Rabu, 5 Agustus 2015

Spa, ya, Telanjang Bulat, Dong!

Kamis, 1 Desember 2011 13:12

Spa, ya, Telanjang Bulat, Dong!
ist
Dahlan Dahi

Hotel ini didesain etnik. Kesan batu bata merah sangat dominan. Pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang mengelilingi hotel. Suhu di luar sangat dingin, saat Kawaguchi dibalut suhu dingin menusuk sekitar 12 derajat Celcius.

Pegawainya cuma beberapa orang. Semuanya orang tua. Pegawai restoran, misalnya, adalah seorang nenek yang hanya bisa bahasa Jepang. Anak-anak muda lebih senang bekerja di Tokyo yang bergaji tinggi.

Aturan telanjang bulat di spa bukan himbauan. Imperatif, harus, mesti. Aturan yang sama berlaku bagi wanita. Nah, seru, bukan?

Dari kamar, tamu mengenakan baju piyama tipis. Anda masih bisa mengenakan pakaian dalam. Eh, jangan lupa bawa handuk kecil, handuk tangan yang hanya cukup menutupi bagian sensitif di depan.

Buat wanita, handuk ini terlalu tidak adil. Masalahnya jelas: wanita dilatih secara alamiah untuk refleks menutupi dua bagian sekaligus pada saat yang sama padahal handuknya cuma satu, kecil pula.

Spa terletak di lantai satu. Hati-hati jangan salah masuk. Pintu spa wanita dan pria hanya dipisahkan dinding. Pintu cuma ditutupi sehelai kain. 

Nah, sangat rawan tamu salah masuk. Baangkali menyadari hal ini, hotel menandai pintu masuk spa wanita dengan helai kain warna merah mencolok. Bila tetap ada pria yang salah masuk, wah, keterlaluan, nih!

Halaman123
Penulis: Dahlan Dahi
Editor: Imam Wahyudi
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas