan beribadah kepada Allah swt. Akhirnya buah salat benar-benar dapat diperoleh baik dunia maupun akhirat kelak.***
Oleh;
Ayub Khan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya dan Humaniora Unhas