Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

55 Pengungsi Myanmar Disidik

55 warga Myanmar yang ditemukan nelayan Bluka Teubai, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara terdampar di perairan tersebut

Tayang:
Editor: Ridwan Putra
TRIBUN-TIMUR.COM,  LHOKSEUMAWE  - Petugas Kantor Imigrasi Kelas II Lhokseumawe mulai melakukan identifikasi terhadap 55 warga Myanmar yang ditemukan nelayan Bluka Teubai, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara terdampar di perairan tersebut, Rabu (1/2/2012) sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka lari dari negerinya untuk menyelamatkan diri dari kecamuk perang.

Petugas mulai melakukan sidik jari dan mengambil foto ke-55 warga Myanmar tersebut. Kini mereka ditampung di bekas kantor Imigrasi Lhokseumawe, kawasan Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Selain itu, Pemkab Aceh Utara juga mulai menyalurkan bantuan berupa pakaian bekas dan logistik.

Kasi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas II Lhokseumawe, Irawan kepada Serambi, Kamis (2/2/2012) menyebutkan, karena kondisi di Pelabuhan Rancung, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe tak memungkinkan untuk menampung mereka, migran dari Myanmar itu akhirnya dibawa ke bekas Kantor Imigrasi Lhokseumawe.

“Hari ini kita lakukan sidik jari dan mereka kita foto untuk proses identifikasi. Namun, kita belum bisa memeriksa mereka, karena penerjemah dari IOM yang kita panggil belum sampai ke Lhokseumawe,” kata Irawan.

Menurut Irawan, pihaknya telah menyampaikan persoalan itu ke Kementerian Hukum Hak Asasi Manusia (HAM) di Jakarta. “Surat kita yang minta petunjuk sudah kita sampaikan ke Kementerian Hukum dan HAM untuk penempatan mereka selanjutnya. Kita belum tahu di mana nantinya mereka kita tempatkan, apakah di rumah detensi imigrasi (redening) atau di tempat lain,” katanya.

Warga Myanmar yang terdampar tersebut mengaku lari dari negaranya untuk menghindari perang yang sedang berkecamuk. Negara tujuan mereka semula adalah Malaysia. Namun, karena boat bak yang mereka tumpangi tersesat dan hanyut, sehingga mereka terdampar di perairan Aceh. Selama ini para migran itu tinggal di kawasan Pak Tao Myanmar. Informasi itu disampaikan M Yusuf dalam bahasa Inggris yang terbata-bata ketika ditanyai sejumlah wartawan kemarin di bekas kantor imigrasi.

M Yusuf mengungkapkan, sejumlah anak-anak juga ikut dalam rombongan mereka, dengan tujuan untuk menyelamatkan diri. Disebutkan juga bahwa salah seorang anak yang bernama M Zakir, ayahnay malah telah meninggal dalam perang.

Pemkab Aceh Utara melalui Taruna Siaga Bencana (Tagana) telah menyalurkan bantuan kepada warga Myanmar itu berupa alas tempat tidur, pakaian bekas, sarung, dan bantuan logistik untuk keperluan selama tinggal di penampungan sementara.

“Di lokasi itu kita buat dapur umum, sehingga mereka dapat memasa sendiri,” kata Kepala Bidang Operasional Tagana kepada Serambi kemarin.

Sebagaimana diberitakan kemarin, nelayan Bluka Teubai, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, menemukan 55 warga negara Myanmar yang hanyut dan kemudian terdampar di perairan setempat, Rabu (1/2/2012) sekitar pukul 11.00 WIB. “Manusia perahu” itu mengaku lari dari negaranya demi menghindari kecamuk perang.(*)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved