Minggu, 24 Mei 2015

Dikejar Tsunami Aceh dan Jepang

Selasa, 15 Maret 2011 08:56

Dikejar Tsunami Aceh dan Jepang
Dailymail
Kota Kisennuma, di Jepang timur laut, yang terletak dekat dengan episentrum gempa berkekuatan 9,0 telah menjadi kota api dan air, Minggu (13/3/2011), - apa yang tidak dilahap api ditenggelamkan oleh air.

Saat tsunami menerjang Aceh, Zahrul dan keluarganya selamat setelah melarikan diri dengan sepeda motor.

"Waktu itu beruntung, setelah gempa, kami pergi naik sepeda motor. Dengan demikian, saat tsunami datang, kami bisa pergi lebih cepat dibandingkan orang-orang Aceh lainnya," paparnya. Namun, rumah dan segenap isinya di Simpang Mesra, Lamgugop, Banda Aceh, rusak diterjang tsunami. Mereka pun harus menjadi pengungsi.

Setahun setelah bencana Aceh, pengajar Teknik Mesin di Universitas Syah Kuala ini mendapatkan beasiswa doktoral dari Tohoku University, Sendai, Jepang. Ia pun memboyong istrinya, Dewi Karyani, dan anak-anaknya ke Jepang. "Saya sudah enam tahun ini di Jepang dan sebenarnya sudah mau kembali ke Aceh. Tetapi, ternyata harus mengalami kembali bencana gempa besar lagi," kata Zahrul, yang kini mengambil program pascadoktoral.

Begitu gempa menggoyang Jepang, Zahrul tengah presentasi di lantai tiga kampusnya, Tohoku University. "Goyangannya keras sekali. Semua yang di ruangan langsung ke bawah meja," ujarnya.

Mahasiswa program pascadoktoral ini pun langsung teringat kenangan pahit di Aceh. Ia mengatakan, "Di Jepang sering mengalami gempa, tetapi gempa Jumat lalu beda. Rasanya mengayun lama dan sangat kuat, sekitar 2 menit, sama dengan yang saya rasakan di Aceh waktu itu. Saya langsung terpikir, pasti terjadi tsunami."

Dan, tsunami benar terjadi. Beruntung tsunami tak menjangkau kampusnya yang berjarak sekitar 15 kilometer dari laut dan posisinya cukup tinggi. Namun, Zahrul tetap harus meninggalkan Sendai dan kembali menjadi pengungsi. Kota Sendai, yang paling dekat dengan titik pusat gempa, nyaris lumpuh. Zahrul dievakuasi Tim Bantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan kini bersiap-siap pulang ke Indonesia. "Sebenarnya berat meninggalkan Jepang karena anak-anak sedang banyak tugas di sekolah. Demikian juga saya," paparnya.

Namun, Zahrul tidak memiliki banyak pilihan. "Kami harus banyak bersyukur karena masih selamat dari dua bencana terbesar yang pernah tercatat sejarah," ungkapnya.

Halaman123
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas