PKS Pantau Pemilu Thailand
Laporan: Amru Saher, Anggota DPRD Sulsel, melaporkan dari Thailand
Penulis: CitizenReporter | Editor: Ina Maharani
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengutus delegasi untuk memantau
pelaksanaan pemilu di Thailand sejak 2 Juli 2011 kemarin. Partai terkuat
di Thailand ada tiga masing-masing Partai Phue Thai yang biasa di kenal
golongan kaos Merah, Partai Demokrat yang terkenal kalangan kaos Biru,
dan Vote-No yang terkenal kaos kuning.
Kalangan kaos kuning di Indonesia sama seperti golongan putih (golput).
Untuk fenomena Vote-No (golput), sistem pemilu di Thailand melegalkan
golput dan ada kolomnya dalam surat suara.
Pilihan untuk golput di pemilu adalah sikap politik yang legal di
Thailand. Kalangan golput ini juga mengorganisasikan diri dan ikut
kampanye juga.
Di Thailand pemilu bersifat wajib diikuti oleh seluruh masyarakat yang
disusun berdasarkan nomor di kartu keluarga (KK) atau kartu tanda
penduduk (KTP).
Bagi yang tidak ikut mencoblos akan dicabut hak politiknya berupa tidak
dapat mencalonkan diri dan tidak bisa melakukan mosi tidak percaya pada
anggota legislatif.
Selain itu, kedewasaan partai dan masyarakatnya pada saat kampanye patut
kita acungi jempol. Kampanye dilakukan pada hari yang sama tapi tidak
ada konflik terutama di daerah Bangkok. Konflik hanya terjadi di daerah
selatan Thailand seperti di Yala dan Pattani. Itupu konflik yang sudah
lama.
Proses kampanye oleh partai politik lebih didominasi dengan perang
program kerja kalau menang. Misalnya, Partai Phue Thai pimpinan Ying
Luck Sinawarta yang menawarkan Visi Thailand 2020.
Diantaranya penggelontoran dana sebesar 1 juta Bath atau sekitar Rp 300
juta per desa, pemberian gaji minimal 300 bath atau 600 ribu pebulan.
Kampanye akbarnya hanya berisi orasi-orasi calon anggota legislatif
tanpa ada hingar-bingar musik dan lain-lain. (*)