A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Reinterpretasi Makna Pembukaan UUD 45 - Tribun Timur
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 1 Agustus 2014
Tribun Timur
Home » Opini

Reinterpretasi Makna Pembukaan UUD 45

Selasa, 16 Agustus 2011 21:28 WITA
Reinterpretasi Makna Pembukaan UUD 45
dok tribun
Hartawan MT Dosen Universitas Hasanuddin/ Mahasiswa S3 UGM Yogyakarta
PERINGATAN kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun ini (2011), memiliki persamaan dengan saat Proklamasi dikumandangkan 66 tahun yaitu, bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
Satuan umur 66 tahun merupakan ukuran  yang sudah cukup untuk melihat suatu kondisi kematangan  dan kedewasaan secara psikis dan psikologis.  
Oleh karena itu sangat wajar bilamana saat ini kita mengevaluasi diri secara dewasa dalam hal sistem ketatanegaraan kita.
Apakah ada sesuatu yang tertinggal atau melenceng dalam perjalanan bangsa, yang menjadikan bangsa ini seolah kehilangan arah dalam menentukan jalur yang akan ditempuhnya menurut cita-cita perjuangan.
Tulisan ini merupakan hadiah ulang tahun bangsaku yang ke 66 dan sebagai langkah awal untuk mengungkapkan, bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia adalah bangsa besar di dunia dengan sejumlah warisan produk pejuang yang berskala nusantara melebihi kualitas duniawi.
Salah satu diantaranya adalah warisan kemerdekaan dari kata dasar merdeka. Kata ini telah dirindukan oleh bangsa Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu dan tercantum tegas dalam teks peroklamasi dan pembukaan UUD-45. Kata merdeka didampingi sejumlah kata lain yang saling melengkapi untuk menggambarkan kondisi ideal yang dicita citakan para pejuang bangsa kita yang tertuang dalam batang tubuh pembukaan UUD-45.
Batang tubuh Pembukaan UUD-45 terdiri dari 180 kata termasuk strep ( / ) diluar judul, mengandung kata-kata duniawi dan non duniawi. Kata kata duniawi terdiri dari kata merdeka, rakyat dan pemerintah. Kata merdeka tetulis 7 kali, kata rakyat  tertulis 4 kali, dan kata pemerintah hanya tertulis 1 kali. Klausa kata  Atas rahmat Allah yang Maha Kuasa, dan frasa keinginan luhur adalah kata kata non duniawi yang mengindikasikan sebagai landasan dari segala sesuatu yang telah terjadi dan yang harus dilakukan dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan ketatanegaraan Republik Indonesia. Clausa dan frasa kata ini seolah merupakan standar ukuran kualitas pribadi pribadi pengelola bangsa. Tiga serangkai kata mulia, satu klausa kata, dan satu frasa kata yang tercantum dalam pembukaan  tersebut diatas belum terungkap secara tegas, tentang apa makna dan hakekat yang terkandung didalamnya.
Pemasalahannya adalah, Apa definisi dan bagaimana hakekat kata kata dalam pembukaan sebagaimana yang telah disepakati oleh para pejuang bangsa Indonesia pada jaman perjuangan, sehingga para pejuang kita mampu mempersatukan bangsa Indonesia mulai dari Marauke sampai Sabang. Siapa yang disebut sebagai rakyat, siapa yang disebut sebagai pemerintah, bagaimana penjabaran rahmat Allah yang maha Kuasa dan keinginan luhur adalah hal hal yang belum ditegaskan untuk digunakan sebagai dasar dalam penyelenggaraan / pelaksanaan ketatanegaraan Republik Indonesia.
Kami yakin dan percaya bahwa penegasan makna kata-kata yang terkandung dalam pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia adalah kunci untuk mencapai cita cita perjuangan kemerdekaan Indonesia yang hakiki. Karena hal tersebut telah membuktikan kesaktiaanya dan diperloleh melalui perjuangan yang sangat berat dan dalam waktu yang cukup lama. Selama lebih dari 350 tahun, pejuang bangsa ini telah mengorbankan harta, raga dan jiwa untuk mencapai kemerdekaan. Tumpahan keringat, air mata dan darah telah menyertai perjalanan perjuangan untuk meraih suatu kondisi mulia, yaitu mencapai kemerdekaan. Segala hasrat dan harapan yang terkandung dalam sanubari para pejuang tersatukan dalam makna kata merdeka. Kata yang nampak sederhana ini kemudian dikemas dalam suatu pernyataan dan penjelasan singkat namun padat, sebagaimana  yang tertuang dalam pembukaan Undang Undang Dasar 45.
 Tetapi sangat disayangkan ketika proklamasi kemerdekaan tercapai, makna yang terkandung dalam kata-kata tesebut terlupakan untuk diungkapkan. Hal ini mungkin suatu kewajaran  sebagai akibat dari percikan secuil centilan makna merdeka dari perjuangan yang panjang. Dan merupakan suatu kewajaran dan rahmat untuk kembali menyadari akan pentingnya mengungkapkan makna kata-kata dalam pembukaan UUD-45 secara lengkap dan benar pada saat ini. Untuk dilaksanakan secara murni dan konsekuen menuju Indonesia yang paripurna mengungguli bangsa-bangsa lain.
Menurut hemat kami kekisruhan yang terjadi selama ini dan yang masih berlangsung saat ini dalam penyelenggaraan ketatanegaraan kita terjadi akibat belum adanya penghayatan dan pengamalan pengertian makna kata kata yang terkandung dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945 dalam penyelenggaraan ketatanegaraan Republik Indonesia.
Pemaknaan kata-kata dalam pembukaan UUD-45 dalam penyelenggaraan ketatanegaraan NKRI tidak berarti terlupakan sama sekali. Justru dengan pemaknaan yang hanya sebagian inilah yang nampaknya merupakan pengikat persatuan bangsa sehingga kita masih utuh saat ini.  beberapa fenomena akan pemaknaan kata-kata dalam pembukaan UUD-45 yang terungkap sebagian kami gambarkan berikut.
Kata merdeka telah banyak digunakan namun masih terbatas sebagai suatu ungkapan misalnya;  kemerdekaan pers, suara merdeka, dan bahkan partai merdeka. Apa definisi yang mereka gunakan untuk mengkaitkan kata merdeka dengan ungkapannya tentunya ada menurut versi masing masing yang bersangkutan. Tetapi apakah makna yang mereka maksud, sesuai dengan nilai dan hakekat yang disepakati oleh para pejuang bangsa Indonesia.? Pertanyaan yang dapat dipastikan belum terjawab, karena penegasan makna dan hakekatnya memang belum dilakukan.
Untuk kata Rakyat, saat ini telah ada sedikit titik terang tentang siapa wakilnya yaitu anggota DPR. Seseorang yang menjadi anggota DPR akan dengan sangat tegas dan meyakinkan siapa orangnya. Namun siapa yang diwaklinya, yaitu siapa yang disebut rakyat dinegara ini, masih sangat tersamar. Akibatnya siapa yang diwakili dan apa aspirasi yang diwakili menjadi tidak jelas. Ketidak jelasan batasan ini dapat mengakibatkan terjadinya perwakilan diri sendiri atau kelompok yang mengatasnamakan rakyat.
Kata pemerintah sudah nampak dan selalu tertulis disetiap kantor-kantor penyelenggara Negara. Dalam hal ini telah pula sering terdengar pernyataan pimpinan pemerintahan bahwa suatu program akan dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah. Kata pemerintah memang sudah hampir jelas tetapi peranan dan batasannya masih belum pernah dipertegas. Untuk siapa dia memerintah dan siapa yang memerintah serta bagaimana posisinya dalam Negara masih mengambang. Ketidak jelasan batasan ini memungkinkan unsur pemerintah berperan sebagai rakyat untuk kepentingan tertentu.
Kata yang masih belum pernah tersentuh sama sekali adalah clausa kata atas rahmat Allah dan frasa kata keinginan luhur. Bagaimana implementasi makna tersebut masih merupakan impian semata.
Dengan digunakannya makna kata atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan Nilai Luhur sebagai dasar pelaksanaan ketatanegaraan, disertai  penegasan makna kata rakyat dan pemerintah maka gambaran kemerdekaan hakiki akan mudah dimaknai secara nyata. Seluruh aparat pemerintah dan aparat perwakilan harus atas rahmat Allah yang maha kuasa dan atas nilai luhur. Kondisi psikologis para penyelenggara bangsa dan perwakilan akan menjadi berkualitas. Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dan bagaimana melakukannya akan menjadi jelas. Kepada siapa mereka berbuat juga akan menjadi jelas.
Pengukuran berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan nilai luhur secara teknis dapat dilakukan dengan mudah. Seluruh aparat pemerintah dan aparat perwakilan harus memperoleh rekomendasi dari pemuka agama dan tokoh masyarakat yang ada dalam lingkungan tempat tingggalnya sepanjang umurnya dimanapun pernah dia berdomisili. Bagi aparat pemerintah yang mengaku beragama Islam misalnya dengan mudah dapat terukur, yaitu dengan melihat frekuensi shalat jamaah subuh dimasjid dekat rumahnya. Sorang muslim yang tidak melakukan shalat dapat dipastikan telah berani mengingkari amanat yang diembannya dari Yang Maha Kuasa Sang Penciptanya. Bilamana seseorang telah mempu mengabaikan amanat dari dzat yang tertinggi maka dapat dipastikan akan dengan mudah mengabaikan amanat dari sesamanya. Bagi aparat pemerintah dan perwakilan yang beragama selain Islam, pasti terdapat juga alat ukur yang dapat digunakan untuk menentukannya.   
Bilamana dasar pengukuran  pemilihan aparat negara maupun unsur-unsur perwakilan terpilih menggunakan ukuran klausa kata dan frasa kata pembukaan UUD-45 maka dapat dipastikan bahwa personil-personil yang berperan dalam kepemimpinan Indonesia adalah orang-orang yang berkualitas sesuai dengan amanat dan keinginan pejuang bangsa. Kondisi ini merupakan jaminan menuju bangsa terhormat panutan peradaban didunia.    
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu kesadaran anak anak bangsa Indonesia untuk meraih kembali warisan kemerdekaan yang tertinggal untuk digunakan sebagai pedoman pelaksanaan penyelenggaraan ketatanegaraan Republik Indonesia dimasa datang. Karena dapat diyakini dan dipastikan bahwa dengan penghayatan dan pengamalan  makna kata dalam pembukaan UUD-45 adalah kunci menuju cita cita perjuangan bangsa Indonesia yang sesungguhnya.

Oleh: Hartawan MT
Dosen Universitas Hasanuddin/Mahasiswa S3 UGM Yogyakarta
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas