Senin, 22 Desember 2014
Tribun Timur

Pusaka Kerajaan Bone Dibersihkan Dengan Air Tujuh Sumur

Kamis, 5 April 2012 14:10 WITA

Laporan: A Tenri Anna Humas dan Infokom Setda Bone

TRIBUN-TIMUR.COM -- Mattompang Arajang merupakan sebuah prosesi adat pencucian benda-benda pusaka Kerajaan Bone. Upacara Mattompang pertama kali dilaksanakan sejak Hari Jadi Kabupaten Bone dirayakan pada 6 April untuk pertama kalinya.
Ritual Mattompang tersebut dilakukan dalam beberapa tahap. Dimulai dengan Mallekke Toja yaitu pengambilan air di tujuh sumur untuk pembersihan arajang beberapa hari sebelumnya. Dua di antaranya berasal dari sumur kerajaan yaitu sumur laccokkong di Laccokkong dan sumur “ittello” di Lassonrong serta lima sumur bissu yang terletak di Lampoko.
Dilanjutkan dengan Matteddu Arajang atau mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempatnya yang kemudian dibawa ke tempat Mattompang oleh para bissu untuk kemudian “diappesabbiangngi” atau diperlihatkan kepada Bupati Bone, H.A.Muh.Idris Galigo.SH, Kapolres Bone, AKBP.R.Andarias M, dan Dandim 1407, Letkol Inf. Heron Dominikus, Anggota DPRD Propinsi Sulsel, H.A.Irsan Galigo,ST.,MM, kepala SKPD dan para undangan yang hadir.
Tahapan selanjutnya adalah “memmang to rilangi” atau kata-kata yang diucapkan oleh bissu yang berisi permohonan izin untuk membersihkan arajang. Dilanjutkan dengan inti acara yaitu “massossoro /mattompang arajang” atau mencuci benda-benda pusaka yang dilakukan oleh empat orang panre bessi diiringi dengan “sere alusu” atau gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tujuh bissu dan musik genrang “bali sumange”, “ana beccing”, dan “kancing”.
Benda-benda pusaka yang ditompang meliputi Kelewang LaTea RiDuni, Keris La Makkawa, Tombak La Sagala, Kelewang Alameng Tata Rapeang yang merupakan senjata Raja Bone ke XV Arung Palakka dalam menghadapi setiap peperangan. “Teddung Pulaweng” atau payung emas yang merupakan tanda persaudaraan dari Raja Pariamang kepada Raja Bone ke XV Latenri Tatta Arung Palakka. Serta “Sembang Pulaweng” atau Selempang Kerajaan yang berupa untaian padi dari emas murni seberat 5 kg dan sepanjang 170 cm .
Payung Pulaweng, Keris Lamakkawa, Pedang Latea Riduni, tombak Lasagala, dan Selempang Kerajaan merupakan syarat perlengkapan utama dalam setiap pelantikan Raja-Raja di tana Bone seperti dalam Lontara “Na Iya Tanranna MangakuE Ri Bone, Iyana Ritu Tappiengngi Lamakkawa, Nappaduangi Latea Ri Duni, Nakatengingi Lasalaga, Mappangara Ri Lacaloko, Nappajungi Pajung Pulaweng”. Yang berarti yang menjadi Tanda Mangkau (Raja) Bone adalah yang memakai Lamakkawa dan Latea Ri Duni, bertongkat tombak Lasagala, mengambil sawah di Lacaloko serta dipayungi payung emas.
Menurut Bupati Bone, H.A.Muh.Idris Galigo,SH, “Mattompang bukan hanya sekedar prosesi tapi lebih kepada pelestarian budaya dan wujud dari rasa cinta kita kepada sejarah dan kebudayaan Kerajaan Bone. Salah satunya yang telah kita lakukan adalah mematenkan Songko To Bone di kementrian Hukum RI, sambung Bupati Bone dua periode tersebut.
 “Pembersihan benda-benda pusaka Kerajaan bone diadakan setiap tahunnya sehari sebelum puncak acara HUT Kabupaten Bone pada tanggal 5 April dalam acara Pra-Mattompang. Sedangkan prosesi Mattompang pada tanggal 6 April lebih merupakan ceremonial budaya dimana pada momentum tersebut benda-benda pusaka Kerajaan Bone bisa dilihat oleh masyarakat umum.” tambah Drs. Bakhtiar, Kabag Humas & Infokom Setda Bone.
Penulis: CitizenReporter
Editor: Ina Maharani

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas