• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Mengembangkan Ekonomi Kreatif di Indonesia

Selasa, 8 November 2011 20:00 WITA
Mengembangkan Ekonomi Kreatif di Indonesia
dok. tribun
Dosen Fakultas Ekonomi Unhas
ADA yang menarik dari penamaan kementerian yang baru hasil perombakan (reshuffle) Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II bulan lalu, dimana Kementeriaan Pendidikan diubah namanya menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sementara itu, kata "kebudayaan" dalam Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, dicoret dan digantikan dengan "ekonomi kreatif."
Jadilah sebutannya: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Pertanyaan yang muncul adalah kenapa kebudayaan berdampingan dengan ekonomi kreatif?


Alasannya adalah untuk memajukan pariwisata diperlukan perekonomian yang dilaksanakan dengan mengedepankan kreativitas. Ekonomi kreatif akan mendorong kemajuan pariwisata dan begitu juga sebaliknya.
Dengan kata lain, pariwisata yang maju mau tak mau mesti ditunjang ekonomi kreatif. Sebaliknya, ekonomi bisa maju dan menunjukkan kreativitas jika ditopang oleh kemajuan dunia pariwisata.
Masuknya bidang ekonomi kreatif ke dalam Kementerian Pariwisata diharapkan dapat melahirkan produk industri yang lebih inovatif sehingga bisa bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Sejarah perkembangan peradaban ekonomi dapat dibedakan menjadi empat zaman: (1) Era pertanian (masyarakat pertanian); (2) Era industri (masyarakat industri); (3) Era informasi (masyarakat informasi, pengetahuan), dan; (4) Era konseptual (masyarakat kreatif).
Kita telah melewati zaman pertanian, zaman industri dan zaman informasi. Peradaban ekonomi sekarang ini masuk pada zaman konseptual dimana pada zaman ini yang dibutuhkan adalah para kreator.
Kemampuan untuk mewujudkan kreativitas yang diramu dengan sense atau nilai seni, teknologi, pengetahuan dan budaya menjadi modal dasar untuk menghadapi persaingan ekonomi, sehingga muncullah ekonomi kreatif sebagai alternatif pembangunan ekonomi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pada awal 1990, kota-kota di Inggris mengalami penurunan produktivitas dikarenakan beralihnya pusat-pusat industri dan manufaktur ke negara-negara berkembang yang menawarkan bahan baku, harga produksi dan jasa yang lebih murah.
Menanggapi kondisi perekonomian yang terpuruk, calon perdana menteri Tony Blair dan New Labour Party menawarkan agenda pemerintahan yang bertujuan untuk memperbaiki moral dan kualitas hidup warga Inggris dan memastikan kepemimpinan Inggris dalam kompetisi dunia di milenium baru, salah satunya dengan mendirikan National Endowment for Science and the Art (NESTA) yang bertujuan untuk mendanai pengembangan bakat-bakat muda di Inggris.
Setelah menang dalam pemilihan umum 1997, Tony Blair sebagai Perdana Menteri Inggris melalui Department of Culture, Media and Sports (DCMS) membentuk Creative Industries Task Force yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kontribusi industri kreatif  terhadap perekonomian Inggris.
Pada tahun 1998, DCMS mempublikasikan hasil pemetaan industri kreatif Inggris yang pertama, dimana industri kreatif didefinisikan sebagai: "those industries which have their origin in individual creativity, skill and talent, and which have a potential for wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual property and content".
Definisi DCMS ini selanjutnya banyak diadopsi oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia. Industri kreatif Inggris menyumbang sekitar 8,2 persen penerimaan nasionalnya pada tahun 2003.
Pemerintah Inggris menetapkan 13 sektor usaha yang tergolong sebagai industri kreatif, yakni (1) periklanan, (2) kesenian dan barang antik, (3) kerajinan tangan, (4) desain, (5) tata busana, (6) filem dan video, (7) perangkat lunak hiburan interaktif, (8) musik, (9) seni pertunjukan, (10) publikasi, (11) jasa komputer, (12) televisi, dan (13) radio.
Industri kreatif adalah Industri yang unsur utamanya adalah kreativitas, keahlian dan bakat yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan melalui penawaran kreasi intelektual.  
Industri kreatif terdiri atas penyediaan produk kreatif langsung kepada pelanggan dan pendukung penciptaan nilai kreatif pada sektor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan.
Produk kreatif mempunyai ciri-ciri: siklus hidup yang singkat, risiko tinggi, margin yang tinggi, keanekaragaman tinggi, persaingan tinggi, dan mudah ditiru.
Industri kreatif memiliki subsektor yang banyak. Ada kreasinya yang berbentuk fisik, dan ada pula yang nonfisik.
Persepsi lembaga keuangan saat ini masih masih tradisional dan hanya mau menyalurkan kredit kepada industri yang menghasilkan barang-barang fisik dan memiliki lahan sebagai tempat berproduksi.
Institusi finansial harus dapat menciptakan perangkat finansial yang mendukung era berkembangnya teknologi dengan memanfaatkan dunia maya. Pelaku industri kreatif saat ini lebih banyak didominasi oleh orang-orang muda dan dikelola dengan nonformal. Namun hasil kreasi mereka sangat kreatif sehingga menjadi potensi industri dan bisnis yang menguntungkan.
Makanya harus diciptakan suasana kondusif untuk memotivasi generasi muda dalam memulai bisnis dan memberi akses-akses finansial yang berpihak kepada mereka.
Perbandingan kontribusi indutsri kreatif bagi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. Misalnya, Selandia Baru mencapai 3,1 persen dari pangsa PDB dan 3,6 persen pangsa tenaga kerjanya; Australia mencapai 3,3 persen pangsa PDB dan 3,7 persen pangsa tenaga kerjanya; dan Inggris sebesar 7,9 persen dari pangsa PDB dan 4,1 persen dari pangsa tenaga kerjanya.
Indonesia pada tahun 2006 telah menyumbang sekitar 4,75 persen dari PDB, dimana angka ini sudah berada diatas sektor listrik, gas dan air bersih. Laju pertumbuhannya sendiri sudah sebesar 7,3 persen, dimana angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri.
Industri kreatif di Indonesia adalah relatif baru sehingga belum banyak diakui sebagai penggerak roda pembangunan. Belum banyak kebijakan yang mendukung iklim kreatif, seperti misalnya perizinan, investasi, dan perlindungan hak cipta.
Kegiatan kreatif masih terkotak-kotak dan belum ada kajian rantai nilai yang utuh mulai dari kegiatan kreasi, produksi, dan distribusi, sehingga belum ada penanganan yang sistematik untuk meningkatkan peluang bisnis kreatif.
Padahal disisi lain, industri kreatif dapat memberikan kontribusi di beberapa aspek kehidupan, tidak saja dipandang dari sudut ekonomi semata, tetapi juga dapat memberikan dampak positif  kepada aspek lainnya, seperti peningkatan citra dan identitas bangsa, menumbuhkan inovasi dan kreativitas, merupakan industri yang menggunakan sumber daya yang terbarukan, serta dampak sosial yang positif.
Industri kreatif adalah industri masa depan yang bertumpu pada daya kreasi manusia. Penentu daya saing dan indikator daya saing memerlukan pemantapan dan studi lebih lanjut. Arah kebijakan seharusnya bertumpu pada: iklim yang kondusif, kemampuan penciptaan nilai kreatif, dan peningkatan permintaan. Rencana strategis perlu diuji dan disosialisasikan melalui studi lebih lanjut dan seminar dengan berbagai asosiasi dan dinas yang terkait.
Industri kreatif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan ekonomi kreatif, yang berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan keahlian, bakat, dan kreativitas sebagai kekayaan intelektual, adalah harapan bagi ekonomi Indonesia untuk dapat bersaing dan meraih keunggulan dalam ekonomi global sekarang ini.
Demi mengembangkan ekonomi kreatif ini diperlukan sinergitas antara intelektual, sektor usaha, dan pemerintah didalamnya.
Pembangunan industri di Sulsel masih bernuansa pertanian dan pengolahan (manufaktur), belum banyak menyentuh kegiatan ekonomi yang berbasis iklim pengetahuan. Sulsel yang kaya dengan keanekaragaman sumber daya manusia seharusnya menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan industri kreatif yang bersifat strategis dalam membangun sumber daya manusia. Karena itu, perlu adanya sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah Sulsel dalam meningkatkan pertumbuhan sektor pariwisata dan industri-industri kerajinan yang ada dalam rangka mensejahterakan masyarakat Sulsel.(*)

Oleh: Anas I Anwar Makatutu
Dosen Fakultas Ekonomi Unhas
Editor: Aldy
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
71863 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas