citizen reporter
WKMM: Copot Kapolda NTB, Periksa Bupati Bima
Sukandar Ridwan, Wakil Ketua Umum WKMM menghimbau kepada elemen mahasiswa makassar untuk terus mengawal kasus Bima
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ridwan Putra
Zulfikar Amri, Ketua Umum Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM)
melaporkan dari Makassar
PENGURUS Wahana Kerja Mahasiswa Makassar (WKMM) menyatakan sikap atas bentrok berdarah pihak kepolisian dengan warga di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) saat warga menolak pertambangan PT. Sumber Mineral Nusantara di Sape, yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa, yakni dua orang tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Atas insiden tersebut, Wahana Kerja
Mahasiswa Makassar (WKMM) menuntut Kapolri Jenderal Timur Pradopo untuk
mencopot Kapolda NTB beserta seluruh jajaran yang terlibat, dan
memeriksa pejabat Bupati Bima sekaitan izin tambang PT. Sumber Mineral
Nusantara.
Sulfikar Amri, Ketua Umum WKMM mengatakan membunuh adalah kejahatan
kemanusiaan, tak ada pembenaran walau dengan alasan ketertiban sosial dan pelayanan umum,
tindakan aparat kepolisian yang mengarahkan tembakan kepada pengunjuk
rasa sewenang-wenang dan mengkhianati perjuangan rakyat untuk
mendapatkan hak berdemokrasi dan berkesejahteraan, sebagai polisi sipil,
seharusnya mereka melindungi masyarakat, jika kepolisian hari ini tidak
bermental polisi kolonial, mestinya mereka memiliki nurani kemanusiaan,
polisi harusnya pro-sipil.
Azman Muchlis, Sekretaris Umum WKMM mengatakan, polisi yang terlibat
penembakan harus dicopot dan diadili, jangan berdalih "kita tunggu
prosedur hukum sidang kode etik" lalu akhirnya kasus HAM ini
dipeti-eskan, ini berbahaya, kasus mesuji, kasus freeport, kasus lonsum bulukumba, kasus
banggai, selalu akarnya adalah pertambangan dan perkebunan.
"Seharusnya polisi sebagai aparat penegak hukum lebih mengetahui
etika hukum yang berlaku, warga menduduki pelabuhan sape tentu ada
pemicunya, akar permasalahan adalah keberadaan penambang, ini malah
menembaki pendemo, sepertinya derajat kemanusiaan lebih murah dibanding
pergerakan ekonomi di pelabuhan tersebut, periksa dulu penambang itu,
periksa bupatinya, dengarkan aspirasi rakyat, janganlah aparat keamanan
membela kepentingan perusahaan, ini fakta bahwa pemerintah sangat
pro-korporatisme, inilah neo-imperialisme, rakyat harus berhadapan
dengan melawan para pemodal, dan perusahaan tidak perlu berhadapan
langsung dengan rakyat, tapi diwakili oleh bedil aparat keamanan, lalu
masih adakah kedaulatan rakyat? inilah yang membuat rakyat tidak
berdaulat lagi, bangsa ini membentuk rakyat frustatif, bangsa pemarah,
anarkistik, karena saluran aspirasi buntu"
Sementara itu, Herman Syam Asmara Putra, Dewan Pertimbangan Organisasi
(DPO-WKMM) menegaskan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus
menghentikan keberpihakan kepada investor, nasionalisme tergadai oleh
kepentingan asing, pejabat jangan jadi agen asing di negeri sendiri,
kepolisian juga sebaiknya jangan mau diperalat, yang secara membabi-buta
membantai rakyat, inilah siklus kekerasan di negeri kita, produk
kebijakan terhadap investor lokal dan asing yang merugikan rakyat itu
juga bentuk kekerasan terhadap rakyat, rakyat melawan disebut anarkis,
padahal mereka melawan karena dimiskinkan, ekosistem rusak, akar budaya
terhempas angka-angka investasi, jadi sumbernya adalah kebijakan ekonomi
nasional yang tidak pro-rakyat
Sukandar Ridwan, Wakil Ketua Umum WKMM menghimbau kepada elemen
mahasiswa makassar untuk terus mengawal kasus Bima, "kasus seperti ini
membosankan, parade kekerasan aparat harus dihentikan, mahasiswa harus
mengawal kasus ini sampai tuntas, presiden harus bertanggung jawab"
pungkasnya.(*)