Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haruskah Beragama tanpa Tuhan?

Dalam konteks bom bunuh diri yang berlabel agama, kedua asumsi itu berlaku.

Tayang:
Dalam konteks bom bunuh diri yang berlabel agama, kedua asumsi itu berlaku. Sang eksekutor berharap balasan yang setimpal atas jasanya melenyapkan orang kafir. Di saat yang sama, mereka ingin menancapkan pengaruh bahwa cara yang paling benar untuk melawan pembangkang Tuhan adalah dengan membunuhnya.
Bom bunuh diri yang meneror Solo, 25 September lalu kian menambah daftar kejahatan terorisme di bumi pertiwi. Aksi biadab yang dimartiri Ahmad Yosepha itu sungguh melukai semangat kebersamaan kita di bawah naungan Indonesia yang bhineka. Yang lebih menyedihkan, pengeboman itu terjadi di tempat ibadah, tepatnya di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, usai jemaat melaksanakan ritual kebaktian.
Seketika itu, mestinya kita diingatkan kembali pada serentetan kasus serupa sejak 2001 silam di mana Bali menjadi saksi pertama kebrutalan manusia-manusia yang mengaku membawa panji-panji Tuhan. Mereka mati-matian membela Tuhan sampai mereka betul-betul mati.
Agama dikambinghitamkan, hak hidup manusia yang tak berdosa digilas, demi hidup bersama 72 bidadari di surga. Dengan merunut alur berpikir yang seperti ini, nampaknya kita akan mudah menyalahkan suatu entitas yang kita kenal dengan nama Tuhan.
Seolah-olah dentum bom itu adalah jawaban dari kemarahan Ilahi yang Ia tumpahkan melalui keberingasan sang ahli jihad. Benarkah Tuhan sekejam itu? Atau, apakah itu hanya luapan kebencian seorang muslim garis keras yang me-negasi kelompok lain yang ia cap kafir?    

Siapa Tuhan?
Dalam perspektif Islam, Tuhan Allah adalah sosok Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia dikenal Pengampun pada hamba-Nya yang pendosa. Ia memberi dan mencukupi apa yang diminta maupun yang tidak diminta hamba-Nya, namun tegas dalam menetapkan siksa bagi yang melampaui batas. Semua itu adalah wujud kecintaan pada dan demi kemaslahatan hamba-Nya.
Bahkan, jika dilacak dari asal katanya Allah sebenarnya mengandung konsep cinta kasih. Dalam bahasa Arab, Allah berasal dari kata walaha, yalihu, ilahan. Walaha berarti keresahan, kerinduan, dan kecintaan. Jika walaha dirubah menjadi ilah, maka maknanya berubah menjadi yang dicintai dan yang dirindukan.
Demi memperkenalkan diri-Nya di muka bumi, Ia mewakilkan diri-Nya pada manusia-manusia mulia yang kita kenal dengan nabi. Namun Ia tidak serta merta melepas mereka bak melepas ayam dari kandangnya. Ia membekali sesuatu pada diri mereka selain akal, yang dengannya Ia menampakkan diri pada segenap ciptaan-Nya. Sesuatu itu berwujud sifat.
Tuhan memiliki 99 sifat yang direpresentasi oleh nama-Nya (Asmaul Husna), dari 99 sifat itu, satu ia tanamkan di hati setiap nabi, lalu sifat itu berkembang di hati masing-masing umat mereka melalui perantaraan ajaran agama. Sifat itu tak lain tak bukan adalah cinta. Dengan keberadaan cinta itu, konflik-konflik horizontal yang dibumbui berbagai kepentingan dan perang yang dilatarbelakangi perbedaan idealisme dapat dijinakkan.
Dari sini, akan ditemukan suatu kontradiksi antara kebaikan Tuhan dengan sifat-Nya andaikata bomber-bomber itu mewakili tangan ilahi. Pertanyaannya,  mana mungkin zat Yang Maha Penyayang akan membenarkan pembunuhan atas makhluk yang tak berdosa? Jika Tuhan mencintai makhluk-Nya, maka Ia akan menghadirkan manfaat atas mereka, bukan keburukan. Oleh karena itu, Yosepha beserta para bomber pendahulunya adalah manusia yang kehilangan arah menuju tuhannya.
Dalam safari manusia menuju Rabb, mereka menempuh jalan yang berbeda-beda. Ada yang memilih jalur filsafat, adapula yang merapatkan diri bersama barisan orang-orang beragama. Terlepas dari pilihan itu, satu-satunya rel yang mengantarkan mereka menuju-Nya adalah cinta. Bahkan, Imam Al-Ghazali, filsuf yang pemikirannya menjadi rujukan di Timur dan di Barat berkata bahwa cinta adalah inti dari keberagamaan.
Hanya saja, tak jarang kecintaan yang berlebihan atas sesuatu berpotensi melahirkan fanatisme. Yosepha telah membuktikan baktinya kepada Tuhan namun ia melakukannya melalui cara yang salah, dengan mengorbankan sesama. Fanatisme seperti itu tak ubahnya seperti karakter binatang.
Manusia-manusia fanatik digerakkan oleh paham kebenarannya masing-masing.
Mereka akan bertindak sesuai apa yang dianggap benar biarpun publik menilainya buruk dan salah. Dari kecenderungan itu, ada hasil yang hendak dicapai. Asumsi pertama, mereka mengharapkan imbal besar sebab telah berjasa atas kemenangan yang diraih. Asumsi kedua, pelakunya hendak meyakinkan publik bahwa apa yang diyakininya itu benar.
Dalam konteks bom bunuh diri yang berlabel agama, kedua asumsi itu berlaku. Sang eksekutor berharap balasan yang setimpal atas jasanya melenyapkan orang kafir. Di saat yang sama, mereka ingin menancapkan pengaruh bahwa cara yang paling benar untuk melawan pembangkang Tuhan adalah dengan membunuhnya.
Itu kebenaran versi mereka. Padahal, sejauh mana pun manusia berusaha memahami-Nya, Ia akan tetap berada di luar pemahaman mereka. Mustahil yang tak sempurna memahami Yang Sempurna secara keseluruhan. Itulah mengapa Cak Nur berkata kebenaran bukan monopoli suatu golongan tertentu.

Empat Quwwah
Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Meraih Cinta Ilahi menyebutkan 4 kekuatan (quwwah) yang mendekam dalam diri manusia. Pertama, kekuatan hewanik (quwwatun bahimiyah). Kodrat hewan adalah memenuhi tuntutan hawa nafsu. Ia diciptakan hanya untuk makan, minum, dan seks. Ia selalu didorong oleh kekuatan itu sampai kebutuhan biologisnya tercukupi.
Kedua, kekuatan binatang buas atau quwwatun sab'iyah. Manusia senang menyerang sesamanya ketika mereka berbeda, mereka juga gemar mengambil hak yang bukan miliknya, dan gembira setelah lawannya dibuat tak berdaya.
Ketiga, quwwatun syaitaniah. Kekuatan ini kerap ditemukan pada perilaku koruptor negeri ini. Saat mendapat amanah mengolah pendanaan negara, para birokrat akan mencari cara agar sebisa mungkin menyelewengkan sebagian darinya.
Kekuatan setan membisikinya agar tak perlu merasa bersalah karena toh nantinya sebagian dari uang yang dikorupsi itu akan disisihkan untuk tempat-tempat ibadah, memberi makan anak yatim, atau disumbangkan ke panti-panti. Mereka yakin Tuhan memiliki kalkulasi pahala dan dosa yang adil sehingga tak perlu merasa bersalah.
Tapi, selain ketiga kekuatan yang bersumber dari hawa nafsu itu, sebagaimana cinta, Sang Maha Penyayang juga membekali kita dengan kekuatan Tuhan (quwwatun rabbaniah) yang ia tempatkan di akal masing-masing insan. Kekuatan itu bertugas meredam gejolak tiga kekuatan negatif itu. Dari ketiga kekuatan destruktif di atas, Yosepha sang suicider telah meledakkan kekuatan binatang buas (quwwatun sab'iyah) dari dalam dirinya.
Belajar dari aksi terorisme di Solo dan di sudut-sudut bumi lainnya yang berlatarbelakang pembelaan kepada Tuhan dan agama-Nya, Tuhan seakan-akan menjadi sosok yang dicintai secara berebihan sampai-sampai harus melibas nilai-nilai kemanusiaan.
Mencintai Tuhan adalah kewajiban. Bahkan Al-Amin SAW sendiri menegaskan bahwa umatnya belumlah dikatakan beriman kepada Tuhan dan Rasulnya sebelum kecintaan kepada keduanya ditempatkan di atas kecintaan kepada selain keduanya. Tapi jangan lupa, pada kesempatan lain Nabi juga berpesan: kasihilah yang ada di bumi, niscaya yang dilangit akan mengasihimu.
Tapi bilamana perlakuan berlebihan para bomber itu tak bisa dihapus dari muka bumi, namun pada saat yang sama kebaikan Tuhan harus steril dari keburukan-keburukan manusia, pertanyaan berikut patut diajukan: haruskah manusia beragama tanpa Tuhan?***

Oleh:
Andi Syurganda
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved