• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 20 September 2014
Tribun Timur

Investor Serbu Sulsel

Rabu, 9 Maret 2011 08:41 WITA
Investor Serbu Sulsel
Emas Batangan
Makassar, Tribun - Sebanyak 24 investor kakap menanamkan investasinya dengan membangun industri di Sulawesi Selatan (Sulsel) sepanjang tahun 2011 ini.
Mayoritas investor yang "menyerbu" Sulsel tersebut akan berinvestasi triliunan rupiah dengan bergerak di sektor agro industri dan pengolahan makanan. Selain itu, perusahaan tersebut bergerak di sektor manufaktur, energi, serta jasa wisata seperti perhotelan.
"Insya Allah semua masuk. Kecenderungan kita di tahun ini PMA (penanaman modal asing) kebanyakan di industri agro sebagai core kita. Industri pengolahan makanan dan jasa juga menjanjikan. Sedangkan di sektor energi meski satu atau dua (realisasi) per tahun tetapi nilainya besar," kata Kepala Badan Koordinasi Penananaman Modal (BKPMD) Sulsel, Irman Yasin Limpo, di Makassar, Selasa (9/3).
Hal tersebut dikatakan Irman usai pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) Penanaman Modal Daerah Tahun 2011 di Hotel Imperial Aryadutha, Makassar.
"Industri seperti manufacturing juga sudah masuk. Industri pariwisata juga seperti hotel serta kerja sama yang selama ini ditandatangani termasuk dalam kunjungan ke luar negeri," tambahnya.
Perusahaan yang akan masuk Sulsel, diantaranya, berasal  dari Korea Selatan (Korsel), India, Singapura, hingga Eropa, serta sejumlah perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Sehari sebelumnnya, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, rencana masuknya 24 perusahaan tersebut untuk membangun industri di Sulsel.
"Sebanyak 24 industri akan masuk ke Sulsel tahun ini karena seluruh pertanian akan diolah oleh industri yang ada. Bulan ini (Maret) mereka semua akan datang, tapi jaminannya hanya satu iklim investasi yang baik dan keamanan," kata Syahrul.




Irman menargetkan pertumbuhan investasi untuk PMA dan PMDN meningkat dua persen setiap tahunnya. Sejak awal tahun 2011 disebutkan sudah banyak investor dalam dan luar negeri yang menawarkan kerja sama investasi terutama di sektor gas.
Lingkungan investasi yang kondusif juga membuat investor betah. Data BKPMD Sulsel menyebutkan, tahun 2010 terpadat lima perusahaaan yang melakukan perluasan dengan nilai investasi untuk PMA senilai 4,164 juta dolar AS dan PMDN sebesar Rp 4,796 miliar.
Data BKPM Pusat per September 2011 menyebutkan Sulsel menempati peringkat keenam di Indonesia untuk PMA dengan nilai investasi 439,7 juta dollar AS dengan 32 proyek. Untuk PMDN menempati posisi ke-11 dengan nilai  investasi Rp 1,059 miliar dengan 22 proyek.
Selain mendorong realisasi investasi, kata Irman, tahun ini pihaknya mendorong komoditi unggulan Sulsel seperti kakao yang sudah mendapat respon dari PT Nestle.
BKPMD sudah menerima surat dari Pemerintah Swiss terkait keinginan Nestle untuk bekerja sama dengan Sulsel dalam bentuk seminar industri kakao di Makassar. "Kita berharap itu ada masukan positif supaya pihak Nestle bisa berinvestasi di Sulsel," jelasnya.
Awal Tahun
Sedikitnya, empat perusahaan sudah menyatakan komitmen menanamkan modal di daerah ini dalam pertemuan dengan Gubernur di awal tahun 2011.
Perusahaan itu di antaranya investor "kakap" asal negeri Sakura, Jepang, Shrimp Guard Japan Co.Ltd yang membawa pakar udang Jepang, Chairman Kyusu Medical Co.Ltd Hiroshi Hatano dan Director Minoru Maeda.
Shrimp Guard merupakan induk perusahaan ekspor-impor udang windu (black shrimp) sekaligus membawahi Kyusu Medical Co.Ltd sebagai pusat penelitian pengembangan.
Gubernur Syahrul juga sudah mendengar pemaparan dari investor distribusi gas, PT Bayu Buana Gemilang (BBG), Januari lalu.
Perusahaan ini menggarap pipanisasi gas di Jatim, Bekasi, dan sejumlah daerah di Indonesia ini berminat bekerja sama dengan Pemprov Sulsel melalui perusahaan daerah (perusda) untuk pembangunan instalasi gas Sengkang-Makassar. Kelak, city gas ini memanfaatkan pasokan kelebihan produksi PT Energy Equity Sengkang (EES).
 Selanjutnya, gubernur juga menerima Vice President Business Development Sintesa Group of Companies yang juga Direktur PT Sinar Indonesia Merdeka (Sindoka) Yono Reksoprodjo.
Sintesa Group melalui PT Sindoka disebutkan akan menanamkan investasi senilai 40 juta dolar AS atau mencapai Rp 400 miliar (kurs Rp 10 ribu) untuk membangun produksi energi, bio ethanol, termasuk pembangkit listrik.
Selain itu, dalam kunjungannya ke Korea Selatan, Februari lalu, Pemprov Sulsel juga melakukan pembicaraan dan perjanjian kerja sama dengan perusahaan pipa terbesar di Korsel, Pem Korea Corporation.
Perusahaan ini merupakan salah satu industri perpipaan terbesar di Korsel dengan kapasitas produksi mencapai 30.600 matrik ton (MT) per tahun atau senilai 47 juta US Dolar per tahun.
Investor Korsel berencana membangun pabrik pipa di Kawasan Industri Makassar (KIMA). Diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman teknis rencana pembangunan dengan menggandeng pengusaha lokal di daerah ini.
Sebelumnya, dalam lawatan Syahrul ke Taiwan-China, Januari 2011, "memburu" investasi bidang agribisnis padi dan jagung sekaligus studi banding pengembangan teknologi rice milling plant.
Sebagai tindak lanjut kerja sama ini, investor Taiwan akan membangun pabrik pengeringan dan pengolahan padi disejumlah daerah di Sulsel.
Sedangkan investasi PMDN besar yang sudah masuk tahun  ini yakni pembangunan kawasan wisata internasional, Gowa Discovery Park, di kawasan Somba Opu, Makassar, dengan nilai investasi mencapai Rp 45 miliar. Kawasan wisata ini dibangun pengusaha Bali asal Sulsel Zaenal Tayyeb melalui PT Wirah Mega Wisata.
Listrik
Di sektor kelistrikan, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tangka Manipi di Desa Tassililu, Kecamatan Sinjai Barat, Sinjai, diresmikan, 3 Maret lalu.
PLTA berdaya 10 megawatt (MW) ini ikut mendukung sistem kelistrikan Sulsel. PLTA dibangun PT Sulawesi Mini Hydro Power (SHMP), yang merupakan perusahaan patungan KF Fjellsikring AS dari Norwegia dengan PT Bangun Guna Graha (Indonesia) dengan total investasi 22,5 juta dolar AS. Proyek yang digagas sejak 2004 ini seharusnya selesai pada 2007.
Selanjutnya, PT SHMP dijadwalkan membangun PLTA di Buttu Batu, Enrekang. PLTA berkapasitas 100 MW ini diperkirakan akan menelan investasi hingga Rp 2 triliun dengan tahapan pembangunan dimulai akhir tahun ini.(axa)

Ketersediaan Listrik dan Regulasi

RAKOR yang berlangsung kemarin diikuti pimpinan BKPMD dari 24 kabupaten/ kota se-Sulsel dengan menghadirkan pembicara dari PT PLN Sultanbatara dan  BKPM RI.
Kepala BPPMD Sulsel Irman Yasin Limpo menjelaskan, pihaknya berharap ketersediaan energi untuk mengimbangi laju pertumbuhan investasi dan ekspansi besar- besaran sejumlah perusahaan yang sudah eksis di daerah ini.
"Perlu persiapan dalam rangka situasi investasi yang lebih baik serta adanya ekspansi yang besar dari industri yang sudah ada sekaligus persiapan untuk industri baru yang mau masuk," ujarnya.
Selain itu, rakor juga merekomendasikan ke BKPM untuk pelayanan dan dukungan pemerintah pusat terhadap fasilitasi layanan dan keberpihakan terhadap investasi di Sulsel.
Salah satunya dengan mengeluarkan regulasi yang berkait dengan kerjasama swasta dan pemerintah. Menurutnya, investasi patungan pemerintah dan swasta dibentuk dalam regulasi tersendiri. Salah satunya kecenderungan seperti di Sulsel yang semakin berkembang, namun, dukungan energi yang tidak cukup dan membutuhkan backup pemerintah.
Selain itu, regulasi untuk menyatukan semua kebijakan perizinan melalui satu pintu di instansi yang khusus menangani investasi.(axa)
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1303 articles 11 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas