citizen reporter
Peluncuran Buku di Maros
kerja sama Pustaka Indonesia Press ini dibedah di Warkop Daeng Tene Maros, Minggu (8/1).
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ridwan Putra
Ilham Halimsyah
Warga Maros
Melaporkan dari Maros
BUKU berjudul "Kearifan Budaya Lokal; Membangun Moralitas Bangsa Sekaitan Kebijakan Pendidikan di Sulawesi Selatan (studi kasus Kabupaten Maros)" diluncurkan. Buku terbitan Lembaga Pengkajian Strategis Salewanggang (LEPASS) Maros kerja sama Pustaka Indonesia Press ini dibedah di Warkop Daeng Tene Maros, Minggu (8/1).
Peluncuran dihadiri Ketua Badan Koordinasi Kesenian Indonesia (BKKI) Sulawesi Selatan, Syahrial Tato, budayawan muda Maros dan anggota DPRD Sulsel Wawan Mattaliu serta lebih seratusan mahasiswa, penggiat kepemudaan, tokoh masyarakat, dan pemerhati budaya. Buku ini ditulis tim yang diketuai Kaimuddin Mabbaco dengan editor Muh Zaenal Hasyim.
Secara umum buku ini terbagi tiga bagian, yakni pappaeng atau pappasang, musik tradisional sebagai substansi budaya lokal, sertab pau-pau rikadong atau cerita rakyat.
Menurut Kaimuddin Mabbaco, buku ini lahir dari penelitian melalui wawancara langsung dengan budayawan dan pemerhati seni sebagai narasumber, juga melalui tinjauan pustaka melalui kajian naskah-naskah kuno dan memperhatikan kebiasaan masyarakat.
"Buku ini adalah bagian dari kegelisahan kami terhadap aturan pendidikan untuk pembelajaran seni budaya yang harus memasukkan materi budaya lokal. Kami berharap, dalam tiga tahun ke depan ini sudah menjadi buku damping pembelajaran seni budaya," ujarnya.
Direktur LEPASS Muh Nurjaya mengemukakan, buku ini diterbitkan karena nilai-nilai budaya lokal mulai tergerus dan generasi muda yang mulai terkontaminasi globalisasi.
"Jika ini dibiarkan maka karakteristik sebagai masyarakat Bugis-Makassar semakin hilang," ujarnya.(*)