- Siswa Sekolah Drum Nonton Negeri 5 Menara
- GRSB Makassar Nobar "Negeri 5 Menara"
- GRSB Makassar Gelar Pendidikan Musik Reggae
- Bocah 3 Tahun Tewas Digilas Mobil
- Jago Gendang Sulsel Beraksi di Cofee Tofee
- Serunya Belajar Drum di Gilang Ramadhan Studio Makassar
- Mari Balajar Musik Samba di Gilang Studio Makassar
- Rumah Sakit Dadi Butuh 500 Perawat Orang Gila
- Session Rock Ala Gilang Ramadan Studio Band di Tribun
- Drummer Cilik Unjuk Aksi di Tribun
Oleh : dr.Andri,SpKJ *
Dalam praktik
sehari-hari, saya sering menjumpai pasien-pasien yang hanya datang
untuk mencari opini kedua ataupun bahkan ketiga. Dengan era keterbukaan
dan informasi yang banyak saat ini, seorang pasien memang terkadang
mencari ke berbagai informasi baik dokter maupun internet untuk
mengetahui lebih detil tentang penyakit yang dideritanya. Maka tidak
heran, saat ini orang bisa datang ke berbagai dokter sebelum memutuskan
untuk menjalani terapi.
Pertanyaan yang sering diungkapkan oleh
pasien kepada saya adalah “Apakah saya perlu obat untuk sakit saya
ini?” Pasien menanyakan hal ini bukan tanpa alasan. Ketakutan akan
ketergantungan obat adalah salah satu hal yang paling ditakuti jika
berhubungan dengan obat-obat psikiatri. Walaupun makna dan pemahaman
ketergantungan yang dimaksud pasien juga masih samar karena sulit
membedakan antara kebutuhan atau ketergantungan akan obat seperti pada
penyakit-penyakit lain misalnya : jantung, darah tinggi dan kencing
manis.
Lalu apakah memang demikian ? Apakah semua pasien sakit jiwa memerlukan pengobatan untuk sakit jiwanya ?
Ringan sampai berat
Dalam berbagai kepustakaan dan praktik klinik sehari-hari, saya menemukan pasien dengan berbagai macam tipe keparahan sakitnya. Dari yang ringan sampai yang berat. Dari yang baru beberapa hari saja sampai yang sudah bertahun-tahun. Jenis dan lama penyakitnya pun berbeda-beda, dan ini yang sangat menentukan apakah pasien ini butuh obat atau tidak.
Jika berhadapan dengan pasien dan keluarga, saya selalu menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi dengan pasien dan sakitnya. Saya menjelaskan bagaimana pasien bisa mengalami kondisi seperti yang dialami saat ini. Pasien juga diberikan kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal yang menjadi pertanyaannya. Hal ini agar menyamakan komunikasi dan persepsi agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami penyakitnya.
Setelah itu saya biasanya akan menjelaskan tentang peran obat (farmakoterapi) dan peran psikososial spiritual (non-farmakoterapi). Saya menjelaskan bahwa obat pada berbagai kasus gangguan jiwa mutlak diperlukan seperti pada skizofrenia, gangguan bipolar, gangguan waham. Sedangkan ada kasus-kasus yang mungkin masih belum perlu obat atau kalau perlu obat pun biasanya dalam jangka waktu tertentu dan tidak hanya peran obat yang diharapkan.
Artinya, pada beberapa kasus, peran terapi psikososial dan perubahan pola adaptasi pikiran dan perilaku pasien akan sangat berpengaruh. Contohnya adalah pada pasien gangguan cemas dan depresi denga keluhan psikosomatik yang sangat sering saya dapatkan di praktek.
Pada kasus-kasus ini, seringkali (apalagi yang
didasari oleh gangguan kecemasan) pengobatan biasanya hanya untuk
memfasilitasi daya adaptasi psikososial pribadi yang baik. Artinya,
obat membantu menghilangkan gejala-gejala pasien sehingga membuat dia
lebih mudah mengembangkan pikiran dan perilaku positif untuk mengatasi
kecemasannya. Bisa anda bayangkan meminta orang dengan gangguan cemas
panik berulang untuk berpikir positif ? Itu sangat sulit dilakukan,
maka pasien perlu pengobatan dulu untuk memperbaiki sistem di otaknya,
sambil mengembangkan daya adaptasinya. Untuk kasus-kasus seperti ini,
kadang keperluan obat pada masa-masa awal dan tidak terus menerus.
Peran psikoterapi
Psikoterapi adalah suatu cara-cara terapi dengan menggunakan teknik-teknik psikologi yang berkaitan dengan perubahan daya adaptasi pikiran, perasaan dan perilaku seseorang. Teknik dan caranya bermacam-macam disesuaikan dengan kepribadian serta gangguan jiwa yang dialami orang tersebut. Sayangnya, seringkali pasien tidak mau dan mampu menjalani hal ini dengan baik. Kondisi ini disebabkan karena psikoterapi butuh latihan, fokus dan kesabaran. Perubahan pikiran, perasaan dan perilaku tidak akan berlangsung tiba-tiba tanpa usaha dan fokus yang jelas. Kondisi ini juga sering sulit jika si pasien tidak sabar dan ingin semuanya serba instan. Tidak heran banyak dokter akhirnya hanya mengandalkan obat saja ketika berurusan dengan pasien gangguan jiwa.
Konseling sebagai suatu bentuk terapi psikologi yang paling dasar juga sangat membantu. Banyak orang terbantu dengan hanya menceritakan keluhannya kepada orang lain yang bisa mengerti atau berempati dengan keluhannya. Itulah kadang kita sering mendengar orang yang menjadi lebih nyaman ketika “curhat” dengan orang lain atau yang senasib dengan dirinya.
Saya
berharap makin banyak orang dan pasien yang menyadari kondisi yang
berhubungan dengan terapi psikiatri. Bahwa obat kadang memang sangat
diperlukan tetapi tidak hanya obat yang bisa mengobati segala macam
gangguan jiwa. Perlu keseimbangan antara obat dan psikoterapi.
Salam Sehat Jiwa
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera (*/tribun-timur.com)