Layani Pelanggan, Oknum PLN Jual Nama Bukopin
Tribun Timur - Selasa, 6 Desember 2011 10:34 WITA

Berita Terkait
- Karyawan Bank Bukopin Kunjungi Tribun Timur
- PLN Sinjai Minta Calon Pelanggan Datang ke Kantor
- Sudah Lima Jam Aliran Listrik di Antang Padam
- Awal Mei Pendaftaran Maba Kelas Kerja sama PLN-PNUP
- PLN Sarankan Warga Maros Beralih ke Listrik Prabayar
- Aliran Listrik di Batua Raya Putus Nyambung
- TDL Tak Jadi Naik, APBN Perubahan Diajukan
- Penyabab Listrik Padam di Pallangga karena Pohon Tumbang
- Sudah Bayar Rp 6 Juta Listrik di Sinjai Belum Menyala
- Ada Keluhan Listrik? Hubungi Reaksi Cepat 453
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ini kisah seorang pelanggan dan ketidakjujuran petugas penagih di loket
drive thru PLN Hertasning, Makassar, Selasa (6/12/2011).
Sekitar pukul 10.20 wita, usai membayar tagihan rekening listrik bulanan, seorang pelanggan atas nama Nurlaely B, menanyakan kenapa ada pungutan sebesar Rp 3000, setiap pembayaran di loket.
Waris, petugas loket drive thru itu menjawab, "oh ini biaya administrasi bank."
Dialog berlanjut. "Bank apa? Di nota bukti pembayaran tak ada tulisan nama bank. Lalu di kaca loket juga tak ada pengumuman satu pun. Kami pelanggan tak pernah diberitahu," timpal si pelanggan.
Si petugas terdiam sejenak. Seraya coba menulis, dia menjawab, "Ini sudah lama. Sudah setahun lebih mi."
Pelanggan balik bertanya! "Saya membayar di loket PLN, kenapa dikenakan biaya bank. Anda petugas bank mana! Tak ada I'd card?"
"Oh, ini loket bank Bukopin!, jawab si petugas yang mengenakan kemeja biru lengan panjang.
Si pelanggan masih penasaran! "Mana bukti Anda petugas Bank!"
Sambil mengeluarkan kepala di jendela loket, si petugas menoleh dan menunjuk ke atas.
"Itu, ada tulisan bank Bukopin. Lihat maki. Ada tulisan Bukopin."
Karena penasaran dan ragu dengan pengakuan petugas, si pelanggan pun mengikuti petunjuk.
Ternyata, sebuah papan seukuran dua kali kertas kuarto menggantung di ujung atas tembok.
Tulisannya bukan Bank Bukopin, seperti kata si petugas melainkan Bank BRI Syariah.
Merasa petugas loket tak jujur, si pelanggan pun berlalu seraya mengurut dada. "Kita dikerjai lagi sama oknum PLN ini. Menjual nama Bank Bukopin, untuk menarik pungutan liar."(*)
Sekitar pukul 10.20 wita, usai membayar tagihan rekening listrik bulanan, seorang pelanggan atas nama Nurlaely B, menanyakan kenapa ada pungutan sebesar Rp 3000, setiap pembayaran di loket.
Waris, petugas loket drive thru itu menjawab, "oh ini biaya administrasi bank."
Dialog berlanjut. "Bank apa? Di nota bukti pembayaran tak ada tulisan nama bank. Lalu di kaca loket juga tak ada pengumuman satu pun. Kami pelanggan tak pernah diberitahu," timpal si pelanggan.
Si petugas terdiam sejenak. Seraya coba menulis, dia menjawab, "Ini sudah lama. Sudah setahun lebih mi."
Pelanggan balik bertanya! "Saya membayar di loket PLN, kenapa dikenakan biaya bank. Anda petugas bank mana! Tak ada I'd card?"
"Oh, ini loket bank Bukopin!, jawab si petugas yang mengenakan kemeja biru lengan panjang.
Si pelanggan masih penasaran! "Mana bukti Anda petugas Bank!"
Sambil mengeluarkan kepala di jendela loket, si petugas menoleh dan menunjuk ke atas.
"Itu, ada tulisan bank Bukopin. Lihat maki. Ada tulisan Bukopin."
Karena penasaran dan ragu dengan pengakuan petugas, si pelanggan pun mengikuti petunjuk.
Ternyata, sebuah papan seukuran dua kali kertas kuarto menggantung di ujung atas tembok.
Tulisannya bukan Bank Bukopin, seperti kata si petugas melainkan Bank BRI Syariah.
Merasa petugas loket tak jujur, si pelanggan pun berlalu seraya mengurut dada. "Kita dikerjai lagi sama oknum PLN ini. Menjual nama Bank Bukopin, untuk menarik pungutan liar."(*)
Penulis : Thamzil Thahir
Editor : Ridwan Putra