Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Perilaku Prososial dan Kesiapan Menghadapi bencana Alam

Penulis Adalah Anggota SAR UNM dan Dewan Pembina LPM Psikogenesis UNM

Tayang:
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ridwan Putra
Opini
Oleh Ardiansyah Jasman,
Mahasiswa Fakultas Psikologi UNM

INDONESIA merupakan daerah rawan bencana. Secara geologi, wilayah Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif yaitu Lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur. Ketiga lempengan tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia dan menimbulkan gempa bumi, jalur gunung api, dan sesar atau patahan.

Penunjaman (subduction) Lempeng Indo-Australia yang bergerak relatif ke utara dengan Lempeng Eurasia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempa bumi dan rangkaian gunung api aktif sepanjang Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng.

Di samping itu jalur gempa bumi juga terjadi sejajar dengan jalur penunjaman, maupun pada jalur patahan regional seperti Patahan Sumatera. Dengan kondisi geologi yang demikian, ancaman bencana di wilayah Indonesia sepertinya tinggal menunggu waktu. Apalagi ditambah dengan kerusakan lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya alam  yang tidak terkendali. Frekuensi kejadian bencana dan tingkat kerusakan maupun korban jiwa semakin meningkat di Indonesia. (Gema BNPB, 2011).

Memasuki musim penghujan di bulan November dan mengalami puncaknya di bulan Januari tingkat kewaspadaan terhadap potensi terjadinya bencana alam harus ditingkatkan, mengingat Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki tingkat kerawanan terhadap bencana alam. Ancaman seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kecelakaan transportasi laut/udara dan musibah korban tenggelam merupakan hal yang patut diwaspadai bersama. Ini terbukti beberapa waktu yang lalu warga Makassar dikejutkan dengan berita rubuhnya tembok pagar pengembang rumah mewah “The Mutiara” di Jalan Sukadamai, kelurahan Sinrijala, kecamatan Panakukang akibat tingginya curah hujan yang mengguyur kota Makassar. Tentunya ini menjadi pelajaran untuk meningkatkan kewaspadaan pada kemungkinan yang  tak terduga pada ancaman bencana Alam yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi menimpa siapa saja.

Personal Distress
Bencana alam merupakan kondisi yang buruk. Kondisi tersebut selalu menimbulkan dampak negatif bagi korbannya. Kehilangan harta benda, sanak keluarga bahkan nyawa korban adalah konsekuensi akibat terjadinya bencana alam. Hal ini secara psikologis dapat menimbulkan personal distress (kesedihan personal) kepada individu yang mempunyai kepekaan sosial atau empati terhadap korban bencana alam yaitu perasaan simpati dan perhatian kepada orang lain, khususnya pada orang yang menderita. Seperti yang disebutkan dalam teori psikologi sosial bahwa personal distress adalah reaksi emosional terhadap penderitaan orang lain, perasaan terkejut, ngeri, waspada, prihatin atau tak berdaya. Kesediahan personal terjadi ketika seseorang yang menyaksikan suatu kejadian menjadi tenggelam dalam reaksi emosionalnya sendiri.

Individu yang memiliki empati dan personal distress cenderung akan berperilaku prososial yaitu altruism (altruisme) atau tindakan sukarela untuk membantu orang lain tanpa pamrih, atau ingin sekedar beramal baik (Schroeder, Panner, Dovidio dan Piliavin, 1995). Lebih jauh, perilaku prososial merupakan kategori yang lebih luas (Batson, 1998). Ia mencakup setiap tindakan yang membantu atau dirancang untuk membantu orang lain, terlepas dari motif penolong.

Volunteer atau relawan merupakan sosok individu yang identik dengan perilaku menolong. Relawan adalah seseorang yang berniat untuk membantu orang-orang dan komunitas yang membutuhkan bantuan, termotivasi oleh kehendak bebasnya sendiri, bukan atas keinginan untuk mendapatkan keuntungan berupa harta atau benda, maupun tekanan eksternal politis, ekonomi, atau sosial (International Forum of Red Cross & Red Crescent Societies Volunteering Policy dalam Smile Package Community, 2006)
Pada penanggulangan bencana alam selalu membutuhkan seorang relawan yang biasa disebut disaster volunteer. Relawan penanggulangan bencana merupakan relawan yang melakukan aktivitas pertolongan pada saat terjadi bencana alam meliputi evakuasi dan rehabilitasi yang mempunyai peran penting terhadap korban bencana.

Di Sulawesi Selatan peran relawan penanggulangan bencana begitu diandalkan dalam penanganan penanggulangan bencana selama ini. Perannya cukup eksis pada tanggap darurat, serta dalam kecepatan dan semangat aksi penanggulangan bencana.  Partisipasi relawan penanggulangan bencana dirasakan sangat berarti karena mereka (Relawan Penanggulangan Bencana) menyumbangkan beragam sumber daya dalam upaya penanganan bencana, memberikan bukti nyata atas hidup sosial kemanusiaan serta kerjasama untuk mengurangi penderitaan sesama dan kehendak untuk mewujudkan ketangguhan masyarakat atau bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Sulawesi Selatan memiliki empati dan personal distress yang cukup tinggi hingga mendorongnya berperilaku prososial.
Tingginya perilaku prososial relawan penanggulangan Bencana di Sulawesi Selatan nampak jelas dengan melihat jumlah relawan dan lembaga kemanusiaan begitu signifikan. Tidak heran pendelegasian relawan ke daerah bencana Tsunami Aceh 2004 silam tidak dapat dipungkiri bahwa provinsi Sulawesi Selatan adalah Provinsi yang pertama mengirimkan bantuan relawan, begitupun bencana-bencana nasional lainnya.

Bagi Sulawesi Selatan hal tersebut tidak sulit sebab didukung oleh potensi Sumber Daya Manusia yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Terbukti dengan Menjamurnya lembaga-lembaga kemanusiaan yang berperan aktif dalam setiap bencana yang terjadi seperti Badan Penanggulangan Bencana (BPBD), Badan SAR Nasional (BASARNAS), Taruna Tanggap Bencana (TAGANA), KSR PMI, Departemen Sosial hingga potensi SAR Mahasiswa di kampus (SAR UNM, SAR UH dan SAR 45 ) ataupun potensi SAR non kampus sebut saja diantaranya SAR Marteam, SAR Pramuka, SAR Muhammadiayah, SAR Tamalanrea, SAR Sulawesi dan 32 potensi SAR lainnya.

Bersiap Menghadapi Bencana
Di musim penghujan saat ini potensi terjadinya bencana begitu tinggi. Informasi yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan dan sejumlah potensi SAR menyebutkan bahwa bulan Desember dan Januari akan terjadi peningkatan frekuensi rawan bencana alam melihat dari kondisi tahun sebelumnya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku pemerintah pusat menyadari menyadari hal tersebut. Maka tidak heran ia menerbitkan intruksi presiden (Inpres) guna menanggulangi kemungkinan ancaman bencana alam (Kompas.com, 2011). Selain itu wakil menteri Keuangan RI, Anny ratnawaty seperti yang diberitakan Koran Tempo menginformasikan bahwa Pemerintah sudah menyiapkan Rp 4 triliun untuk mengantisipasi bencana alam. Ia meminta kepada pemerintah daerah menjaga wilayahnya agar tidak mengalami banjir seperti yang melanda Thailand selama dua bulan terakhir.

Perhatian pemerintah terhadap ancaman bencana alam cukup tinggi. Tentunya ini akan menjadi sinyal positif dalam hal penanggulangan bencana. Oleh karena itu peran relawan penanggulangan bencana sebagai individu yang memiliki perilaku prososial yang tinggi sedianya dimaksimalkan. Kemungkinan terburuk bisa saja terjadi berupa bencana alam yang akan melanda beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu dalam mengantisipasi ataupun melakukan mitigasi bencana alam pemerintah harus lebih berperan aktif daripada lembaga relawan yang dikelola secara swadaya sebagai upaya bersama dalam menekan dampak buruk dari terjadinya bencana alam.(*)

*Penulis Adalah Anggota
 SAR UNM dan Dewan Pembina LPM Psikogenesis UNM

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved