Mengembangkan Baruga Sayang
Balai Rujukan Keluarga dan Pusat Layanan Pembangunan (Baruga Sayang) merupakan organisasi yang diinisasi pemprov Sulsel
Penulis: Ridwan Putra | Editor: Ridwan Putra
Darmawan Denassa
Direktur The Gowa Center
melaporkan dari TakalarBalai Rujukan Keluarga dan Pusat Layanan Pembangunan (Baruga Sayang) merupakan organisasi yang diinisasi pemprov Sulsel di bawah koordinasi Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kelurahan (BPMPDK).
Wadah
mensinergikan kebijakan pemerintah secara top-down dengan prakarsa dan swadaya masyarakat secara botton-up serta menjadi pusat informasi
dan layanan yang dikelola komunitas dengan memperhatikan potensi dan
kearifan lokal dalam mengambil keputusan merupakan bagian dari tujuan
pembentukan organisasi Baruga Sayang. Sejak 2009 telah terbentuk 43
lokasi di desa dan kelurahan percontohan di 24 kabupaten dan kota di
Sulsel.
Untuk mendorong tercapainya tujuan pembentukan berbagai penguatan
dan kegiatan telah diberikan ke Baruga, salah satunya pemberian Tanah
Mandiri seluas satu hektar pada desa percontohan.
Dua hari ini
terakhir pengurus dan staf The Gowa Center (TGC)
mengunjungi Baruga
Sayang di Kabupaten Takalar masing-masing Baruga Sayang Lipang Bajeng
di Kel. Bajeng (24/1) dan Baruga Sayang Bungung Barania di Desa
Banyuanyara (25/1). Kunjungan ini untuk menemukan kekuatan dan praktek
baik yang dilakukan pengurus dan warga dalam mengelola organisasi. TGC
menjalin kemitraan pada dua Baruga Sayang percontohan di Gowa untuk
informasi layanan publik.
Dari kunjungan ini kami temukan informasi bahwa ketersediaan data
tentang potensi SDM dan SDA desa/kelurahan yang dilakukan Baruga Sayang
telah menjadi data sumber pada pelaksanaan pembangunan di masing-masing
wilayah. Sedangkan tanah mandiri yang dikelola Baruga Sayang Bungung
Barania telah memberikan hasil bagi warga, pemerintah, dan pengurus
dalam menjalankan organisasi. Sejak tiga tahun terakhir tanah mandiri
yang berbentuk persawahan telah menghasilkan 11.8 juta rupiah dengan mekanisme pembagian 60 persen untuk pemdes dan 40 persen untuk Baruga Sayang.
"Koordinasi dengan SKPD ditingkat kabupaten merupakan tantangan
terbesar yang dihadapi Baruga Sayang hingga saat ini" ungkap Anwar Daeng
Tutu
ketua Baruga Sayang Bungung Barania, kendala ini juga dihadapi Baruga
Sayang Lipang Bajeng.
Administrasi, pendokumentasian, aturan organisasi, penyebarluasan fungsi dan peran merupakan peningkatan kelembagaan yang harus diperhatikan untuk keberlanjutan dan pengembangan Baruga Sayang. Selain itu pengurus harus dikuatkan agar proaktif menemukan informasi kegiatan pembangunan yang dilaksanakan ditingat lokal sejak perencanaan hingga evaluasi agar bisa manjalankan tugas dan fungsinya sebagai layanan informasi bagi warga.(*)