- Mahasiswa Calon Guru di Medan Hamili Anak 12 Tahun
- Olahraga Saat Hamil Permudah Proses Persalinan
- Wanita Meksiko Ini Hamil dengan 9 Bayi
- Inilah Mobil "Batman" Pesanan Hamilton
- Supir Truk Bikin Hamil ABG 15 Tahun
- Waspadai Sulit Hamil bagi Wanita Berkumis dan Berbulu
- Posisi Start: Rosberg 1, Hamilton 2, Schumi 3
- Hamilton Terdepan, Schumi keempat
- Ibu Hamil Wajib Tes Malaria
- Mau Cepat Hamil? Jangan Olahraga Terlalu Berat
TRIBUN-TIMUR.COM - Jika dikatakan dari ibu yang sehat
akan melahirkan anak yang sehat, itu memang benar. Karena kecukupan
gizi sebelum dan selama kehamilan sangat berpengaruh pada risiko
komplikasi dan kesehatan si anak di masa datang.
Kehamilan
merupakan masa kritis tumbuh-kembang manusia yang sangat berharga dan
berlangsung singkat. Di samping untuk dirinya, ibu hamil juga harus
bisa memenuhi kebutuhan zat gizi untuk janin yang dikandung.
Namun
sayangnya kebanyakan ibu hamil tidak menyadari ia memiliki masalah
dengan nutrisi. Padahal, menurut dr.Damar Pramusinto, Sp.OG, seseorang
yang terlihat sehat bisa saja sebenarnya mengalami kekurangan vitamin.
"Nanti
setelah dilakukan pemeriksaan darah baru akan ketahuan ada tidaknya
kekurangan zat besi, zinc, atau bahkan kekurangan kalori karena selama
ini melakukan diet," papar ahli obgyn dari Divisi Fetomaternal
Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta, dalam sebuah
acara seminar nutrisi dan kesehatan ibu hamil yang digelar Sari Husada
beberapa waktu lalu.
Karena itu, Damar menyarankan agar setiap
pasangan yang sedang merencanakan kehamilan mempersiapkannya dengan
baik, terutama dalam status nutrisinya.
"Mayoritas orang tidak
siap apa-apa sebelum hamil. Padahal kehamilan sendiri memberi risiko,
baik untuk ibu atau untuk anak dalam jangka panjang," urainya.
Saat hamil kondisi fisiologis ibu berubah, seperti sel-sel darah merahnya bertambah, jumlah plasma meningkat, serta berkembangnya janin dan plasenta. Pembentukan organ-organ penting janin terutama terjadi pada trisemester pertama. Pada periode ini sel-sel otak terbentuk dengan cepat, mencapai 250 ribu sel per menit. Bila ada gangguan gizi, maka akan kehilangan pula sel-sel otak si bayi.
Oleh karena itu
makanan yang dikonsumsi harus dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk
menjamin kesehatan ibu dan janin. Menurut Damar, saat hamil seorang ibu
memerlukan tambahan asupan kalori, protein, kalsium, zat besi, seng,
vitamin B, serta vitamin dan mineral lainnya.
Besarnya
pengaruhnya kualitas gizi calon ibu terhadap kehidupan seorang bayinya
kelak, disampaikan oleh David Barker, dokter dan ilmuwan dari Inggris.
Menurut dia, paparan zat kimia serta nutrisi yang diterima janin, akan
berdampak pada kesehatan dan penyakitnya di masa datang.
Gizi seimbang
Menurut Pedoman Gizi Seimbang, seorang ibu hamil membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan ibu yang tidak hamil.
Apabila sebelum hamil kebutuhan karbohidrat ibu 225 gram per hari, maka saat hamil kebutuhannya meningkat menjadi 265 gram. Sementara itu protein yang diperlukan naik 17 gram dari yang sebelumnya 50 gram per hari, yang setara dengan 1 porsi daging dan 1 porsi tempe.
Sementara itu lemak yang berguna untuk sumber energi, bersama zat gizi lain diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi. Untuk ibu hamil, lemak yang diperlukan terutama adalah lemak tak jenuh ganda, seperti omega-3 dan omega-6. Misalnya minyak bunga matahari atau berbagai jenis ikan Sedangkan vitamin dan mineral berperan penting dalam proses metabolisme tubuh dalam pertumbuhan.
"Upaya pemenuhan kebutuhan nutrisi ini pada prinsipnya adalah makan secara seimbang, bervariasi jenisnya, dan jumlahnya cukup. Untuk ibu hamil biasanya diberikan nutrisi tambahan melalui suplemen vitamin dan juga susu karena kandungan gizinya lengkap," kata Damar.
Ia melanjutkan, beberapa jenis vitamin telah terbukti mencegah komplikasi kehamilan. Misalnya saja kalsium, vitamin A dan B kompleks berguna untuk mencegah preeklampsia. Sedangkan kandungan zat besi yang cukup dalam tubuh ibu akan menghindarkan dari risiko perdarahan saat persalinan.
Selain gizi yang seimbang, secara psikologis calon ibu juga harus mengelola emosinya. Jalani kehamilan dengan penuh syukur dan bahagia. Dengan demikian, "makanan bagi jiwa" pun terpenuhi.(*/tribun-timur.com)