
"Tidak benar berita itu. Mereka tak tahu saya, setelah tahu, malah ajak foto-foto," kata Akbar Faisal saat dikonfirmasi tribun
Akbar bercerita, pilot Garuda memutuskan mendarat di Banjarmasin karena cuaca buruk. Akbar mengaku ke Kalteng, dalam rangka acara penyerahan 5.655 sertifikat hak milik masyarat seluruh Kalteng.
Beberapa saat kemudian muncul ratusan massa berpakaian adat. Sebelumnya, Akbar Faisal tak tahu apa masalah yang sebenarnya terjadi.
"Dari penumpang lain saya mendapat info bahwa Dewan Adat berdemo menolak kehadiran FPI yang akan melakukan acara besok Minggu.Hingga pukul 10.20 , tak ada kejelasan, saya kemudian keluar dari ruang tunggu VIP dan mencari Kepala Bandara yang ternyata tak masuk karena libur," cerita Akbar.
Saat itu, tak ada yang bisa memberi informasi dan mengambil keputusan. Akbar kemudian melihat maskapai penerbangan Sriwijaya Air dikepung warga yang tak lain, Dewan Adat menolak kehadiran pimpinan FPI dari Jakarta yang berada di dalam pesawat Sriwijaya Air.
"Captain pilot sempat tidak mau buka pintu pesawat. Muncul masalah karena tiket orang FPI di pesawat itu hanya sekali jalan dan tak ada yang nanggung tiket pulang. Beberapa massa yang tidak kenal saya mengerubuti karena curiga saya orang FPI. Ada yang menarik tangan kiri saya. Tapi massa yang kenal saya segera mengamankan ke lounge," tuturnya.
Masalah akhirnya selesai, lantaran para tokoh Dayak akhirnya menghampirinya dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.
"Kesalahpahaman selesai, dan saling meminta maaf di lounge. Beberapa tokoh dewan adat nyusul saya ke lounge untuk minta maaf kekeliruan massanya itu. Eh, akhirnya minta foto-foto deh dengan saya," cerita Akbar lagi.