Sabtu, 29 November 2014
Tribun Timur

Menyusuri Kota Muslim di Thailand

Minggu, 22 Januari 2012 15:25 WITA

Laporan: Muh. Fihris Khalid, Pimpinan Pondok Pesantren Rahmatul Asri Maroangin Enrekang/Pelajar Ph.D. Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia melaporkan dari Songkhla, Thailand

TRIBUN-TIMUR.COM - Saya bersama 30 orang pelajar Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) selama tiga hari mengikuti "International Conference of ASEAN Studies in Integreted Education in Islamic Civilization" di Hotel Rama Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand dari tanggal 18 - 20 Januari 2012. Seminar ini wajib diikuti oleh pada kandidat doktor yang seangkatan dengan saya, sebab mengikuti seminar internasional merupakan syarat mutlak bagi pelajar UKM.

Setelah mengikuti seminar, kami diajak untuk menghadiri peletakan batu pertama "ASEAN Sain and Islamic College" di Channa, Songkhla, yakni merupakan perguruan tinggi Islam pertama yang akan dibuka di Thailand yang mengintegrasikan ilmu-ilmu sains, teknologi dengan nilai-nilai keislaman.

Selanjutnya kami dibawa ziarah ke perkampungan Muslim yang dibina oleh Dr H Thobrani yang berbasis masjid. Masjidnya diberi nama "Masjid Bannue" terletak di kampung Kutad, Hat Yat dengan jumlah pendidikan kurang lebih 1.700 jiwa semuanya beragama Islam.

Mata pencaharian utama penduduk yakni nelayan dan pedagang.  Sebagai perkampungan Islam, mencontoh konsep pemerintahan Rasulullah SAW. Dimana imam masjid juga sekaligus sebagai imam kampung dan pemerintah kampung (tri fungsi imam).

Masjid mengelola perekonomian warga dengan mendirikan koperasi. Dalam koperasi ini disediakan seluruh keperluan warga. Bagi warga yang ingin membangun rumah, boleh meminta biaya ke koperasi tanpa harus menyediakan jaminan.

Dalam hal pembinaan akhlak masyarakatnya, imam masjid memiliki peraturan yang sudah disepakati oleh warga. Pemuda dan pemudi yang akan menikah terlebih dulu mengikuti kursus pranikah.

Masyarakat digiatkan mengikuti gotong royong untuk membangun keperluan masyarakat, misalnya jalan, jembatan, rumah, dan melakukan kebersihan. Ada satu peraturan yang cukup ketat, yakni setiap pria wajib mengikuti shalat jum'at di masjid. Bila ada yang ketahuan tidak melakukan shalat jum'at, maka dia akan dikucilkan warga, misalnya tidak boleh membeli jualannya atau nanti bila dia ingin melakukan hajatan, warga tidak akan menghadiri acaranya.

Kemudian kami juga diajak mengunjungi sekolah Islam terpadu Darunnaem, Sadao, yang jumlah siswa mencapai 2000 orang, mulai dai TK, SD, SMP dan SMA. Dalam kesempatan tersebut, saya sempat berbincang dengan kepala sekolahnya. Kami akan menjajaki kerjasama dalam bidang perkampungan bahasa Inggris, serta pertukaran guru dan pelajar. Dia juga meminta kalau ada guru dari Sulawesi Selatan dalam bidang sain dan teknologi, dengan syarat melaksanakan shalat lima waktu dan pandai membaca kitab suci Al Qur'an.(*/tribun-timur.com)
Penulis: CitizenReporter
Editor: Muh. Irham

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas