A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Jadilah Politisi Sejati - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Jadilah Politisi Sejati

Selasa, 13 Maret 2012 09:00 WITA
Jadilah Politisi Sejati
Bahrul Ulum
<!--[if gte mso 9]><xml> Normal 0 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 10]> <style> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman";} </style> <xml> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]-->

Jadilah Politisi Sejati

Bahrul ulum Ilham

(Aktifis HTI Sulsel)

Jelang pilkada para kandidat gubernur atau bupati/walikota makin massif berkampanye. Berbagai baliho iklan, papan pengumuman, spanduk, dan semacamnya bertebaran memenuhi ruang publik. Para kandidat berlomba menebar pesona disertai untaian kata memikat berharap dikenal secara luas di masyarakat. Bukan hanya politisi, pengusaha, pensiunan, artis, dan keluarga pejabat pun ramai-ramai mencalonkan diri jadi kepala daerah.

            Saat musim pilkada, publik akan disuguhi hadirnya politisi dadakan. Politisi musiman ini  hanya muncul saat jelang pilkada dan kehadirannya bukanlah karena pertimbangan perjuangan ideologis. Mereka hanyalah politisi semu yang sekedar mengejar kekuasaan, karena jabatan baginya sebagai posisi yang menjanjikan kemakmuran, kehormatan, dan kemudahan mendapatkan akses bagi kepentingan hidupnya.

Keberadaan suatu negeri salah satunya ditentukan oleh aktivitas para politisinya. Kalau suatu negeri lebih banyak politisi semu atau para politisi itu sendiri yang mengalami krisis, maka dipastikan kehidupan suatu negeri akan karut marut seperti dialami Indonesia saat ini.

Sudah jadi perbincangan umum, maraknya korupsi di setiap lini kehidupan di negeri ini karena ulah para politisi yang seringkali hanya berorientasi kekuasaan dan materi semata.  Dengan mengeluarkan dana besar untuk menjadi kepala daerah dan anggota legislatif maka saat berkuasa yang dilakukan adalah bagaimana caranya bisa balik modal.

 

Politisi Semu

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa politisi sama dengan politikus. Keduanya bermakna ahli politik, ahli kenegaraan dan orang yang berkecimpung dalam bidang politik.  Faktanya kini politisi lebih dimaknai sebatas orang-orang yang bergelut dalam kekuasaan. Mulai dari kepala negara hingga para anggota dewan disebut sebagai politisi.

Dalam kenyataannya, mereka yang memproklamirkan diri sebagai politisi lebih beraktivitas dengan memasang iklan di televisi yang menelan biaya ratusan miliar rupiah, menengok rakyat di pasar hanya pada saat menjelang Pemilu atau Pilkada. Di gedung parlemen, bukan merupakan rahasia umum amplop bertebaran di mana-mana.

Padahal dalam Islam, politik bermakna ri’âyah syuûni an-nâs, yakni mengurusi urusan masyarakat. Berdasarkan hal ini politisi/politikus mestinya adalah orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam mengurusi urusan rakyat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki cara berpikir untuk mengurusi pemerintahan dan urusan rakyat; memiliki sikap jiwa (nafsiyah) yang baik; memiliki keahlian dan kemampuan untuk menjalankan perkara kenegaraan; menyelesaikan problematika kerakyatan yang tengah dihadapi dan menuntaskannya penuh kebijaksanaan dan keadilan.

Mereka juga adalah orang-orang yang mampu mengatur berbagai interaksi dengan masyarakat dan antar anggota masyarakat. Jadi, politisi sejati memokuskan perhatiannya pada urusan rakyat serta berjuang demi kebaikan dan keberkahan rakyat. Berbeda dengan itu, politisi semu hanyalah memikirkan kepentingan dirinya atau kelompoknya

 

Kegagalan Parpol

Realitas menunjukkan ada beberapa penyebab lahirnya para politisi semu, antara lain kegagalan ideologisasi partai.  Survei Indo Barometer 2008 misalnya menemukan mayoritas pemilih (63,1%-72,3%) menyatakan kesulitan mengidentifikasi perbedaan sikap politik dan kebijakan ekonomi partai-partai dan 43,3% menyatakan tidak ada bedanya partai Islam dengan partai sekular/bukan Islam. Lalu elit/pengurus partai Islam dipandang sama saja dengan pengurus partai umumnya dinyatakan oleh 34,8%.  Semua ini mengindikasikan bahwa tidak ada pembeda antara partai Islam dan partai sekular.  Konsekuensi dari hal tersebut adalah lahirnya kecenderungan pragmatisme. Langkah-langkah yang diambil dilihat semata dari realitas dan kepentingan sehingga tidak mungkin lahir kader yang ideologis.

Politisi semu juga hadir karena kegagalan pengkaderan. Politisi yang sekadar menjadikan politik sebagai tempat mencari makan adalah cerminan dari gagalnya pengkaderan. Alih-alih bermunculan para politisi yang memperhatikan rakyat, membela akidahnya, menjaga akhlaknya dan memperjuangkan hukum-hukum Allah, justru lahir politisi apa adanya. Perekrutan pun bukan berasal dari sebuah proses pembinaan, melainkan dari popularitas. Tidaklah mengherankan, tolok ukur pemilihan hanyalah keterkenalan. Artis dan pengusaha menjelma menjadi politisi. Para pengamat pun mentransformasi diri menjadi politikus.

Peyebab lainnya yaitu berpolitik untuk materi. Menyedihkan, banyak orang menjadi politisi hanya sekadar mengejar materi. Siapapun yang mengamati realitas akan tahu bahwa banyak sekali para politisi rebutan jabatan kekuasaan, bagi-bagi proyek, dan menerima uang sogokan. Pikirannya hanyalah bagaimana menang dalam Pemilu/Pilkada. Berbagai sumberdaya dikerahkan ke sana. Politisi pun menjelma menjadi pelaku industri politik.

Akhirnya, lahirnya politisi semu tidak lepas dari praktek system demokrasi yang tidak bisa dilepaskan antara partai politik,  kekuasaan dan uang. Ketiganya memiliki kaitan yang sangat erat, teramat erat dan kuat. Partai politik sebagai kendaraan untuk mencapai kekuasaan tidak mungkin bisa berjalan  tanpa uang. Uang menjadi alat politisi untuk mencari kekuasaan dan jabatan. Selanjutnya kekuasaan dan jabatan mereka gunakan untuk mendapatkan  uang sebanyak-banyaknya.

Satu-satunya jalan untuk menghentikannya tiada lain dengan mengembalikannya kepada cara  pandang Islam terhadap kekuasaan. Dalam Islam kekuasaan adalah amanah, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwasanya Rasulullah SAW bersaba “ Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanat dan pada hari akhirat kepemimpinan itu adalah rasa malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan haq serta melaksanakan tugas kewajibannya.”. (HR. Muslim).

Indonesia saat ini membutuhkan politisi sejati dambaan rakyat. Namun, politisi sejati ini belum cukup, jika sistem yang digunakan memimpin rakyatnya bukanlah sistem yang baik. Sistem yang baik harus datang dari Dzat yang Maha Baik, yaitu Allah SWT. Itulah sistem syariah, yang digunakan untuk mengurus dan mengatur seluruh aspek kehidupan mereka. Baik dalam aspek pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, sanksi hukum, politik dalam dan luar negeri, maupun yang lain. Semuanya bersumber dari syariah. Hanya dengan itulah, kehidupan mereka akan dipenuhi berkah dari langit dan bumi. Wallahu ‘alam.(*)

Penulis: CitizenReporter
Editor: Ridwan Putra
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas