TribunTimur/

CITIZEN REPORTER

Tanarajae, Ekowisata Yang Mulai Memudar

Dalam beberapa tahun terakhir, tidk ada lagi paket perjalanan wisata dengan tujuan ke Tanarajae.

Tanarajae, Ekowisata Yang Mulai Memudar
Pemandangan desa nelayan di pesisir Kabupaten Pangkep. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari kota Pangkep dan masuk dalam wilayah Kecamatan Labbakkang.
Laporan:
Bahrul Ulum, Direktur Makassarpreneur
Melaporkan dari Desa Tanarajae, Pangkep

TANARAJAE adalah desa nelayan di pesisir Kabupaten Pangkep. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari kota Pangkep dan masuk dalam wilayah Kecamatan Labbakkang. 

Desa Tanarajae menjadi salah satu sasaran pendampingan kelompok usaha oleh tim konsultan Makassarpreneur, dalam rangkaian program Restoring Coastal Livelihood (RCL) atau Pemulihan Penghidupan Pesisir sejak tanggal 13-17 September 2011

Program RCL sendiri diinisiasi oleh Oxfam melalui mitra dukungan Canadian International Development Agency (CIDA) dengan Lemsa (Lembaga Maritim Nusantara) sebagai pelaksana.

Kegiatan ini berupa Program lima tahun yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dengan memanfaatkan sumberdaya alam secara berkelanjutan oleh komunitas rentan di daerah pesisir Sulawesi Selatan.

Menelusuri desa Tanarajae menjadi pengalaman menarik dengan segala potensi dan keunikan yang dimilikinya. Dengan infrastruktur jalan yang cukup baik kita akan disuguhi pemandangan ratusan hektare areal tambak ikan bandeng dan udang disisi kiri-kanan jalan.

Bukan hanya itu, kita juga bisa menyaksikan deretan indah tanaman mangrove, berbagai burung bangau/belibis, perkampungan penduduk serta alat penangkapan ikan, nelayan yang sementara memancing, dan pemandangan lainnya.

Desa Tanarajae ini oleh Pemda Pangkep merupakan salah satu destinasi ekowisatayang berbasis marine (perikanan dan kelautan) berupa potensi dan pemadangan alam yang begitu hidup, real dan khas di tengah-tengah masyarakat kabupaten Pangkep yang bermukim di daerah pesisir.

Di masa kepemimpinan bupati Pangkep terdahulu, alm. Ir H Syafrudin Nur, M.Si, beliau mendesain program pengembangan kepariwisataan daerah agar sektor kebudayaan dan pariwisata (budpar) disamping mampu memberi kontribusi bagi pelestarian lingkungan (alam, budaya) dan kesejahteraan rakyat, juga mampu mengangkat brand image Pangkep di tingkat nasional dan internasional.

Tak mengherankan bila di desa Tanarajae beberapa tahun lalu ramai berdatangan wisatawan domestik maupun mancanegara untuk merasakan eksotisme alam Tanarajae.

Para wisatawan bisa berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari penduduk dengan cara menghabiskan beberapa hari di desa ini. Beberapa rumah panggung milik penduduk yang menjadi binaan Dinas Pariwisata disediakan sebagai penginapan.

Dalam satu waktu tertentu, rombongan wisatawan asing selalu menyempatkan diri menginap di desa tradisional ini karena didukung dengan budaya masyarakatnya yang cukup terbuka

Namun kini, Potensi ekowisata Tanarajae mulai memudar. Ini tampak dari mulai tidak terawatnya beberapa fasilitas desa dan kurangnya dukungan Pemda.

Menurut pengakuan beberapa warga, Tanarajae tidak seperti dulu lagi yang ramai dikunjungi wisatawan. Dalam beberapa tahun terakhir, tidk ada lagi paket perjalanan wisata dengan tujuan ke Tanarajae.

Padahal, Tanarajae sangat potensial sebagai daerah ekowisata unggulan di Sulsel. Dengan potensi mangrove, kehidupan alam yang begitu alami dan khas, areal tambak dan pesona kehidupan alamnya menjadikan Tanarajae sebagai destinasi kegiatan perjalanan wisata yang bertanggung jawab.

Sebuah desa nelayan eksotis dimana kita bisa menikmati keindahannya juga melibatkan unsur pendidikan, pemahaman dan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi alam dan peningkatan pendapatan masyarakat setempat sekitar daerah tujuan ekowisata.(*)

Penulis: CitizenReporter
Editor: Ridwan Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help