Warga Tionghoa Masih Ada Alergi Berpolitik
Menurut dia, semua pekerjaan dapat dilakukan, yang terpenting warga Tionghoa juga memberikan apa yang terbaik untuk bangsa ini
"Warga Tionghoa memiliki trauma yang sangat besar dalam dunia politik. Kalau dulu orang berpolitik, dikejar-kejar, tidak diperbolehkan, berorganisasi saja enggak bisa. Ini jadi peringatan keras hingga saat ini, ada yang memilih untuk tidak ikut dunia politik," ujar Esther. "Jadi semacam ada alergi terhadap dunia politik," sambungnya.
Selain dunia politik, kata Esther, pilihan pekerjaan sebagai pegawai negeri juga tidak banyak diminati oleh etnis Tionghoa. Hal itu karena di zaman Orde Baru pekerjaan selalu disangkutpautkan dengan etnis. Warga Tionghoa dipertanyakan kewarganegaraannya sehingga tak mudah mendaftar sebagai pegawai negeri. "Pekerjaan sebagai pegawai negeri juga menjadi trauma bagi warga Tionghoa sehingga kita lihat tidak banyak yang menjadi pegawai negeri," jelasnya.
Terakhir Esther mengimbau agar di masa reformasi ini warga Tionghoa mulai perlahan-lahan meninggalkan trauma masa lalu yang masih melekat. Menurut dia, semua pekerjaan dapat dilakukan, yang terpenting warga Tionghoa juga memberikan apa yang terbaik untuk bangsa ini.
"Jangan alergi bergelut di politik dan pegawai negeri. Aturan sudah terbuka saat ini. Sebagian kelompok masyarakat di Indonesia sudah sangat semangat untuk membuka diri. Jadi mari kita lakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk negara di berbagai bidang kerja," katanya.(*)