Nama dan identitas dari mereka dalam tulisan ini sengaja tidak disebutkan.Pembicaraan bermula dari seorang cleaning service asal Wonogiri. Lelaki tua kurus yang sudah bertahun-tahun bekerja di Istana itu tampak sumringah jika disebut suka dukanya bekerja di Istana. "Senang. Nyapunya di sini doang. Kalau nyapu di pinggir jalan susah, bisa ketabrak mobil," ujarnya.
Seorang temannya nyeletuk. "Dia mah nyapu dimana aja bisa." Lelaki tua itu tersenyum. Dia kerja sebagai tukang sapu Istana setidaknya bisa mencukupi kehidupan rumah tangganya. "Gaji yah UMR (upah minimum regional). Kerja di sini sudah senang, sekarang mah cari kerja susah," katanya. Sebagai catatan, gaji UMR di Jakarta sekitar Rp 1 juta.
Baginya hal menyenangkan lain bekerja di Istana adalah bisa setiap saat berjumpa dengan orang penting di republik ini. Selain bisa melihat Presiden SBY dan istri Ny Ani Yudhoyono dari jarak dekat juga tentu saja para pejabat penting lainnya setingkat menteri dan para tamu negara bisa dengan mudah dilihat di Istana.
Namun untuk menyapa langsung Presiden bagi lelaki tua itu tidaklah mudah dan tidak mungkin. Sebab dia bekerja menyapu kompleks halaman Istana sebelum SBY dan pejabat negara lainnya melewati jalanan didalam kompleks Istana.
"Kalau Bapak dan Ibu datang pagi-pagi, ada yang piket menyapu. Subuh sudah disapu sebelum Bapak dan Ibu datang," katanya. SBY biasanya tiba di kompleks Istana pagi hari dari rumahnya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Atau ketika SBY bermalam di Istana Negara Presiden, sebelum SBY dan istri bangun pagi maka halaman Istana juga harus sudah disapu bersih.
Sebagai gambaran di dalam kompleks Istana terdapat jalanan melingkar mengelilingi taman rumput dibawah pepohonan yang rindang. Untuk memasukinya memang bukan perkara mudah karena disitu Presiden setiap hari berkantor.
Si lelaki tua itu tugasnya khusus menyapu daun-daunan yang biasa berjatuhan diatas jalan didalam kompleks Istana. Sampah organik jenis dedaunan itu memang paling dominan di dalam halaman istana karena banyak pohon rindang didalamnya.
Sementara untuk sampah non organik seperti sampah plastik bisa dihitung jari bahkan tidak ada sama sekali. Untuk bekerja sebagai tukang sapu di Istana juga bukan pekerjaan mudah. "Biasanya yang sudah pengalaman disini dipertahankan bekerja. Jarang orang baru kerja disini," ujar seorang temannya.(*)